ZOO "Pentas Peluncuran Album" Sabtu, 25 Juli 2009 @ Kedai Kebun
Forum, Jogjakarta – Indonesia
Jogjakarta memang kota yang terkenal akan progres para musisi/seniman-nya.
Namun dari keberagaman pelaku yang sudah muncul, bisa dibilang ZOO
yang cukup mencolok. Sebuah grup dengan minimal instrumen yang terdiri
dari bas, dram, vokal (saja) serta tambahan beberapa alat musik etnik.
Kekosonganline-up pada posisi gitar
(yang dirasa krusial dalam sebuah ben), tidak berpengaruh signifikan
terhadap komposisi musik yang dikonstruksi. Bassline yang
tebal dengan eksplorasi efek-efek maut serta daya jelajah sang dramer
yang melebihi jangkauan rudal balistik sudah cukup membangun tatanan
eksplosif.
Bagi
yang akrab dengan Naked City, The Locust, atau Melt Banana, mungkin Zoo
dapat disejajarkan. Part-part ganjil, eksplorasi sound yang
elegan, dan ritem yang non-linier adalah resep andalan yang
dipertahankan sejak kemunculan mereka.
Zoo proyek yang sudah dirancang pada 2004 dan berhasil terwujud satu
tahun kemudian.
Sedang tema yang mendasari penciptaan lirik-lirik lagu Zoo berkisar
tentang peradaban modern, kesempurnaan sekaligus ketakutan manusia,
kemerosotan akar-akar kebudayaan akibat modernisasi, juga beberapa tema
yang berusaha membangkitkan kesadaran akan pentingnya keberanian dan
kelaki-lakian.
Pada 14 Juli 2009, Zoo akhirnya merampungkan album penuh (LP) "Trilogi
Peradaban" yang resmi dirilis oleh netlabel pertama di Indonesia -
yang juga berasal dari Jogjakarta, YES NO WAVE MUSIC(YNWM).
Berisi 22 lagu yang terbagi dalam 3 babak: Neolithikum, Mesolithikum,
dan Palaeolithikum. Masing-masing babak mewakili konsep musik dan
karakteristik tema yang khas.
Sebelum "Trilogi Peradaban", Zoo pernah merilis mini album (EP) pertama
bertajuk "Kebun Binatang" di bawah bendera yang sama. Seperti
halnya EP, album "Trilogi Peradaban" ini bisa didapatkan secara
cuma-cuma alias gratis dengan cara mengunduh (download) dalam
laman YNWM.
Selain dirilis format digital, "Trilogi Peradaban" juga dirilis fisik
dalam bentuk box-set CD-R yang dijual jumlah terbatas, yaitu 100
kopi. Dengan "kemasan kolektor" dicetak dalam keping cd yang berbeda (3
cd), booklet 20 halaman, dan kotak kemasan yang terbuat dari kayu.
Merchandise ini secara resmi mulai dijual saat peluncuran album.
Khusus untuk pembeli luar kota Jogja, bisa memesannya dengan sistem 'pra-pemesanan'
sejak 15 Juli 2009 via email dengan menunjukan struk pembayaran, maka
box-set dikirim bersamaan dengan jadwal peluncuran album pada 26
Juli 2009.
Seyogyanya bagi ben yang merilis album, YNWM & Kedai Kebun Forum juga
menggelar pentas peluncuran Zoo album ini. Pukul
8.15 menit (malam) pintu masuk telah ditutup, pertanda sesi pertama
pertunjukkan akan segera dimulai.
Rully Shabara Herman/Rully
sang ujung tombak serangan menghampiri keyboard yang terletak di sudut
kiri panggung, ia melafalkan sebuah intro yang mirip sebuah mantra
sambil sesekali memainkan keyboard-nya. Ada atmosfir tertentu kala dia
mengucapkan baris demi baris yang terangkai. Lalu
Bhakti Prasetyo/Bhakti
(basis) dan dan Obet (dramer) muncul untuk "menggauli" peralatan
masing-masing. Sejurus kemudian mereka sudah berjibaku satu sama lain.
Pada disain pertunjukan, penonton diarahkan untuk melihat dan
mendengarkan sebuah pertunjukan musik dan film. Panggung dirancang
supaya pengunjung bisa menonton film sambil mendengarkan musik secara
bersamaan. Lampu
temaram yang di-set sedemikian rupa menambah khusyuk prosesi
musikal malam itu. Pada background panggung terdapat sebuah
giant screen menampilkan film hitam putih tanpa narasi yang
bertemakan peradaban manusia. Film ini merupakan hasil remix atas
film Baraka.
Musik yang dimainkan Zoo mengiringi film bisu tersebut. Seolah-olah musik Zoo bertindak sebagai scoring film.
Selain
berduet dengan film bisu, Zoo berkolaborasi dengan beberapa musisi Jogja
lainnya, diantaranya Didit (Cranial Incisored), Nadia & Dani (Armada
Racun). Mereka bersenyawa, bersatu padu.
Pertunjukan dibagi 2 sesi. Jeda antara sesi diisi dialog, dimana Zoo
mengajak penonton untuk membicarakan album "Trilogi Peradaban". Sesi
dialog ini juga digunakan sebagai konfrensi pers dengan media.
Setelah sesi dialog berakhir, giliran Zoo perform (lagi) babak
ke-dua. Rully tampil jumawa bersandang jimbe-nya (sejenis bongo) dengan
bertelanjang dada. Konsentrasi penonton tertuju ke panggung. Sementara
Rully menguasai tiap inci panggung. Kini giliran Adi Restyadi pada biola
tampil gemilang menambah efek seremonial. Tiap gesekan menghasilkan daya
tarik tersendiri dan mampu mengimbangi "kebisingan" pemain lain. Di
penghujung acara, Zoo tampil bersama para pendukung acara sekaligus.
Penonton hanya khidmat terpukau, menyimak detik-detik gelaran acara
tersebut berakhir sambil sesekali berteriak meriah.
Pertunjukan ini gratis. Namun untuk masuk ke ruang pertunjukan, penonton
WAJIB menyerahkan sebuah daun yang telah tertulis harapannya sebagai "tiket
tanda masuk". Unik. Daun ini nantinya dikumpulkan dan digunakan sebagai
arsip Zoo untuk kepentingan visual di album selanjutnya.
Pada pelataran depan venue juga menjual merchandise berupa boxset
album dan kaos. Bagi
pengunjung yang memiliki keterbatasan dana untuk membeli pernak-pernik
Zoo,
penonton bisa membawa kaos oblong sendiri untuk disablon di lokasi
pertunjukan. Dengan ongkos Rp.5000,- semua media berbasis kain dapat berhias
logo album terbaru Zoo.
Setidaknya masih ada alternatif dari peradaban baru yang penuh nilai
tukar dalam sekat ekonomi.
Report & Words: Adi Renaldi & Jurnallica (campur aduk dari dari beberapa
sumber) |
Photo: IST (more photos check
here)