RELATED REPORTS 2009

 REPORT 2008

ANGELS & AIRWAVES

AS I LAY DYING

BEHEMOTH

AVENGED SEVENFOLD

STRAIGHTOUT

PANIC AT THE DISCO

The USED

CALIBAN

JAKARTA JAM! (Day 1) [SIMPLE 

  PLAN, NEW FOUND GLORY, etc]

RUFIO

DISMEMBER (@ Jakarta Rock

  Parade)

MAGRUDERGRIND

WALLS OF JERICHO

STORY OF THE YEAR (feat. YOUR

  FAVORITE ENEMIES)

Sick of it All

KOIL

Sum 41

Comeback Kid

 

 REPORTASE

ZOO "Pentas Peluncuran Album"
Sabtu, 25 Juli 2009 @ Kedai Kebun Forum, Jogjakarta – Indonesia

Jogjakarta memang kota yang terkenal akan progres para musisi/seniman-nya. Namun dari keberagaman pelaku yang sudah muncul, bisa dibilang ZOO yang cukup mencolok. Sebuah grup dengan minimal instrumen yang terdiri dari bas, dram, vokal (saja) serta tambahan beberapa alat musik etnik. Kekosongan line-up pada posisi gitar (yang dirasa krusial dalam sebuah ben), tidak berpengaruh signifikan terhadap komposisi musik yang dikonstruksi. Bass line yang tebal dengan eksplorasi efek-efek maut serta daya jelajah sang dramer yang melebihi jangkauan rudal balistik sudah cukup membangun tatanan eksplosif.

Bagi yang akrab dengan Naked City, The Locust, atau Melt Banana, mungkin Zoo dapat disejajarkan. Part-part ganjil, eksplorasi sound yang elegan, dan ritem yang non-linier adalah resep andalan yang dipertahankan sejak kemunculan mereka. Zoo proyek yang sudah dirancang pada 2004 dan berhasil terwujud satu tahun kemudian.

Sedang tema yang mendasari penciptaan lirik-lirik lagu Zoo berkisar tentang peradaban modern, kesempurnaan sekaligus ketakutan manusia, kemerosotan akar-akar kebudayaan akibat modernisasi, juga beberapa tema yang berusaha membangkitkan kesadaran akan pentingnya keberanian dan kelaki-lakian.

Pada 14 Juli 2009, Zoo akhirnya merampungkan album penuh (LP) "Trilogi Peradaban" yang resmi dirilis oleh netlabel pertama di Indonesia - yang juga berasal dari Jogjakarta, YES NO WAVE MUSIC (YNWM). Berisi 22 lagu yang terbagi dalam 3 babak: Neolithikum, Mesolithikum, dan Palaeolithikum. Masing-masing babak mewakili konsep musik dan karakteristik tema yang khas.

Sebelum "Trilogi Peradaban", Zoo pernah merilis mini album (EP) pertama bertajuk "Kebun Binatang" di bawah bendera yang sama. Seperti halnya EP, album "Trilogi Peradaban" ini bisa didapatkan secara cuma-cuma alias gratis dengan cara mengunduh (download) dalam laman YNWM.

Selain dirilis format digital, "Trilogi Peradaban" juga dirilis fisik dalam bentuk box-set CD-R yang dijual jumlah terbatas, yaitu 100 kopi. Dengan "kemasan kolektor" dicetak dalam keping cd yang berbeda (3 cd), booklet 20 halaman, dan kotak kemasan yang terbuat dari kayu. Merchandise ini secara resmi mulai dijual saat peluncuran album. Khusus untuk pembeli luar kota Jogja, bisa memesannya dengan sistem 'pra-pemesanan' sejak 15 Juli 2009 via email dengan menunjukan struk pembayaran, maka box-set dikirim bersamaan dengan jadwal peluncuran album pada 26 Juli 2009.

Seyogyanya bagi ben yang merilis album, YNWM & Kedai Kebun Forum juga menggelar pentas peluncuran Zoo album ini. Pukul 8.15 menit (malam) pintu masuk telah ditutup, pertanda sesi pertama pertunjukkan akan segera dimulai. Rully Shabara Herman/Rully sang ujung tombak serangan menghampiri keyboard yang terletak di sudut kiri panggung, ia melafalkan sebuah intro yang mirip sebuah mantra sambil sesekali memainkan keyboard-nya. Ada atmosfir tertentu kala dia mengucapkan baris demi baris yang terangkai. Lalu Bhakti Prasetyo/Bhakti (basis) dan dan Obet (dramer) muncul untuk "menggauli" peralatan masing-masing. Sejurus kemudian mereka sudah berjibaku satu sama lain.

Pada disain pertunjukan, penonton diarahkan untuk melihat dan mendengarkan sebuah pertunjukan musik dan film. Panggung dirancang supaya pengunjung bisa menonton film sambil mendengarkan musik secara bersamaan. Lampu temaram yang di-set sedemikian rupa menambah khusyuk prosesi musikal malam itu. Pada background panggung terdapat sebuah giant screen menampilkan film hitam putih tanpa narasi yang bertemakan peradaban manusia. Film ini merupakan hasil remix atas film Baraka. Musik yang dimainkan Zoo mengiringi film bisu tersebut. Seolah-olah musik Zoo bertindak sebagai scoring film.

Selain berduet dengan film bisu, Zoo berkolaborasi dengan beberapa musisi Jogja lainnya, diantaranya Didit (Cranial Incisored), Nadia & Dani (Armada Racun). Mereka bersenyawa, bersatu padu.

Pertunjukan dibagi 2 sesi. Jeda antara sesi diisi dialog, dimana Zoo mengajak penonton untuk membicarakan album "Trilogi Peradaban". Sesi dialog ini juga digunakan sebagai konfrensi pers dengan media.

Setelah sesi dialog berakhir, giliran Zoo perform (lagi) babak ke-dua. Rully tampil jumawa bersandang jimbe-nya (sejenis bongo) dengan bertelanjang dada. Konsentrasi penonton tertuju ke panggung. Sementara Rully menguasai tiap inci panggung. Kini giliran Adi Restyadi pada biola tampil gemilang menambah efek seremonial. Tiap gesekan menghasilkan daya tarik tersendiri dan mampu mengimbangi "kebisingan" pemain lain. Di penghujung acara, Zoo tampil bersama para pendukung acara sekaligus. Penonton hanya khidmat terpukau, menyimak detik-detik gelaran acara tersebut berakhir sambil sesekali berteriak meriah.

Pertunjukan ini gratis. Namun untuk masuk ke ruang pertunjukan, penonton WAJIB menyerahkan sebuah daun yang telah tertulis harapannya sebagai "tiket tanda masuk". Unik. Daun ini nantinya dikumpulkan dan digunakan sebagai arsip Zoo untuk kepentingan visual di album selanjutnya.

Pada pelataran depan venue juga menjual merchandise berupa boxset album dan kaos. Bagi pengunjung yang memiliki keterbatasan dana untuk membeli pernak-pernik Zoo, penonton bisa membawa kaos oblong sendiri untuk disablon di lokasi pertunjukan. Dengan ongkos Rp.5000,- semua media berbasis kain dapat berhias logo album terbaru Zoo. Setidaknya masih ada alternatif dari peradaban baru yang penuh nilai tukar dalam sekat ekonomi.

Report & Words: Adi Renaldi & Jurnallica (campur aduk dari dari beberapa sumber) | Photo: IST (more photos check here)