RELATED REPORTS 2009

 REPORT 2008

ANGELS & AIRWAVES

AS I LAY DYING

BEHEMOTH

AVENGED SEVENFOLD

STRAIGHTOUT

PANIC AT THE DISCO

The USED

CALIBAN

JAKARTA JAM! (Day 1) [SIMPLE 

  PLAN, NEW FOUND GLORY, etc]

RUFIO

DISMEMBER (@ Jakarta Rock

  Parade)

MAGRUDERGRIND

WALLS OF JERICHO

STORY OF THE YEAR (feat. YOUR

  FAVORITE ENEMIES)

Sick of it All

KOIL

Sum 41

Comeback Kid

 

 REPORTASE

The ROOTS OF SEATTLE SOUND
Kamis, 28 Mei 2009 @ Prost Beer House, Kemang, Jakarta – Indonesia

Grunge, Akankah Sekedar Masa Lalu?

 

Pada akhirnya, ruang di depan panggung dalam sebuah kafe di sudut Kemang, Jakarta Selatan, itu kembali sepi. Sejak awal, gig itu memang tidak berhasil membuat Prost Beer Café pada Jumat malam (28/5) sesak oleh pengunjung. Apakah ini terjadi karena musik yang dimainkan oleh pemusik di atas panggung disebut sebagai "grunge"?

Dan entah sebab apa pula, panitia memberi tajuk gig tersebut dengan “The Roots of Seattle Sounds”. Judul tersebut mengesankan seolah-olah grunge sudah jauh terbenam dan kembali meringkuk di lembabnya cuaca Seattle, kota kecil di Washington, Amerika Serikat, yang sering disebut-sebut sebagai tanah air grunge.

Dalam periode ledakannya, grunge memang tidak sekedar dicatat sebagai genre semata. Mereka lahir dan menguasai dunia pada saat angin politik sedang bergerak untuk perubahan besar. Seperti FLOWER GENERATION pada 1960-an yang lahir karena kekesalan akibat Perang Vietnam, grunge -mesti tidak terkait langsung dengan politik internasional kala itu- muncul di masa transisi berakhirnya perang dingin antara blok barat dan blok timur.

Entah kebetulan atau tidak, hingar-bingar grunge mereda seiring dengan meredanya ideologi komunisme yang diwakili Uni Soviet sebagai lawan tanding kapitalisme-liberal yang digenggam Amerika Serikat. Tahun 1994 mungkin bisa dicatat sebagai turning point of grunge. Pada tahun kelam itu, kematian Kurt Cobain pada 8 April 1994 membubarkan salah satu ikon Seattle Sound, NIRVANA.

Pada tahun yang sama, PEARL JAM membatalkan konser musim panas. Salah satu mainstreams of Seattle Sound itu keberatan terhadap agen tiket mereka, Ticketmaster yang memasang tarif konser mereka terlalu mahal. Seakan menggelinding, keruntuhan grunge dilanjutkan dengan penampilan terakhir ALICE IN CHAINS pada 1996. Enam tahun setelah itu, vokalis Alice in Chains, Layne Staley, tewas karena overdosis setelah mengasingkan diri.

Pada tahun kematian Staley, dua punggawa Seattle Sound lainnya, SOUND GARDEN dan SCREAMING TREES, meluncurkan rekaman terakhir lewat album "Down on the Upside" dan "Dust". Setelah rentetan peristiwa itu, grunge seperti memilih diam dan menyendiri di Seattle. Kini, barangkali hanya Pearl Jam yang menjadi simbol eksistensi kejayaan grunge. Kemunculan album "Riot Act" yang elegan pada 2002, seperti menjadi seruan pengingat awak Seattle Sound kepada penggila grunge di seluruh dunia: “kami masih ada.”

 

Lalu, apakah makna gig “The Roots of Seattle Sound” dengan beban sejarah grunge yang tak manis itu?

 

Sebagaimana Rock &  Roll dan Flower Generation, grunge juga sebuah gerakan kebudayaan. Kemunculannya menciptakan sesuatu yang masif sebagaimana disyaratkan dalam budaya populer. Hingga pertengahan 1990-an, berpenampilan belel plus sepatu Converse All Star seperti Kurt Cobain dan mengenakan kemeja kotak-kotak serta sepatu boot ala pekerja Amerika Serikat menjadi sesuatu yang fashionable bagi jutaan anak muda di seluruh dunia.

Lebih dari itu, grunge menjadi sisi lain dari situasi modernitas Amerika Serikat yang berhasil menjadi penguasa tunggal dunia paska keruntuhan Uni Soviet. Lirik yang satir disertai distorsi yang kelam dan bising, seolah menunjukkan bahwa di negara itu kegelisahan masyarakatnya cukup serius.

Kegelisahan masyarakat modern itu hendak pula ditunjukkan dengan cara menentang kemewahan yang digelar musisi glam rock yang sedang meraja sebelum kemunculan grunge. Grunge melakukan gerakan anti-kemapanan dengan menolak pengembang rambut, tata cahaya panggung yang gemerlap, dan aksi panggung yang direkayasa sebelum pertunjukan.

Apakah makna itu sampai di Prost Beer, sebuah kafe di negara dunia ketiga yang sedang dihantui band pop melayu yang menyanyikan cinta dengan cara yang “rendah” di seluruh media massa?

Sebuah kejayaan, jika tidak dipelihara dan dimaknai dengan baik, hanya akan jatuh pada romantisme masa lalu. Bukan tidak mungkin, sepinya Prost Beer di penghujung “The Roots of The Seattle Sound” itu menunjukkan bahwa grunge hanya menyisakan “kenangan” bukan “gerakan” dari sebuah scene musik. “The Roots” yang hanya menjadi judul dan ajang reuni, bukan sebuah perjumpaan yang memberi inspirasi.

Tapi baiklah, apapun itu, setidaknya gig itu berupaya memperdengarkan grunge. Ada beberapa band yang saya kira perlu diceritakan penampilannya.

 

Pertama, si jelita itu bernama Shinta. Perempuan mungil nan manis itu menjadi frontwoman sebagai pemetik bas dan penyanyi utama dalam trio SONIC DEATH. Setelah membawakan beberapa lagu dari HOLE, dia menutup penampilannya dengan membawakan “Drunken Butterfly” milik SONIC YOUTH.

Band ini memang dikenal sebagai pembawa lagu-lagu Sonic Youth. Namun, Shinta terlalu jelita, jari mungil yang bergerak pada fret basnya terlalu cantik untuk musik seperti Sonic Youth. Tapi tidak, tentu itu bukan ukuran untuk menilai suatu penampilan. Hanya saja, aura semrawut yang biasa terpancar dalam video-video konser seniman grunge tidak hidup pada band ini.

Lagipula, pemain gitar Sonic Death tampak begitu rapi memainkan lagu-lagu malam itu. Maksud psychedelia dan keliaran dalam sound eksperimental Sonic Youth seperti terlalu sempurna di tangan Sonic Death!

Selanjutnya, saya terkesan oleh BESOK BUBAR. Sebagaimana lazimnya gig grunge di mana pun, Besok Bubar membawakan Nirvana. “In Bloom” dipilih menjadi lagu pembuka. Sang vokalis bernyanyi cukup baik dengan sound gitar yang tidak sembarangan. Penampilan Besok Bubar untuk sementara menghancurkan kekesalan terhadap peniru Nirvana yang tak mengerti kedalaman Kurt Cobain.

Besok Bubar berhasil membakar semangat mencapai puncak dengan “Smells Like Teen Spirit”. Sayang, penampilan band ini menjadi anti-klimaks karena seorang pria yang saya tidak tahu berasal dari negara mana tiba-tiba naik ke panggung. Seperti mabuk alkohol, dalam bahasa Inggris pria tersebut minta diiringi menyanyikan “Last Caress”-nya band punk rock MISFITS.

Sejak itu, penampilan band selanjutnya menjadi tidak bergairah. Besok Bubar tidak melanjutkan penampilannya usai si pria pengacau turun panggung. Tabiat seperti ini sebenarnya tidak boleh dilanjutkan. Bagaimanapun, bagi pemusik yang sedang tampil, panggung ibarat kuil bagi biarawan. Insiden seperti itu jelas merusak konsentrasi dan kenikmatan bermusik!

Apa yang saya duga di awal tulisan ini, bahwa acara ini bisa jatuh pada romantisme dan reuni kian tampak di penghujung acara. Sejak awal acara, memang band-band yang tampil seolah menyajikan ragam muasal genre grunge. Selain hits Nirvana, Pearl Jam, Sound Garden, Alice In Chains, nama-nama yang tidak terlalu mainstream seperti MAD SEASON, MUDHONEY, TAD, juga terpancar dari panggung.

Ruang romantisme dan reuni itu adalah ALIENS SICK. Band grunge yang lumayan dikenal di scene lokal ini membuka panggung dengan “Glorified” milik Pearl Jam. Suasana semakin terasa grunge ketika Aliens Sicks mengiringi Anda (eks-gitaris Bunga), Toni Viali (vokalis Bunga), dan Dendi (vokalis kunci) menyanyikan hit Sound Garden nan megah: “Spoon Man”.

Selanjutnya, panggung nostalgik itu menghabiskan tiga nomor dari Pearl Jam, yakni “Yellowledbetter”, “I am Mine”, dan “Elderly Woman”. Tony Bunga kali ini bertindak sebagai penyanyi utama. Mendengarkan Tony bernyanyi, jelaslah bahwa Tony adalah salah satu penyanyi grunge yang paling soulfull di Indonesia.

Pada akhirnya, generasi dekade grunge Indonesia itu tenggelam dalam “River of Deceit”, sebuah lagu indah yang diciptakan oleh band semi permanen Mad Season, dengan Mike Mcready (gitaris Pearl Jam) dan Layney Staley sebagai dua personilnya. Cara mereka menyenandungkan lirik dan irama dalam “River of Deceit”, seolah menunjukkan mereka rindu terhadap masa yang jauh di kehidupan lampau mereka. Masa dimana keputusasaan diterjemahkan dalam musik bernama grunge. 

 

 

The River of Deceit pulls down

The only direction of flow is down

 

Down,oh down

Down,oh down

Down,oh down

Down,oh down

 

(Riverof Deceit, Mad Season)

 

Report: Jurnallica (Hervin) | photo: Nanda