HAVE HEART "Indonesia Tour 2009" 15 Mei 2009 @ DeJavu Café, Jakarta - Indonesia
Rehat dari aktifitas
pemilu, pentas musik ben luar kembali mewarnai ibu kota. Meski
calon pemimpin negara baru beserta wakilnya belum terpilih, tapi rasanya
cukup kondusif lah untuk meng-arrange suatu gig,
khususnya ben impor. Kali ini kedatangan tamu ben hardcore straight edge dari Boston, Massachussetts, Amerika,
HAVE HEART (HH). Sebelum menghabiskan masa tur Asia-nya ke Malaysia
dan Singapura, ben kalangan artis BRIDGE NINE Records ini bertandang live di Jakarta pada 15 Mei 2009.
Ok, let's start
this... Kami datang menuju
lokasi awal (Stardust cafe) jam 8 malam. Yah, sebenarnya telat 2 jam dari
jadwal formalitas di pamflet. Tapi, tak perlu khawatir akan tertinggal apapun, mengingat budaya
jam karet yang selalu melekat pada bangsa ini. Dan, prejudis kami membenarkan
sikon saat itu.
Sesampai di lantai 14 gedung Sarinah, ternyata…
cling! Tak nampak seliweran para HC kids yang bergaya tough-guy. Hening...
Kemana gerangan? Lantas petugas Stardust mengalihkan kalau acara
pindah ke DeJavu.
Puufff!!!
Saya memang tak tahu
acara mendadak pindah. Untungnya jarak
Stardust dengan DeJavu tak begitu jauh. Kedua venue
tersebut ini memang sering dijadikan alternatif gigs musik komunitas indie/underground
di Jakarta.
Dengan terpaksa kami
berjalan (kurang lebih) 300 meter dan membiarkan kendaraan kami berdiam parkir
di sekitar Sarinah. Mengingat rute jalan kendaraan nyatanya tak lebih praktis.
Huh!
Ini membuat
mood kami
buyar. Sampai di DeJavu pun acara
masih belum mulai.
Hingga lewat dari jam 9 malam, barulah show berlangsung. Dan seperti biasa, beberapa ben hardcore lokal turut
meramaikan suasana. Hanya hitungannya terlalu rame, yaitu:
THINGKING STRAIGHT, DEAD PITS, OUTRIGHT, LOST SIGHT, FINAL ATTACK,
ARMSWITH. Maka, demi efisiensi waktu -karena mulainya juga telat- setiap jatah
ben
manggung harus di-diskon.
DeJavu
memang tak lebih besar
(atau sekitar setengah) dari Stardust. Namun venue malam itu tetap tak padat penonton, walau masih banyak pengunjung di luar venue enggan untuk
masuk. Yah, sepertinya kalian tau sendiri alasannya kenapa hehehe...
Kerapatan massa mulai
tampak saat kelima personil HH; Pat Flynn (vokal), Ryan Hudon (gitar),
Key Yasui (gitar), Ryan Briggs (bass), Shawn Costa
(dram) bersiap-siap di panggung yang tak berjarak dengan penonton. "Life is Hard Enough"
adalah
pancingan tepat untuk merefleksikan crowds kalap di arena pit. Lagu yang singkat dan straight to the point.
Memang menarik untuk pemanasan.
Buat kalian yang into old-school hardcore/youth crew, konsep HH
memang tidak ada yang spesial, bahkan stereotipikal. Setidaknya materi
HH di album "The Things We Carry" (2006) lebih friendly dibanding progres rekaman terakhir-nya "Songs to Scream at the
Sun" (2008). Dengan karakter vokal (sedikit) epik, tempo lambat (namun
tidak sludge), dan sound hardcore modern.
Perubahan konsep setipe
memang banyak terjadi pada
ben hardcore hari ini. Seperti contohnya; COMEBACK KID (CBK) di album terakhirnya "Broadcasting...",
yang tahun
lalu pernah tur ke Indonesia. Dan tak menutup
kemungkinan fans akan menghindar pada band yang mengalami progres.
Vokalis CBK, Andrew Neufeld
juga mengakui hal tersebut; "Banyak orang lebih menyukai
album pertama kami. Tentu kami juga kehilangan core fans kami."
Judgement kami
setidaknya terbukti, crowds
serasa enggan liar dengan beberapa trak dari "Songs...".
Karena rasanya melompat juga nanggung. Dalam
hitungan (sekitar)
1 jam HH menumpahkan hampir seluruh lagunya, a.l.: "Watch Me Sink", "On the Bird in the Cage", "The Unbreakable",
"Something More Than Ink", "Armed with a Mind", "The Same Sun", dll.
Apalagi band yang baru terbentuk pada 2002 (namun panggung pertama-nya
mulai Juli
2003) ini baru memiliki stok 2 album; "The Things We Carry"
&
"Songs to Scream at the Sun" (keduanya dirilis Bridge Nine
Records) dan 1 album mini "What Counts" (2003, Think Fast!
Records).
Pat
seringkali berbaur ke tengah liarnya crowds. Membuat mic yang
dipegangnya tak lagi diperani
seorang vokalis. Sebelum menyudahi performance lewat
"Watch Me Rise", Pat seperti mencurahkan rasa simpatik pada
sikon di
Indonesia. Dan, hey, Pat menutup salam dengan kata "Assalamualaikum".
Lalu mengulanginya beberapa kali. Crowds pun membalikan dengan jawaban "Walaikumsalam".
Ucapan terakhirnya
itu agak membuat saya curious. Dalam suasana kru HIT N RUN
dan personil HH membenahkan equipments dan sound system, saya
melihat Pat duduk bersandar terkulai lelah. Saya coba mendekatinya dengan
sedikit berbasa-basi. Hingga pada momennya saya langsung menanyakan ucapan yang
membuat saya curious tadi; “Apa kamu ngerti
dengan kata Assalamualaikum?”, tanya saya.
“Oh, yeah!”, jawab Pat simpel.
Kemudian Pat kembali mengulangi salam ala muslim
tadi dengan cara mengepalkan tangannya yang diadukan ke kepalan tangan
saya. Well, tanpa bermaksud mengkritisi, saya langsung mengalihkan ke pembicaraan lain.
“Bagaimana acara malam ini?”, lanjut saya.
Dengan nada yang menggebu namun
berparas lelah berat, Pat
menjawab “kalau perlu saya beri 3 thumbs.” Sambil menunjukkan
ketiga jemarinya.
“Yang bener nih?,” pancing saya.
“Ya!”, jawabnya tegas.
“Apa itu selama di Asia saja?”, sambung saya.
Sedikit terdiam dan berpikir, “Kalau perlu di seluruh dunia. Seperti saya
bilang, saya beri 3 thumbs”.
Wow, sepertinya Indonesia menjadi petualangan
paling berkesan baginya. Entah karena crowds-nya, konsep gig-nya,
atau rasa simpati akan pruralis di negara ini. Namun mengingat matanya hampir tertutup karena
lelah dan
keringat masih membasahi tubuhnya, saya terpaksa menyudahi percakapan dan sedikit memberi kenang-kenangan.
Saat saya beranjak dari
bangku dan belum menoleh ke belakang menghadap wajahnya, Pat langsung menyahut saya dengan
(kembali) memberi salam;
“Assalamualaikum”.