RELATED REPORTS 2009

 REPORT 2008

ANGELS & AIRWAVES

AS I LAY DYING

BEHEMOTH

AVENGED SEVENFOLD

STRAIGHTOUT

PANIC AT THE DISCO

The USED

CALIBAN

JAKARTA JAM! (Day 1) [SIMPLE 

  PLAN, NEW FOUND GLORY, etc]

RUFIO

DISMEMBER (@ Jakarta Rock

  Parade)

MAGRUDERGRIND

WALLS OF JERICHO

STORY OF THE YEAR (feat. YOUR

  FAVORITE ENEMIES)

Sick of it All

KOIL

Sum 41

Comeback Kid

 

 REPORTASE

HAVE HEART "Indonesia Tour 2009"
15 Mei 2009 @ DeJavu Café, Jakarta - Indonesia

Rehat dari aktifitas pemilu, pentas musik ben luar kembali mewarnai ibu kota. Meski calon pemimpin negara baru beserta wakilnya belum terpilih, tapi rasanya cukup kondusif lah untuk meng-arrange suatu gig, khususnya ben impor. Kali ini kedatangan tamu ben hardcore straight edge dari Boston, Massachussetts, Amerika, HAVE HEART (HH). Sebelum menghabiskan masa tur Asia-nya ke Malaysia dan Singapura, ben kalangan artis BRIDGE NINE Records ini bertandang live di Jakarta pada 15 Mei 2009.

Ok, let's start this... Kami datang menuju lokasi awal (Stardust cafe) jam 8 malam. Yah, sebenarnya telat 2 jam dari jadwal formalitas di pamflet. Tapi, tak perlu khawatir akan tertinggal apapun, mengingat budaya jam karet yang selalu melekat pada bangsa ini. Dan, prejudis kami membenarkan sikon saat itu. Sesampai di lantai 14 gedung Sarinah, ternyata… cling! Tak nampak seliweran para HC kids yang bergaya tough-guy. Hening... Kemana gerangan? Lantas petugas Stardust mengalihkan kalau acara pindah ke DeJavu. Puufff!!!

Saya memang tak tahu acara mendadak pindah. Untungnya jarak Stardust dengan DeJavu tak begitu jauh. Kedua venue tersebut ini memang sering dijadikan alternatif gigs musik komunitas indie/underground di Jakarta. Dengan terpaksa kami berjalan (kurang lebih) 300 meter dan membiarkan kendaraan kami berdiam parkir di sekitar Sarinah. Mengingat rute jalan kendaraan nyatanya tak lebih praktis. Huh!

Ini membuat mood kami buyar. Sampai di DeJavu pun acara masih belum mulai. Hingga lewat dari jam 9 malam, barulah show berlangsung. Dan seperti biasa, beberapa ben hardcore lokal turut meramaikan suasana. Hanya hitungannya terlalu rame, yaitu: THINGKING STRAIGHT, DEAD PITS, OUTRIGHT, LOST SIGHT, FINAL ATTACK, ARMSWITH. Maka, demi efisiensi waktu -karena mulainya juga telat- setiap jatah ben manggung harus di-diskon.

DeJavu memang tak lebih besar (atau sekitar setengah) dari Stardust. Namun venue malam itu tetap tak padat penonton, walau masih banyak pengunjung di luar venue enggan untuk masuk. Yah, sepertinya kalian tau sendiri alasannya kenapa hehehe...

Kerapatan massa mulai tampak saat kelima personil HH; Pat Flynn (vokal), Ryan Hudon (gitar), Key Yasui (gitar), Ryan Briggs (bass), Shawn Costa (dram) bersiap-siap di panggung yang tak berjarak dengan penonton. "Life is Hard Enough" adalah pancingan tepat untuk merefleksikan crowds kalap di arena pit. Lagu yang singkat dan straight to the point. Memang menarik untuk pemanasan.

Buat kalian yang into old-school hardcore/youth crew, konsep HH memang tidak ada yang spesial, bahkan stereotipikal. Setidaknya materi HH di album "The Things We Carry" (2006) lebih friendly dibanding progres rekaman terakhir-nya "Songs to Scream at the Sun" (2008). Dengan karakter vokal (sedikit) epik, tempo lambat (namun tidak sludge), dan sound hardcore modern.

Perubahan konsep setipe memang banyak terjadi pada ben hardcore hari ini. Seperti contohnya; COMEBACK KID (CBK) di album terakhirnya "Broadcasting...", yang tahun lalu pernah tur ke Indonesia. Dan tak menutup kemungkinan fans akan menghindar pada band yang mengalami progres. Vokalis CBK, Andrew Neufeld juga mengakui hal tersebut; "Banyak orang lebih menyukai album pertama kami. Tentu kami juga kehilangan core fans kami."

Judgement kami setidaknya terbukti, crowds serasa enggan liar dengan beberapa trak dari "Songs...". Karena rasanya melompat juga nanggung. Dalam hitungan (sekitar) 1 jam HH menumpahkan hampir seluruh lagunya, a.l.: "Watch Me Sink", "On the Bird in the Cage", "The Unbreakable", "Something More Than Ink", "Armed with a Mind", "The Same Sun", dll. Apalagi band yang baru terbentuk pada 2002 (namun panggung pertama-nya mulai Juli 2003) ini baru memiliki stok 2 album; "The Things We Carry" & "Songs to Scream at the Sun" (keduanya dirilis Bridge Nine Records) dan 1 album mini "What Counts" (2003, Think Fast! Records).

Pat seringkali berbaur ke tengah liarnya crowds. Membuat mic yang dipegangnya tak lagi diperani seorang vokalis. Sebelum menyudahi performance lewat "Watch Me Rise", Pat seperti mencurahkan rasa simpatik pada sikon di Indonesia. Dan, hey, Pat menutup salam dengan kata "Assalamualaikum". Lalu mengulanginya beberapa kali. Crowds pun membalikan dengan jawaban "Walaikumsalam".

Ucapan terakhirnya itu agak membuat saya curious. Dalam suasana kru HIT N RUN dan personil HH membenahkan equipments dan sound system, saya melihat Pat duduk bersandar terkulai lelah. Saya coba mendekatinya dengan sedikit berbasa-basi. Hingga pada momennya saya langsung menanyakan ucapan yang membuat saya curious tadi; “Apa kamu ngerti dengan kata Assalamualaikum?”, tanya saya.

“Oh, yeah!”, jawab Pat simpel.

Kemudian Pat kembali mengulangi salam ala muslim tadi dengan cara mengepalkan tangannya yang diadukan ke kepalan tangan saya. Well, tanpa bermaksud mengkritisi, saya langsung mengalihkan ke pembicaraan lain.

“Bagaimana acara malam ini?”, lanjut saya.

Dengan nada yang menggebu namun berparas lelah berat, Pat menjawab “kalau perlu saya beri 3 thumbs.” Sambil menunjukkan ketiga jemarinya.

“Yang bener nih?,” pancing saya.

“Ya!”, jawabnya tegas.

“Apa itu selama di Asia saja?”, sambung saya.

Sedikit terdiam dan berpikir, “Kalau perlu di seluruh dunia. Seperti saya bilang, saya beri 3 thumbs”.

Wow, sepertinya Indonesia menjadi petualangan paling berkesan baginya. Entah karena crowds-nya, konsep gig-nya, atau rasa simpati akan pruralis di negara ini. Namun mengingat matanya hampir tertutup karena lelah dan keringat masih membasahi tubuhnya, saya terpaksa menyudahi percakapan dan sedikit memberi kenang-kenangan.

Saat saya beranjak dari bangku dan belum menoleh ke belakang menghadap wajahnya, Pat langsung menyahut saya dengan (kembali) memberi salam; “Assalamualaikum”.

Oh... nice.

Report & photo: Jurnallica