RELATED REPORTS 2009

 REPORT 2008

ANGELS & AIRWAVES

AS I LAY DYING

BEHEMOTH

AVENGED SEVENFOLD

STRAIGHTOUT

PANIC AT THE DISCO

The USED

CALIBAN

JAKARTA JAM! (Day 1) [SIMPLE 

  PLAN, NEW FOUND GLORY, etc]

RUFIO

DISMEMBER (@ Jakarta Rock

  Parade)

MAGRUDERGRIND

WALLS OF JERICHO

STORY OF THE YEAR (feat. YOUR

  FAVORITE ENEMIES)

Sick of it All

KOIL

Sum 41

Comeback Kid

 

 REPORTASE

GRUNGE GODS 2
Senin, 13 April 2009 @ Prost Beer House, Kemang, Jakarta - Indonesia

Sebenarnya tribute gigs itu tidak bisa dijadikan tolak-ukur kebesaran/ kemajuan suatu scene musik. Karena isinya hanyalah orang-orang yang ingin mendengarkan lagu-lagu favorit kenangan mereka di masa lalu. Ya, hanya sebatas untuk kenangan nostaljik saja. Seperti yang sedang marak di Jakarta saat ini; “Tribute Gigs”! Dan biasanya, itu petanda kalau kamu sudah mulai tua kalau kamu sudah menikmati datang ke gigs tersebut! Ah tidak, sepertinya hal tersebut juga melanda kami...

Gig tribut bertitel “Grunge Gods II” kali ini adalah mengenang kejayaan Seattle Sounds di era 90-an dulu, setelah gig “Grunge Gods I” beberapa waktu lalu yang diadakan di Bandung. Sebenarnya yang membuat kami tertarik untuk menghadiri gig ini adalah tampilnya beberapa selebritis/musisi dari industri musik (mainstream) Indonesia untuk memainkan tembang-tembang grunge lawas.

Kami masuk ketika Sonic Death, salah satu band pembuka yang cukup dikenal di scene grunge lokal sedang tampil di atas panggung. Trio noise-rock/post-punk/riot-grrrl dengan front-woman pada bassist ini memainkan lagu-lagu sendiri mereka, plus lagu cover “Drunken Butterfly” milik Sonic Youth. Setelah itu, tampil Stigmata yang khusus meng-cover lagu-lagu dari Stone Temple Pilots (STP), antara lain; “Unglued”, “Plush”, “Sex Type Thing”, dll. Meskipun mereka bermain buruk, tapi tetap bisa menghibur para penggemar STP.

Alien Sick adalah penampilan berikutnya. Permainan mereka cukup rapih, terutama permainan solo gitar yang rockin’. Mereka memainkan lagu-lagu dari debut CD-nya. Lalu mereka mengundang vokalis tamu, Anda Perdana ke panggung untuk menyanyikan beberapa lagu cover, seperti “Would?” (Alice In Chains), “Jeremy” (Pearl Jam), dan “Spoonman” (Soundgarden). Crowds yang tadinya adem-ayem langsung memanas dengan melakukan stage-diving dan moshing!

Setelah mosh-pit dipanaskan oleh Alien Sick, kini giliran Konspirasi. Ini grup grunge all-star karena berisi beberapa musisi papan atas Indonesia, yakni: Edwin (Cokelat) pada gitar, Marcell (solo singer R&B itu, ex-Puppen, ex-Experimental Jetsets, Kraken) pada dram, Chandra (Cupumanik) pada vokal dan seorang bassis. Mereka memainkan lagu-lagu sendiri yang heavy-rock/post-grunge plus cover version dari Stone Temple Pilots (“Down”), Alice In Chains (“Them Bones”), Pearl Jam (“Alive” & “Black”). Well, kita tunggu saja album rekaman mereka.

Selanjutnya, trio alternative-rock berbakat asal Bandung, ZU membuka panggung dengan tembang “Go!” milik Pearl Jam. Setelah itu Zu mengundang Aryo Wahab (ex-SOG, that solo-singer dude & actor dude!) untuk menyanyikan lagu “Alive” dari Pearl Jam. Kemudian mereka mengundang lagi Ipang (ex-Plastik & BIP) dan vokalis band Kunci untuk menyanyikan anthem milik Stone Temple Pilots yakni “Interstate Love Song”. Sebuah aksi panggung yang cukup langka nih. Setelah para vokalis tamu itu turun, Zu melanjutkan set-nya dengan lagu-lagu sendiri yang condong ke modern-rock/alternative-rock, plus lagu cover “The Best of You”-nya Foo Fighters.

Ya, memang acara ini hanya untuk mengenang musik-musik grunge mainstream yang ada di TV & radio era 90-an. Audiens di malam itu mengenal & memainkan grunge hanya dari band-band mainstream-nya. Mereka hanya mendengarkan album-album grunge major label saja, tidak notice dengan grunge lainnya (ket: band indie-rock/post-punk/hard-rock/heavy-metal dengan sound khas Northwest, USA akhir 80-an) seperti rilisan SST Records, Touch n’ Go Records, Neutral Records & K Records. Jadi kalian tidak akan mendengarkan lagu-lagu dari Bikini Kill ataupun Blood Circus dimainkan di sini. Oh well, mungkin sayanya aja yang terlalu underground puritan.

Karena bagi saya pribadi, “grunge gods” bukanlah Pearl Jam, Alice In Chains atau Nirvana sekalipun. Yang benar-benar “gods” adalah mereka para pelopor yang underatted dan hanya dikenal dalam skala kecil saja, seperti: The Melvins, (late) Black Flag, Flipper, Skin Yard, Screaming Trees, Soundgarden, Mudhoney, dll. Mungkin hal inilah mengapa scene grunge di Indonesia tidak bisa standout dan benar-benar maju. Tidak seperti scene indie-rock lainnya di Indonesia (shoegazing, indiepop, noise, garage-rock, nu-wave) yang bisa maju dan berkembang. Karena mereka mendekatkan diri ke root underground dari mana musik mereka berasal. Berbeda dengan scene grunge yang hanya mendengarkan grunge-grunge mainstream saja. Jadinya, scene grunge di Indonesia hanya menjadi scene yang penuh dengan imitator artis-artis grunge mainstream. Menyedihkan!

Oke, mari lewatkan tulisan omong-kosong saya di atas. Saatnya band terakhir yang ditunggu-tunggu yaitu grunge legendaris asal Bali, Navicula! Saya memang tidak mengikuti diskografi mereka. Tapi berdasarkan research saya, refrensi musik mereka luas juga taste musiknya yang bagus. Unsur itu merupakan salah satu modal untuk membentuk sebuah band yang bagus! Ternyata benar ekspektasi saya, Navicula benar-benar band yang bagus!

Mereka membuka set dengan lagu barunya “Menghitung Mundur”, komposisi psychedelia yang menghanyutkan dan penonton langsung dikejutkan dengan riff-riff heavy ala Gruntruck di lagu-lagu berikutnya! Moshing, headbanging & stage-diving tidak bisa dibendung lagi. Seisi venue terbakar oleh adrenalin. Nampaknya di materi-materi terbaru Navicula semakin heavy-rock/alternative-metal, bergeser dari style grungy hard-rock di rilisan-rilisan awal mereka.

Yang membuat saya salut dari Navicula adalah, mereka bisa menelusuri root dari musik grunge yang mereka mainkan (70’s psychedelic, 70’s hard-rock/blues/ heavy metal). Jadinya musik mereka betul-betul terasa root-nya! Tidak seperti kloning-kloning Nirvana, Pearl Jam, Silverchair & Creed yang sudah sering saya dengar di scene grunge lokal. Karena "mereka" (band-band kloningan) mendengarkan musik tanpa mempelajari sejarah dari musik itu sendiri.

Ya, klimaks acara malam itu memang dipegang oleh Navicula. Mereka bisa menjadi “god” tanpa harus memainkan lagu-lagu dari artis-artis grunge luar. Saya juga berani bilang kalau Navicula adalah "penyelamat" scene grunge di Indonesia!

Report: Dede | photo: Hdy & Dede