GRUNGE GODS 2 Senin, 13 April 2009 @ Prost Beer
House, Kemang, Jakarta - Indonesia
Sebenarnya
tribute gigs itu tidak bisa dijadikan tolak-ukur kebesaran/
kemajuan suatu scene musik. Karena isinya hanyalah
orang-orang yang ingin mendengarkan lagu-lagu favorit kenangan mereka di
masa lalu. Ya, hanya sebatas untuk kenangan nostaljik saja. Seperti yang
sedang marak di Jakarta saat ini;
“Tribute Gigs”! Dan biasanya, itu
petanda kalau kamu sudah mulai tua kalau kamu sudah menikmati
datang ke gigs
tersebut! Ah tidak, sepertinya hal tersebut juga melanda kami...
Gig tribut
bertitel “Grunge Gods II” kali ini adalah mengenang kejayaan
Seattle
Sounds di era 90-an dulu, setelah gig “Grunge Gods I” beberapa
waktu lalu yang diadakan di Bandung. Sebenarnya yang membuat kami
tertarik untuk menghadiri gig ini adalah tampilnya beberapa selebritis/musisi
dari industri
musik (mainstream) Indonesia untuk memainkan tembang-tembang
grunge lawas.
Kami masuk
ketika Sonic Death,
salah satu band pembuka yang cukup dikenal di scene grunge lokal
sedang tampil di atas panggung. Trio noise-rock/post-punk/riot-grrrl
dengan front-woman pada bassist ini memainkan lagu-lagu sendiri
mereka,
plus lagu
cover“Drunken Butterfly” milik Sonic Youth. Setelah
itu, tampil Stigmata
yang khusus meng-cover lagu-lagu dari Stone Temple Pilots
(STP),
antara lain;“Unglued”, “Plush”, “Sex Type Thing”, dll. Meskipun
mereka bermain buruk, tapi tetap bisa menghibur para penggemarSTP.
Alien Sick
adalah penampilan
berikutnya. Permainan mereka cukup rapih,
terutama permainan solo gitar yang rockin’. Mereka memainkan
lagu-lagu dari debut CD-nya. Lalu mereka mengundang
vokalis
tamu, Anda Perdana ke
panggung untuk menyanyikan beberapa lagu cover,
seperti“Would?” (Alice
In Chains), “Jeremy” (Pearl Jam),
dan “Spoonman” (Soundgarden). Crowds
yang tadinya
adem-ayem langsung memanas dengan melakukan stage-diving dan
moshing!
Setelah
mosh-pit
dipanaskan
oleh Alien Sick, kini giliran
Konspirasi.Ini grup
grunge all-star karena berisi beberapa musisi papan atas
Indonesia, yakni: Edwin (Cokelat)
pada gitar, Marcell (solo
singer R&Bitu,
ex-Puppen, ex-Experimental Jetsets, Kraken)
pada dram, Chandra (Cupumanik)
pada vokal dan seorang bassis.
Mereka memainkan lagu-lagu sendiri yang
heavy-rock/post-grunge plus coverversion
dari
Stone Temple Pilots (“Down”),
Alice In Chains
(“Them
Bones”),
Pearl Jam (“Alive”
& “Black”). Well, kita tunggu saja album
rekaman mereka.
Selanjutnya, trio alternative-rock berbakat asal Bandung, ZU
membuka panggung dengan tembang “Go!” milik Pearl Jam.
Setelah itu
Zu
mengundang Aryo Wahab (ex-SOG, that solo-singer
dude & actor dude!) untuk menyanyikan lagu “Alive” dari
Pearl Jam.
Kemudian mereka
mengundang
lagiIpang (ex-Plastik & BIP) dan vokalis band Kunci
untuk menyanyikan anthem milik Stone Temple Pilots yakni
“Interstate Love Song”. Sebuah aksi panggung yang cukup langka
nih.
Setelah para vokalis tamu itu turun, Zu melanjutkan set-nya
dengan lagu-lagu sendiri yang condong ke modern-rock/alternative-rock,
plus lagu cover“The Best of You”-nya Foo Fighters.
Ya, memang
acara ini hanya untuk mengenang musik-musik grunge mainstream
yang ada di TV & radio era 90-an. Audiens di malam itu mengenal &
memainkan grunge hanya dari band-band mainstream-nya. Mereka hanya
mendengarkan album-album grunge majorlabel saja, tidak notice
dengan grunge lainnya (ket: band indie-rock/post-punk/hard-rock/heavy-metal
dengan sound khas Northwest, USA akhir 80-an) seperti rilisan SST
Records, Touch n’ Go Records, Neutral Records & K
Records.
Jadi kalian tidak akan mendengarkan lagu-lagu dari
Bikini Kill ataupun Blood Circus dimainkan di sini. Oh
well, mungkin sayanya aja yang terlalu undergroundpuritan.
Karena
bagi saya pribadi, “grunge gods” bukanlah Pearl Jam,
Alice In Chains atau Nirvana sekalipun. Yang benar-benar
“gods” adalah mereka para pelopor yang underatted dan hanya
dikenal dalam skala kecil saja, seperti: The Melvins, (late)
Black Flag, Flipper, Skin Yard, Screaming Trees,
Soundgarden, Mudhoney, dll. Mungkin hal inilah mengapa scene grunge di Indonesia tidak bisa standout dan benar-benar
maju. Tidak seperti scene indie-rock lainnya di Indonesia (shoegazing,
indiepop, noise, garage-rock, nu-wave) yang bisa maju dan berkembang.Karena mereka mendekatkan diri ke root underground dari mana
musik mereka berasal. Berbeda dengan scene grunge yang hanya
mendengarkan grunge-grunge mainstream saja. Jadinya,scene grunge
di Indonesia hanya menjadi scene yang penuh dengan imitator
artis-artis grunge mainstream. Menyedihkan!
Oke, mari
lewatkan tulisan omong-kosong saya di atas. Saatnya band terakhir yang ditunggu-tunggu
yaitu grunge
legendaris
asal Bali,Navicula!
Saya memang tidak mengikuti diskografi mereka.
Tapi berdasarkan research saya, refrensi musik mereka luas juga
taste musiknya
yang
bagus. Unsur itu merupakan salah satu modal
untuk membentuk sebuah
band yang bagus! Ternyata benar ekspektasi saya,
Navicula
benar-benar band
yang bagus!
Mereka
membuka
set dengan lagu barunya “Menghitung Mundur”, komposisi
psychedelia yang menghanyutkan dan penonton langsung dikejutkan dengan
riff-riff heavy ala Gruntruck di lagu-lagu berikutnya! Moshing,
headbanging & stage-diving tidak bisa dibendung lagi. Seisi venue
terbakar oleh adrenalin. Nampaknya di materi-materi terbaru
Navicula semakin
heavy-rock/alternative-metal, bergeser dari style grungy
hard-rock di rilisan-rilisan awal mereka.
Yang
membuat saya salut dari Navicula adalah, mereka bisa menelusuri root
dari musik grunge yang mereka mainkan (70’s psychedelic, 70’s
hard-rock/blues/
heavymetal).
Jadinya musik mereka betul-betul terasa root-nya! Tidak seperti
kloning-kloning Nirvana, Pearl Jam, Silverchair &
Creed yang sudah sering saya dengar di scene grunge lokal.
Karena "mereka"(band-band kloningan) mendengarkan musik tanpa mempelajari sejarah dari musik
itu sendiri.
Ya,
klimaks acara malam itu memang dipegang oleh Navicula. Mereka bisa
menjadi “god” tanpa harus memainkan lagu-lagu dari artis-artis
grunge luar. Saya juga berani bilang kalau Navicula adalah "penyelamat"
scene grunge di Indonesia!