Ketika berteriak adalah sebuah pilihan terampuh yang dilakukan kala
terdesak,
Ketika bertutur adalah sebuah kesaksian terjujur,
Ketika berfikir adalah cara terbijak dalam mempergunakan otak,
Maka
lahirlah sebuah bentuk perjuangan baru.
Penyikapan
tersebut adalah ejawantah dari Karbala Bukan Fatamorgana. Sebuah
kelompok yang coba meramu semua citarasa suara & nada dengan ekspresi
yang sarat kegelisahan akan ketidakbenaran.Berangkat dari latar belakang bermusik yang berbeda kedua pelakunya,
materi demi materi unik pun tercipta. Berbagai unsur pengaruh mulai dari
suara dan nada, seperti orasi imam-imam pemimpin besar revolusi, doa-doa,
kesenian olah nada tradisional Nusantara, alunan fenomenal para tokoh
legendaris (seperti Said Effendy sampai Rama Aiphama), film-film
Indonesia klasik, nada-nada digital sampai karya-karya pelaku musik
bergaya hiphop hingga metal ekstrim dunia terasa dalam materi-materi
KBF.
Jika sebuah
pelabelan dibutuhkan untuk menyebutkan jenis musik mereka, maka “musik
orasi" atau orasi yang diiringi musik mungkin dapat mengakomodir
kebutuhan tersebut. Para pelaku KBF adalah Sam Rizal yang
bertugas sebagai orator dan pelontar amunisi lantun-tegas. Sedang
Adit Buj Bunen Al Buse bertugas sebagai pencabik empat dawai
terdistorsi maksimum, penyenandung tenggorok tergorok dan perancang
senapan mesin.
Sejak 2006
berkonspirasi, KBF
sudah meracik 6 trek matang. Namun keterbatasan berbagai hal
membuat proses perampungan karya dua orang ini selalu terhadang. Meramu
lagu-lagu mereka dengan memaksimalkan perangkat ala kadarnya, piranti,
cracked-software, dan komputer spek standar yang nyatanya menghasilkan
karya yang tidak buruk. Ini terlihat dari respon yang cukup baik dari
teman-teman di jaring myspace ketika KBF melayangkan
trek-treknya di sana. Bahkan KBF sempat berkolaborasi dengan
beberapa rekan musisi, mulai dari band elektro Semarang,
Terror Incognita sampai noise project yang bermukim
di Australia, Kali Mayat. Respon yang sebelumnya tidak terduga. Terima kasih teman-teman.