Sebuah
gambaran tentang rangkaian proses melanjutkan kreativitas
bermusik.
Itulah (mungkin) untaian kalimat yang tepat untuk
mendefinisikan kenapa The TRIANGLE terbentuk. Sebuah proyek musik terbaru
bentukan Riko Prayitno
(bas)
selepas Mocca memutuskan vakum pada Juli 2010. Dari situlah kelompok
musik ini dilahirkan.
Berasal dari
latar belakang musik yang berbeda namun disatukan oleh rasa yang sama.
Embrio terbentuknya The Triangle bermula dari acara regular open mic
di Beat N Bite café setiap Jumat malam. Riko Prayitno bertemu
dengan Cil (gitar dan vokal), seorang yang kerap tampil jamming
di acara open mic yang dikelola Riko. Secara tidak sadar,
dibentuk atas rasa dan minat terhadap musik yang sama, Riko dan Cil pun
memutuskan untuk memulai proyek bermusik baru yang lebih serius.
The Triangle, nama yang
diberikan setelah Riko dan Cil mengajak Fikri (gitaris Vincent Vega)
untuk turut bergabung sebagai gitaris tambahan. Formasi trio ini pula
yang melengkapi formasi inti Triangle. Tak ada makna semantik atau
filosofis dibalik pemilihan nama The Triangle, selain karena bahwa ben
ini dimotori oleh tiga orang.
Awalnya
Triangle dibentuk sebagai ben trio dengan format akustik. Seiring berjalannya
waktu, kebutuhan lagu membuat mereka merombak format trio. Hingga
sekarang The Triangle dibantu oleh additional players,
yakni Koi (dram —yang juga penggebuk grup Ansaphone), Agung (keyboard),
Tommy (trumpet), dan Dian (trombone). Formasi lengkap inilah yang
menjadikan musik indie rock The Triangle kaya dan megah.
Musik The Triangle sendiri terlahir dari perpaduan karakter bermusik tiap
personil yang diikat oleh apa yang disampaikan melalui untaian kata-kata
yang diungkapkan sang vokalis.
Dengan warna
musik indie-rock yang kental dan gitar akustik, The
Triangle banyak dipengaruhi referensi musik alternative rock
atau indie-rock yang luas semacam Radiohead, Smashing Pumpkins,
The National, hingga Snow Patrol. Secara kebetulan, banyak lagu
yang dibuat Riko tidak terpakai oleh Mocca karena materinya bernuansa gelap dan galau. Materi-materi itu pula yang menjadikan warna musik
yang cocok buat The Triangle. Kelam namun melodius. Musik dengan balutan
gelap namun dikemas elegan. Hasilnya, kita akan disuguhi oleh musik yang mereka sebut: “Masculine,
sophisticated, grande, technical, and melodious”.
The Triangle
tengah mempersiapkan sebuah album baru, yang menandakan eksistensi mereka
di dunia musik Indonesia. Mengisi kekosongan musik indie-rock
berkualitas di negeri ini, The Triangle akan menghidangkan materi-materi lagu yang terinspirasi dari lirik-lirik bertemakan
alienasi/keterasingan. Sebagai gebrakan terbarunya, mereka meluncurkan single
pertama
‘How
Could You’ di situs resmi.
The Triangle
tidak berusaha menyempitkan musik mereka pada satu genre tertentu.
Mereka membebaskan kepada telinga pendengar untuk mengapresiasi dan
menafsirkan musik The Triangle apa adanya. The Triangle hanya berusaha
untuk mendefinisikan bahwa memberi warna baru di musik Indonesia lewat
musik indie-rock berkualitas yang belum banyak di negeri ini.