Rabu, 13 Agustus 2008 @ Tennis Indoor Senayan,
Jakarta - Indonesia
Untuk
kalangan pecinta musik emo, siapa sih yang ngga kenal The USED?!
Sampai-sampai ada yang berpledoi: “bukan anak emo kalo ngga tau The
USED”. Hahaha…
Resminya band asal Utah, US ini baru terbentuk
Januari 2001. Namun para personilnya sudah malang melintang di dunia
permusikan sejak awal 90-an. Maka tak heran bila nama The USED
langsung melambung sejak kehadiran album pertamanya (self-titled
| Reprise Records, 2002), lewat genre baru yang banyak orang labeli
sebutan “emo”. Yaitu term baru dari inovasi hardcore/punk dengan unsur
vokal merdu yang tradisional di part-part lagunya. Genre emo
sendiri baru mewabah di Indonesia sekitar 3 tahun belakangan. Sebagai
wujud apresiasi, akhirnya promoter JAVA Musikindo bersama
Fruit Tea Star Music menggelar konser perdana “gods of emo” tersebut
di Indonesia pada 13 Agustus kemarin.
Sebelumnya ada pertimbangan penting mengenai harga tiket yang tergolong
muahal (untuk konser musik kalangan kawula muda), yaitu: Rp 650.000,-
(festival) & Rp. 550.000,- (tribun). Apalagi di Agustus ini JAVA juga
menggelar serangkaian 3 konser band mancanegara (Jakarta
Jam!, The Used, Panic! At The Disco) dengan nominal tiket yang
sama. Hiks!
Akhirnya, beberapa hari sebelum hari H, tiket konser The USED diturunkan
(hampir) separuh harga, menjadi: Rp 350.000,- (festival) & Rp. 300.000,-
(tribun). Sedangkan bagi yang terlanjur membeli tiket pre-sale,
duit lebihnya akan dikembalikan di lokasi konser.
Maka,
mulai sore hari itu massa terus mengalir menuju Tennis Indoor
Senayan, yang semuanya memiliki niat yang sama: menonton The USED!
Hampir 3000 pengunjung rela menunggu showtime yang
dimulai jam 8:15 malam. Semua lampu dipadamkan, terlihat ruangan
gedung gelap gulita kecuali tata lampu kecil berkedip-kedip menyoroti
tubuh personil. Sontak lengkingan penonton bersorak-sorai menyebut nama
personil The USED, yang terdiri dari: Bert McCracken (vokal),
Quinn Allman (gitar/beking vokal), Jeph Howard (bass/beking
vokal), & Dan Whitesides (dram) – sebagai pengganti dramer lama
Branden Steineckert.
Salah
satu single dari album terbarunya “Lies for the Liars”
(Reprise Records, 2007), “The Bird and The Worm” membuka panggung
dengan versi singkat – tanpa unsurorkes & choir
seperti versi aslinya. Tak ada yang menduga kalau lagu yang bernuansa
lirih dan gelap itu ditempatkan pada awal setlist. Biasanya kan,
trigger sebuah show band rock – walau Bert juga mengklaim The
USED ini “band hardcore” – lebih memilih beat lagu yang dapat
memicu adrenalin audiens. Atau memang sudah diintruksikan dari promoter
sendiri?!
Ternyata, setiap pengunjung juga diberi “peringatan” lebih dulu yang
tertera dibalik tiket, bahwa “Tidak diperkenankan Moshing,
Bodysurfing,…”. Oh my Dog! Apa ini ngga konyol
kedengarannya?... Biar kami sangkal di sini, bahwa “setiap jenis musik
memiliki tarian/dansa tersendiri”. Mulai dari hardcore, punk, ska,
metal, sampai dangdut sekalipun, ada dansa khasnya. Justru hal-hal
tersebut adalah elemen yang tidak terpisahkan dari setiap show musik,
selama juga ngga merugikan orang lain.
Ah, masa sih saya mesti bilang, kalo promoter harusnya banyak
belajar lagi tentang dunia musik anak muda… Hahaha.
Selanjutnya crowds baru diliarkan lewatlagu “Take it
Away” dari album kedua “In Love and Death” (Reprise Records,
2004). Berakhir empat lagu pertama, selesai “I Caught Fire (In Your
Eyes)”, The USED mengisi improvisasi sekitar 5 menitan. Improvisasi
lain pun juga dilakukan di sela-sela pertengahan show. Ada juga 3
lagu (“The Taste of Ink”, “All That I've Got”, “Buried Myself Alive”)
yang mereka mainkan secara medley kaya kereta gandeng hehehe.
Sejak
awal
saya perhatikan, kenapa lightning panggung begitu minimal
berpijar? Atau memang ini trik untuk meminimalis “pencurian” dokumentasi
penonton, walau cuma menggunakan HP?! Background panggung pun
tanpa terpampang banner band. Tak ada embel-embel menghiasi
panggung selain personil The USED sendiri. Sangat disayangkan untuk band
berkelas dunia seperti The USED konsernya terlihat begitu konvensional.
Berbeda dengan kawan band seperjuangan My Chemical Romance yang
begitu megah di setiap pertunjukannya.
Interaksi Bert dengan para penonton cukup komunikatif. Meski sejak
beberapa awal lagu, vokalis yang selalu khas memakai sarung tangan ini
selalu menakuti-nakuti dengan bilang: “ini lagu terakhir kami”,
candanya. Penonton pun bersorak protes sambil mengacungkan jari-jari
tengah. Akhirnya, sampai lagu “Hospital” yang berposisi ke-13,
Bert cs mereka benar-benar hengkang dari panggung. Namun sampling
suara sirene terus berjalan hingga personil The USED hadir kembali.
Crowds pun memanjatkan doa-doa encore secara berjamaah.
Hihihi...
Setelah jeda kurang lebih 10 menit, hanya Bert dan Quinn tampil duo lalu
menyejukan massa lewat “On my Own” yang diinstrumenkan dengan
gitar akustik. Singalong pun menemani lagu tersebut dari awal
hingga selesai. Selanjutnya; “its gonna be your last chance”,
jelas Bert sebelum menutup pertunjukan. Kerumunan yang tadinya sudah
terlihat tenang, kembali rusuh saat “A Box Full of Sharp Objects”
digeber sebagai lagu terakhir.
Konser
yang berdurasi 1 setengah jam, rasanya belum memaksimalkan kepuasan
penonton. Ada pula yang merasa kecewa karena beberapa hits
lawasnya tidak dilantunkan, seperti: "Blue and Yellow", “Hard to Say”,
dll. Dari 15 setlist lagu, The USED memang lebih banyak
menghadirkan lagu dari album terbarunya, a.l: “Liar, Liar (Burn in
Hell)”, “Paralyzed”, “Pretty Handsome Awkward”, “Wake the Dead”,
“Hospital”. Termasuk 2 lagu (“Sun Comes up” dan “Pain”)
dari EP “Shallow Beliver” yang baru dirilis Februari kemarin.
Mengenai rilisan rekaman, The USED juga terbilang cukup produktif. Tahun
ini pun mereka lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan materi untuk album (penuh)
keempatnya, bahkan demonya sudah direkam sejak Januari sampai Maret
kemarin. Rencana album baru nanti akan dirilis akhir 2008 (yang mungkin)
berbarengan dengan DVD terbarunya. So, just wait for it.
(You also can watch
their live videos in Indonesia here)