Sabtur, 3 Mei 2008 @ Tennis
Indoor Senayan, Jakarta - Indonesia
Hellyeah!!!... Band heavy punk rock asal Ontario, Kanada, Sum 41 akhirnya memutuskan konser perdananya di Indonesia
pada Sabtu, 3 Mei kemarin. Konser ini sekaligus melengkapi rangkaian tur
terakhir promo album terbaru mereka di Asia, yang diselenggarakan oleh
promoter baru Bandung, MAA Productions dan sponsor L.A. Light
Concert bertempat di Indoor Tennis Senayan, Jakarta.
Sum 41 hari ini masih
diperkuat oleh Deryck Whibley (vokal, gitar, & penulis lagu),
Jason Mc CaslinakaCone (bass & beking vokal), dan
Steve JoczakaStevo 32 (dram). Ughh, apa perlu
saya mengulas kembali biografi band ini??? Lebih baik kalian cari saja
di luar sana…banyak kok! Kami ngga pengen berlagak sok kompeten
seperti para jurnalis yang hanya “berpayung” di media-media gede, tapi
nyatanya mereka “cetek” soal musik, khususnya Sum 41. Ngeliput cuma
ngandelin songlist dari panitia doang… Apaan tuh?!! Justru kami
yang merasa lebih kompeten dari pemberitaan media-media mainstream.
Karena memang ini musik kami, dunia musik yang kami nikmati.
Sejauh ini, Sum 41 telah
merilis 5 album resmi. Apalagi saya mulai akrab sejak album-album
awalnya, seperti “All Killer No Filler” (2001) atau “Does This
Look Infected?” (2002). Musik Sum 41 bisa digambarkan penggabungan antara melodic
punk rock dengan heavy metal, bahkan sedikit ngerap ala
Run DMC. Nah, pada album baru “Underclass Hero” (2007) Sum
41 sepertinya ingin lagi back to the roots bersama “konsep lama”
yang mereka mainkan di album-album awalnya itu. Hampir seluruh lagu di album
barunya terdengar straight & catchy. Berbeda dengan rekaman
sebelumnya, “Chuck” (2004) yang terasa lebih heavy. Apa
ini faktor hengkangnya si gitaris “coklat panas” Dave Bash, yang
pernah memperkuat di sektor melodi? Entahlah…
Ok, lets rock!
Konser dimulai jam setengah 9 malam. Tanpa basa-basi (dan juga tanpa
band-band pembuka), para pahlawan kelas bawah langsung menggebrak
“Underclass Hero” sebagai trak awal. Meski formasi utuh sisa bertiga,
performance Sum 41 tetap hadir berempat dengan menambah gitaris
audisional, Tom Thacker yang tampil berambut mohawk pada malam
itu. Audiens manis pun langsung bersorak ramai. Bahkan di pertengahan
lagu ini, Deryck meminta beberapa penontonnaik ke atas panggung.
Entah maksudnya apa, yang jelas 2 cewe & 2 cowo yang terpilih cuma jadi
“pajangan” di sisi kanan panggung sampai konser selesai hahaha…
Aksi panggung si Deryck
cukup komunikatif dan selalu mengajak crowds bersingalong.
Sebagai vokalis & frontman band ini, tentu doi harus berusaha
tampil atraktif & gokil. (Iya dong, namanya juga punk! )
Seperti di sela-sela lagu ke-6, kelakuan dari suami Avril Lavigne
ini memasukan gumpalan kain dalam bajunya mirip ibu hamil, plus kaca
mata hitam serta selempang handuk kecil di lehernya dan berlagak
slenge’an (tanpa harus mirip Slank), hiks! Entah ikonik siapa
yang ditiru... Kalo menurut saya sih lebih mirip sopir angkot
hahaha. Bahkan saat melantunkan lagu lawas “Makes No Difference”,
Deryck sempat memainkan melodi menggunakan gigi ala Jimi Hendrix,
gosh! Sekaligus di sesi lagu ini Deryck meminta kembali tambahan
penonton buat “pajangan panggung” tadi. Yah, kalian berjoget saja di
atas panggung sana hahaha…
Meski riuh penonton
membahana tapi saya ngga menemukan pogo atau mosh pit liar layaknya
general show punk/hardcore. Palingan sekedar loncat-loncatan di
tempat. Secara gitu loh, fan base Sum 41 mungkin lebih
digandrungi cowo & cewe manis hihihi. Malah yang terdengar, teriakan
histeris cewe-cewe, aw! Sampai-sampai cewe di dekat saya teriak
gini; “Deryck, fuck meee!!!”. Aaiiihh… Deryck, you are a lucky
bastard.
Sekitar 500 kepala
memadati isi gedung. Meski nampak kelas tribun terlihat sepi, mungkin
sekitar 100 orangan. Selebihnya, penonton merapat di arena festival. Dan
juga, tidak sedikit terlihat penonton bule yang meramaikan konser ini.
Untuk tiket sendiri berharga: Rp 450.000,- (festival) & Rp 350.000,- (tribun).
Konser berlangsung hanya satu jam. Yah, terlalu sebentar rasanya. Dalam
durasi tersebut Sum 41 memainkan sebanyak 19 lagu (atau 20 lagu?) dari
semua albumnya, a.l.; Underclass Hero, Hell Song, Motivation, We're
All to Blame, Walking Disaster, King of the Contradiction, In Too Deep,
Over My Head (Better Off Dead), Confusion and Frustration in Modern
Times, Makes No Difference, Pieces, 88, Still Waiting, My Direction, Fat
Lip, Pain for Pleasure, dll. (Ini yang saya catet karena hapal
lagunya, bukan contekan dari songlist! )
Sedangkan, dekorasi
panggung terlalu standar dengan banner besar logo Sum 41 (seperti
di kover album baru) serta gambar “rudal hati” di sisi kanan & kirinya.
Namun ketika di penghujung konser, banner langsung berubah dengan
logo baru saat “Pain for Pleasure” dimulai. Hellyeah, ini
adalah lagu Sum 41 yang paling in vein of IRON MAIDEN
hehehe... Sang dramer Stevo langsung menggantikan posisi Deryck sebagai
vokalis, dengan gaya nyanyinya ala vokalis hair rock yang sedang mabuk.
Begitu juga sebaliknya, Deryck ternyata pandai juga bermain dram –
apalagi facenya yang kiddy banget, mirip anak kecil
belajar dram hahaha… Anyway, it’s cool.
Yap, seandainya tidak ada tampilan-tampilan spektakuler, tentu konser ini
tidak banyak berkesan buat saya. Well, tadinya juga sempat
illfeel sama band ini, setelah menemukan info "busuk" Sum 41 yang
berbau rasialisme. Benar atau tidaknya, masih menjadi pertanyaan besar
buat saya. Ahh, tapi kami masih banyak kok memiliki sederatan
daftar ben-ben favorit lainnya.