Minggu, 17 Agustus 2008 @ Tennis Indoor Senayan, Jakarta -
Indonesia
Dari sederatan
jadwal konser band mancanegara ke Indonesia, sepertinya PANIC AT THE
DISCO (PATD) salah satu yang paling ditunggu kedatangannya. Band
muda berbakat yang terdiri dari Brendon Urie (vokal, gitar),
Ryan Ross (gitar, vokal), Jon Walker
(bass, vokal), dan Spencer Smith (dram) mulai terbentuk pada
2004. Meski tergolong band kemarin sore, popularitas mereka terus
meranjak naik serta menunjukkan kualitasnya dalam bermusik. Terbukti,
kehadiran debutnya “A Fever You Can’t Sweat Out” (2005) saja
mampu meraih platinum dengan penjualan album lebih dari 1 juta kopi.
Bahkan situs video YouTube telah memutar single perdananya
“I Write Sins Not Tragedies” sebanyak (hampir) 9 juta kali.
What a wonderful point.
JAVA Musikindo
selaku promoter dengan bangga menggelar konser band asal Summerlin, Las
Vegas tersebut dalam event bertajuk L.A. Light Concert
yang momennya bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17
Agustus. Merdeka!
Nah, kalau pagi harinya sudah mengikuti upacara atau lomba, maka di
malam hari saatnya berdansa bersama PANIC AT THE DISCO! Bahkan,
para pengunjung sudah mulai antri sejak jam 5 sore lho. Padahal
showtime baru dimulai jam 8 malam.
Sebelumnya, sebuah
band rock n roll lokal yang sedang naik daun, The CHANGCUTERS
hadir sebagai band pembuka. Dengan seragam ketat jaket putih dan jeans
merah, band yang berpersonilkan Tria, Qibil, Dipa, Alda, Erick
muncul berbaris tegap seraya mengheningkan lagu “Indonesia Raya”
dalam rangka memperingati Hari Proklamasi Indonesia. Setelah itu, kelima
rocker changcut tersebut langsung menggeber hit “Racun Dunia”
yang mempopulerkan nama band asal Bandung ini. Selama setengah jam
kedepan, The CHANGCUTERS turut memeriahkan dengan beberapa
tembangnya dari album “Mencoba Sukses (Kembali)”, diantaranya:
“I Love You Bibeh”, “Pria Idola Wanita”, dll. Kabar lainnya, pada 24
Agustus nanti Tria cs. akan hijrah ke London untuk pembuatan video klip
terbarunya. Sukses deh!
Usai aksi panggung
dari The CHANGCUTERS, penonton kembali dibuat menunggu selama
setengah jam. Di atas panggung kru PATD terlihat sibuk cek sound serta
mempersiapkan equipment. Banner album barunya mulai
menghiasi background panggung. Tiba-tiba penonton dikagetkan
dengan padamnya semua lampu Tennis Indoor, yang pertanda show segera
dimulai. Tak lama kemudian, personil PATD muncul satu-persatu beserta
beberapa orang bule yang mengibarkan bendera merah putih sebagai rasa
partisipasi Hari Kemerdekaan RI. Aplaus meriah dari audiens menyambut
kehadiran mereka yang bergaya parlente mengenakan kemeja dilapis rompi.
Apalagi gitaris Ryan terlihat paling necis dengan pakaian jas lengkap
sepatu pantopelnya. Pokoknya, sekelompok anak ajaib yang baru berumur
21-22 tahun itu tak kuasa membuat rasa gemas crowds yang banyak
digandrungi usia belasan tahun.
Tanpa seuntai kata,
melodi dari “We’re So Starving” langsung berdendang yang
setelahnya disambung dengan “Nine in the Afternoon”. Kedua lagu
medley dari album barunya “Pretty. Odd.” cukup mujarab
memancing massa bersingalong. Selama pertunjukan, personil
kuartet PATD yang ditemani seorang audisional keyboard mempersembahkan
17 lagu dari 2 album yang baru mereka miliki, seperti: “But It's
Better If You Do”, “Camisado”, “Behind the Sea”, “Lying is the Most Fun
a Girl Can Have Without Taking Her Clothes Off”, “I Constantly Thank God
for Esteban”, “That Green Gentleman (Things Have Changed)”, “Top Hats”,
“Famous Friends”, “I Write Sins Not Tragedies”, dll…yang kemudian
sempat break selesai lagu “Surprise”. Trik lawas pun
dimainkan, Ryan cs. menghilang ke belakang panggung untuk menarik
perhatian penonton agar berteriak “we want more!”, “we want
more!”. Hehehe…
Dari kualitas sound
yang keluar cukup memuaskan, termasuk karakter vokal Brendon yang sama
bagusnya seperti di album-album PATD yang dirilis Decaydance
(label milik Pete Wentz dari FALL OUT BOY, yang membantu
membesarkan nama PATD). Memang, pada awal kemunculan PATD tidak sedikit
orang membandingkan band remaja ini dengan FALL OUT BOY yang juga
influence bagi PATD sendiri.
Namun, sejak merilis
album “Pretty. Odd.” pada 25 Maret kemarin, PATD menunjukan
perombakan yang signifikan pada sektor musiknya. Kalau di album pertama
musik PATD lebih kental nuansa “hard punk rock” dengan sound-sound
loop ala komputer, di album terbarunya PATD lebih senang memainkan
gitar klasik supaya terdengar lebih natural. Komposer Ryan Ross juga
mensahihkan kalau; “lagu-lagu baru kami lebih seperti klasik rock
daripada modern rock”. Ini pun karena pengaruh musik-musik orang tua
mereka yang sering mereka dengarkan, seperti The BEATLES, The BEACH
BOYS, The KINKS, dll.
Selepas break
beberapa menit, PATD kembali melanjutkan 3 lagu terakhir. Dimulai hanya
Brendon tampil solo membawakan “Time to Dance”. Sepertinya,
kehadiran PATD saat ini benar-benar ingin membuang jauh roman-roman
industrial dari musiknya. Faktanya, versi asli “Time to Dance”
yang sarat dengan hard beats plus sampling digital itu,
Brendon sulap memainkan hanya menggunakan gitar akustik. Hal semacam ini
juga terjadi pada semua lagu dari album pertama yang PATD mainkan dengan
versi baru. Mulai menyudahi show, Brendon yang dari awal
memainkan instrumen gitar langsung beralih ke bass pada lagu terakhir
“Mad as Rabbits”.
Secara keseluruhan,
konser PATD di Jakarta cukup puas dan mengesankan. Sayangnya, konser
yang berdurasi satu setengah jam, PATD tak lagi menghadirkan
tampilan-tampilan menakjubkan dengan memunculkan para penari dan
kontortionis. Pendiri band Ryan juga memutuskan kalo konser PATD ngga
akan lagi bertema kabaret atau sirkus seperti pertunjukan-pertunjukan
terdahulunya. Namun performa PATD malam itu sudah cukup melegakan dahaga
kepenasaran fansnya yang hadir (sekitar) 4000 penonton. Salute
buat JAVA atas perhelatan menjelang Ramadhan yang terbilang sukses.
(You also can watch
their live videos in Indonesia here)