Sabtu, 12 Juli 2008 @ Tennis Outdoor Senayan, Jakarta -
Indonesia
JAKARTA ROCK
PARADE (JRP)
adalah festival musik rock terbesar ibukota sepanjang sejarah show musik
di Indonesia. Dengan konsep 3 hari, 4 panggung, 100 band. Banyak
persepsi terbangun kalo JRP ini pengen ngebikin WOODSTOCK-nya Indonesia.
Tapi sayang seribu sayang, ekspetasi keramaian, kehebohan, serta
kegilaan yang ada di WOODSTOCK itu jauh terjadi pada JRP. Malah
sebaliknya, suasa terlihat ketimpangan yang sepi penonton, adem-ayem,
dan…payah!
Saya datang ke JRP di hari ke-2nya. Seperti kebanyakan target metal
freaks yang datang pada hari itu, yang mereka ingin saksikan adalah
band legendaris death metal Swedia,
DISMEMBER! Itulah mengapa liputan ini saya eksklusifkan untuk
DISMEMBER, sebagaimana saya meliput tur band-band mancanegara lainnya di
Indonesia.
Tapi herannya, sejak saya tiba sekitar 10 malam, kebisingan tak lagi
berderu dari panggung Tennis Outdoor, dimana tempat bakal live
DISMEMBER. Pada panggung Rock Lounge
saja sudah digulung lebih dulu. Kabarnya, mulai hari ke-2 JRP banyak
band batal tampil baik lokal maupun luar, seperti BMX BANDITS (Inggris),
BURGERKILL, NETRAL, dll. Hal inilah yang membuat banyak pengunjung
merasa kecewaberatbangetsekalipisan karena tidak dapat menonton
band-band yang diharapkan.
Well, daripada ngga ada hiburan, akhirnya saya menyempatkan diri
untuk melihat aksi panggung godfather of rockIndonesia,
Andy Tielman (personil dari TIELMAN BROTHER) yang saat itu
baru dimulai. Sedikit flashback, bila kalian mengenal sejarah
musik rock dunia, TIELMAN BROTHER tercatat sebagai band paling
berjasa dalam mengenalkan musik rock ala Indonesia pada dunia. Mereka
meracikkan notasi musik tradisional Indonesia dengan rock n’ roll.
Dan juga, beberapa hal
yang kalian mesti tau tentang TIELMAN BROTHER; mereka lah yang mengawali
sejarah akrobat gitar rock spektakuler; seperti melempar gitar, memukul
fret gitar dengan stik dram, sampai bermain gitar dengan kaki & gigi
jauh sebelum Jimi Hendrix lakukan. Dan ini sudah terjadi 50 tahun yang
lalu. Whooaaa… Mungkin saat itu Marilyn Monroe masih perawan kali ya
hahaha…
TIELMAN BROTHER
menghantam panggung di Eropa dengan musik yang menghentak, agresif, dan
liar! Dunia terpukau, dan menggelari musik mereka dengan sebutan “Indo
Rock”. TIELMAN BROTHER menuai banyak penggemar, salah satunya adalah The
BEATLES. Bila kalian penasaran dengan performance TIELMAN
BROTHER, kalian bisa menyimak beberapa dokumentasi video mereka di
YouTube.com. Sebuah rekaman aksi panggung paling dahsyat untuk seluruh
generasi. Ini adalah salah satu fakta, bahwa Indonesia
merupakan bagian terpenting dalam sejarah musik rock dunia.
Panggung Andy
Tielman malam itu berposisi di Tennis Indoor. Seharusnya,
bila pengunjung ingin memasuki Tennis Indoor stage atau Tennis
Outdoor stage, mereka harus menambah fee lagi sebesar Rp
200.000,- (belum termasuk tiket masuk dengan harga yang sama). Jadi,
pengunjung mesti mengocek sebanyak Rp 400.000,- dalam satu hari acara.
Pufff!!!
Mungkin inilah salah
satu alasan mengapa keadaan JRP sepi dari penonton. Akhirnya, konsep
tiket yang sudah digulirkan terpaksa batal! Jadi, bermodal “tiket masuk”
penonton bisa leluasa menjelajahi 4 panggung JRP. Sampai-sampai panitia
sendiri menyurutkan harga tiket dari Rp 200.000,- menjadi Rp 50.000,-.
Nah, sekarang kalian bisa membayangkan betapa pacekliknya suasana JRP
saat itu. Mungkin yang bikin rame acara adalah para personil band
beserta kru-krunya kali ya hahaha...
Malam semakin larut,
dan belum ada tanda-tanda DISMEMBER deal manggung atau ngga. Bila
melihat schedule, memang DISMEMBER ditempatkan di penghujung
acara, sekitar jam setengah 12 malam. Namun kegelisahan tetap saja
menghantui penonton. Jarum jam terus mendekati angka 12 (malam),
akhirnya saya dan kawan-kawan memutuskan pulang bersama rasa kecewa.
Namun saat kami melangkah pulang, tiba-tiba terdengar suara pedal
menggebuk-gebuk, distorsi gitar meraung-raung, yang semuanya itu berasal
dari dalam Tennis Outdoor. Otomatis langkah kaki kami berubah
haluan menuju Tennis Outdoor.
Saat masuk panggung,
saya melihat beberapa orang bule sedang check sound. Oh itu!…
Jelas, ngga salah lagi, ternyata mereka semua adalah personil DISMEMBER.
Puji tuhaaan!!! Akhirnya sisa penonton yang belum pulang langsung
bertransmigrasi ke Tennis Outdoor. Namun pertunjukan mesti
tertunda lagi selama 1 jam dengan alasan; ngga ada dobel pedal. Weekk!!!...
Aneh, masa sih band sekelas internasional kaya mereka ngga ada
persiapan. Bersegeralah panitia meminjam dobel pedal kesana-kemari pada
band-band lokal. Ada rumor menyalirkan, kalau manajer DISMEMBER tadinya
juga ingin membatalkan jadwal konser di JRP. Tapi tim DISMEMBER bilang,
mereka tetep kekeuh mau manggung karena mereka punya fans di
Indonesia. Horeee!!!
Langsung saja jam 1
dini hari pasukan DISMEMBER tancap gas lewat “Override of the
Overture”. Meski dihadiri hanya 100-an kepala, penonton tetap
menyemarakkan suasana dengan headbanging hingga circle pit.
Bahkan, sampai ada penonton yang (niat) membawa bendera Swedia segala.
Yah, sepertinya hanya manusia pilihan tuhan saja yang beruntung
menyaksikan konser DISMEMBER malam itu.
Vokalis Matti
juga sempat menyindir bermajas litotes saat melihat ampas penonton;
“wow, lihat betapa banyak orangnya”. :P Tapi, banyak atau sedikitnya
penonton bukan halangan buat Matti Kärki (vokal), David
Blomqvist (gitar), Martin Persson (gitar), Tobias
Cristiansson (bass), & Thomas Daun (dram) untuk tampil
maksimal, meski mainnya juga sambil senyam-senyum dan ketawa-ketiwi,
hihihi. Beberapa personilnya juga tampil gaya dengan memakai aksesoris spike serta kostum
serba hitam. Asli, style metal jadulnya kaga ilang dah
hehehe…
Sepanjang catatan
eksistensi DISMEMBER, mereka sudah membuat daftar diskografi sebanyak 11
rilisan (termasuk EP). Namun entah kenapa setiap band-band legendaris
yang konser di Indonesia, mereka lebih mengunggulkan tembang-tembang
lawasnya membuat suasana lebih memoriable. Songlist
DISMEMBER aja lebih banyak dicomot dari album pertama dan keduanya, a.l:
“Sickening Art”, “Pieces”, “Dark Depths”, “Skin Her Alive”, dll…sampai
ditutup dengan “Dreaming in Red”.
Meski pertunjukan telah
berakhir, crowds masih sempet-sempetnya nagih encore. Wah,
penonton emang ngerock deh! Dengan senang hati DISMEMBER
melayaninya dengan lagu “Dismembered”. Genap sudah sekitar 15
lagu DISMEMBER hidangkan selama satu jam. Pokoknya, "as long as
Dismember live, Death Metal will reign!"
Satu hal yang
menyebalkan saat liputan adalah, kru JRP yang sok “keterlaluan”
ketat & tertib membatasi pengambilan dokumentasi. Alah, udah tau
acaranya sepi begitu. Akhirnya, para fotografer hanya diberi kesempatan
mengambil gambar hanya saat satu lagu pertama dimainkan. Udah gitu
motretnya dari arena penonton lagih! Makanya, saya sendiri sering
ditegur security karena ketauan “nyolong” gambar. Dan ngga cuma
sekali, tapi sampe 5 kali! Padahal saya ambil fotonya cuma pake HP.
Astaga...!
Pokoknya, acara ini
benar-benar JAKARTA ROCK PARAH DEH!!!
Ironisnya, festival JRP yang memiliki moto: “Lets make history!”,
harapannya gagal! Justru JRP telah membuat sejarah buruk dalam kancah
permusikan Indonesia. Udah lah, ngga usah diadain JRP-JRP an lagi. Kami
ngga perlu nonton banyak band. Satu aja juga cukup, asal nge-ROCK!!!