Minggu, 30 November 2008 @ Tennis Indoor Senayan,
Jakarta - Indonesia
Akhirnya datang juga!!!...
Setelah tertahan beberapa hari di Thailand, akhirnya AS I LAY DYING
(AILD)
berhasil tiba di Jakarta untuk melangsungkan konsernya. Perkara
penundaan ini bukan
lantaran
isu “travel warning” yang lagi
santer, melainkan dampak gejolak demonstrasi di Negara tersebut yang membuat
keberangkatan rombongan Tim Lambesis, dkk menuju
Jakarta tertunda, akibat penutupan bandara-bandara nasional di Thailand.
(Ternyata ngga cuma Indonesia aja yang kondisinya ngga aman-red)
Maka, dengan sangat
terpaksa jadwal show AILD di Jakarta harus direschedule, dari awalnya Kamis
(27/11/08) pindah ke Minggu (30/11/08). Cuma parahnya, gimana dengan
massa metalheads yang sudah datang duluan (karena kurang mendapat
informasi), apalagi yang jauh-jauh dari luar kota. Waduhhh...kacau! Yahh, habis
mau gimana lagi, siapapun tentu tidak menginginkan hal-hal buruk terjadi.
Walau hal ini juga beresiko pada kurangnya "nilai berita" acara hehehe...
Sebelumnya,AILDjuga pernah berencana konser di Indonesia
dalam tur festival “INTERNATIONAL TASTE OF CHAOS” (bersama Story of the Year dan
A Vacant Affair)
hajatan salah satu event promoter lokal ternama. Sayangnya, event
bergengsi tersebut BATAL dengan alasan tidak mendapat perijinan tempat.
Akhirnya, tur IToC hanya mendarat di Singapura pada 8 November kemarin.
Namun, salah satu promoter lokal lain, SOLUCITE berinisiatif
untuk menarik kembali band metalcore Amerika tersebut untuk menggelar
konser tunggalnya di Jakarta.
Ruang tertutup stadion tennis Senayan adalah pilihan tepat dalam
menanggulangi konser di musim basah akhir tahun. Kondisi hujan yang tak
menentu sempat menghambat perjalanan Jurnallica menuju lokasi konser.
Kami masuk jam setengah 9 malam. Saat itu barudak veteran Ujungberung,
Bandung
BURGERKILL
yang menjadi opening act baru memulai lagu "Anjing Tanah"-nya.
Sayang, ternyata kehadiran kami cuma kebagian 3 lagu terakhir BK, yang
ditutup dengan kover PUPPEN"Atur Aku".
Tanpa menunggu jeda panjang, (sekitar) 10 menit kemudian para personil AILD
langsung naik panggung untuk check sound. Mereka harus
menyesuaikan persediaan equipments lokal dengan standar steman mereka.
Karena segala
banda-nya masih tersita di Thailand. Sekedar testing, maka Jordan Mancino (dram), Phil Sgrosso
(gitar lead), Nick Hipa (gitar ritem), Josh Gilbert
(bass & clean vokal)
sedikit
berimprovisasi sebagai introduksi. Saat
Tim Lambesis
(vokal) muncul, barulah mereka semua menggeber ‘Meaning in Tragedy’ dari “Shadows are Security”
(Metal Blade, 2005), dilanjuti ‘An
Ocean Between Us’yang juga
menjadi nama titel album terakhirnya
(Metal Blade, 2007). Sebagai konser perdana di
Indonesia, band yang sudah merilis 4 album dan 1 split ini juga
menyajikan lagu-lagu lawasnya, seperti "Forever",
"The Beginning",
termasuk
"Distance is Darkness" yang kental bercorak
math-core.
Bagi yang mengenal tipikal melodic death metal ala Gothenburg Sound,
tentu kalian sudah bisa mengira karakter musik AILD sekarang seperti apa. Penonjolan rif-rif
melodius di setiap lagunya, beats yang enerjik, serta formula
pada tipikal
vokal yang clean & singing. Hanya saja sektor sound gitar
bercorak lebih thrasy tanpa
terbalut distorsi tebal seperti sound metalcore kebanyakan. Sekilas band
ini mengingatkan saya pada metalcore Jerman, CALIBAN
yang pernah manggung di Jakarta pada 9 Agustus lalu.
Nama AS I LAY DYING
sendiri ternyata terilhami dari sebuah judul novel tulisan William Faulkner
pada 1930-an, yang menceritakan tentang kehidupan keluarga petani
Amerika yang religius. Tapi, entah alasan apa yang membuat band San
Diego, California ini acap kali disebut ‘Christian band’
(baca: band yang memiliki pesan tema-tema reliji). Vokalis Tim
menegaskan; “Saya tidak tahu pasti apa perbedaan antara lima orang
christian bermain dalam sebuah band dengan sebuah christian
band”. Sebagai penulis lirik, Tim juga menjelaskan bahwa
kebanyakan lagu AILD menceritakan tentang kehidupan, perjuangan,
kesalahan, relationship, dan isu-isu lainnya yang tidak sesuai
dalam kategori spiritual.
Sekitar belasan lagu dimainkan, melewati "The
Darkest Nights", "Through Struggle", "Within
Destruction", "Forsaken", "I Never Wanted",
pertunjukan berakhir di lagu "The Sound of Truth".
Yang kemudian ditambah encore 2 lagu; "94 Hours" dan "Confined". Meski harus bermain tanpa
‘alat tempur’ (baca: equipments) sendiri, performa dari kelima
personil AILD tetap tampil enerjik dan maksimal. Itulah
mengapa salah satu artis METAL BLADE Records ini dinominasikan Grammy
Awards dalam kategori "Best Metal Performance" pada lagu
"Nothing Left". Bahkan, baru-baru ini AILD juga dianugerahkan
penghargaan San
Diego Music Award.
Oya, di sela-sela pertunjukan Tim sempat mengumumkan, ternyata tepat
pada 30 November itu merupakan birthday salah satu gitarisnya
yang berparas Asia, Nick Hipa. Spontan seribuan crowds dalam
gedung menyanyikan lagu "Happy Birthday", lalu 2 panitia
membawakan kue ulang tahun plus adegan tiup lilinnya. Ya elah…penting gituh?!
Well, terkadang sebuah acara yang biasa dapat berkesan dengan
kehadiran hal-hal "aneh", walau terlihat konyol sekalipun.
(You also can watch
their live videos in Indonesia here)