RELATED REPORTS

 

As I Lay Dying (30 November 2008)

 

 MENU

ANGELS & AIRWAVES

AS I LAY DYING

BEHEMOTH

AVENGED SEVENFOLD

STRAIGHTOUT

PANIC AT THE DISCO

The USED

CALIBAN

JAKARTA JAM! (Day 1) [SIMPLE PLAN, NEW FOUND GLORY, etc]

RUFIO

DISMEMBER (@ Jakarta Rock Parade)

MAGRUDERGRIND

WALLS OF JERICHO

STORY OF THE YEAR (feat. YOUR FAVORITE ENEMIES)

Sick of it All

KOIL

Sum 41

Comeback Kid

Bleeding Through

 

 

 REPORTASE

ANGELS & AIRWAVES “Live in Concert!”

Selasa, 9 Desember 2008 @ Tennis Indoor Senayan, Jakarta - Indonesia

Sebagai acara akhir tahun 2008, yang terhormat JAVA Musikindo kembali menyelenggarakan konser band alternatif rock Amerika, ANGELS & AIRWAVES. Proyek terbaru dari Tom DeLonge (ex-BLINK-182, Box Car Racer) ini berlangsung pada 9 Desember, tepat setelah Hari Raya Idul Adha 1429 H. Selain mendarat di Jakarta, Tom (vokal & gitar) bersama 3 rekannya; David Kennedy (gitar / Over My Dead Body, Hazen Street, Box Car Racer), Atom Willard (dram / Offspring, Rocket From the Crypt), dan Matt Wachter (bass / 30 Seconds to Mars) juga menggelar konsernya di Bali (Hardrock café) dalam format akustik pada hari selanjutnya (10/12/12). Konsep shownya ini persis seperti konser RUFIO di Indonesia sewaktu Juli kemarin.

Memang, bisa dibilang tahun 2008 adalah cetus tahun pendeklarasian tur band-band mancanegara. Hampir setiap bulannya konser musik disajikan bak resep minum obat. Untuk JAVA sendiri, terhitung sudah 12 kali menggarap event musik selama 2008. Hanya kami -sebagai reporter- juga tidak ingin terjebak dalam pemberitaan yang sama. Apalagi kronologisnya berjalan serupa. Bicara mengenai massa, kita bisa berekspetasi pada lembaran tiket yang terjual. Bawain lagu apa aja, kalian bisa cek urutan songlistnya (lihat di bawah-red). Namun sialnya, saya harus merunut peristiwa yang sama pada nama band yang akrab disingkat “AVA”. (Konon, singkatan ini dijadikan nama anak perempuan Tom, Ava DeLonge-red). Artinya, konser AVA juga mengalur biasa-biasa saja (bahkan sederhana), baik kami melihat dari panggung sampai performancenya.

Dan yang paling esensial justru terletak pada sang frontman Tom sendiri. Baru di lagu pertama “Call to Arms”, pita suara Tom yang khas itu sudah terdengar kehabisan napas. Dan lagi sebagai komposer, Tom serasa kurang menghayati melantunkan lagu-lagunya, sehingga nada-nada fals yang mengiang tetap aja cuek. Kalau ada yang berpledoi; “yah, AVA kan alter ego-nya Tom, jadi sah-sah aja”Well, its ok selama kalian juga fun. Tapi gimana dengan tipikal penonton yang selalu mengcompare versi audionya...? Tentu ini yang menjadi parameter penilaian, bukan?!

Namun, kharisma seorang Tom DeLonge dengan hebat mampu mengkover respon para “I-Crowds” (sebutan untuk fans AVA-red) yang hadir sekitar 3500 kepala. Seakan show berjalan lancar tanpa ada masalah. Tom benar-benar menjadi bintang pada malam itu. Bahkan tingkah laku konyolnya menjadi hiburan "plus". Mungkin emang dasar tabiat kali ya, banyolan Tom semasa di Blink-182 tetap aja lepas. Sejak kemunculannya di panggung tanpa ada cakap, akhirnya Tom mulai memperkenalkan diri sebelum “There is” dari Box Car Racer (BCR) dimainkan secara solo bersama gitarnya. “Nama saya Tom DeLonge. Ini kesempatan pertama saya di Indonesia… I like the girls. And my father like the boys…”. Hahaha… Itulah mengapa Tom terlihat lebih “keren” jingkrak-jingkrakan dengan gitarnya, daripada kami menilai “mati gaya” mengiringi konsep musik barunya yang mellow.

 

Berhubung baru memiliki 2 album; “We Don't Need to Whisper” (2006) dan “I-Empire” (2007), AVA hanya menghembuskan 14 lagu (termasuk cover songs). Maka pertunjukan yang dimulai jam 8 malam terasa singkat walau setiap lagunya berdurasi cukup lama, karena terdapat intro ataupun outro. Dan AVA yang harusnya berakhir di lagu The Adventure”, harus menyuap 2 lagu lagi (“Heaven” dan The War”) yang mereka sebut encore. Tapi setidaknya saya harus memberi aplaus lebih pada detak ketuk (baca: beats) Atom yang menjadi “nyawa” di setiap lagu-lagu AVA, selain samplings dan instrumen lainnya yang melengkapi.

Oya, selain membawakan “There is”, AVA juga mengkover lagu BCR lainnya, “My First Punk Song”. Namun grip-grip punk yang singkat itu tetap saja tak representatif, meski diselipin pada urutan manapun. Crowds juga tak banyak reaksi selain singalong menemani beberapa hits AVA. Tapi, kenapa Tom ngga mengkover lagu-lagu band fenomenalnya dulu BLINK-182, daripada BOX CAR RACER -band proyekan Tom juga sebelum merintis AVA. Tentu ini jauh lebih seru! Padahal promoter Adri Subono dalam blog pribadinya sempat mengabarkan kalau pertunjukan AVA akan mengemas beberapa lagu BLINK-182.

Yahh, mungkin bukan cerita hidup saya bisa menyaksikan show BLINK-182. Tapi setidaknya, saya masih ada kesempatan bila salah satu personil aslinya masih mau memainkan. Seandainya saya seorang promoter sebesar JAVA, saya bakal ngadain deh konser “REUNI BLINK-182”. Wohoo…kedengarannya keren, bukan?! Kalo saja RAGE AGAINST The MACHINE dapat menggelar konser reuni bersama vokalis kontroversialnya (yang sempat terkurung di penjara) Zack de la Rocha, kenapa BLINK-182 ngga bisa melakukan hal yang sama. Grup yang sudah kemakan tanah sekalipun seperti The POLICE masih bisa kembali reuni. Dan lagi, dedengkot grindcore macam CARCASS tahun ini juga melakukan hal serupa. Lagipula, konsep kaya gini kan emang belum terjadi di Indonesia (untuk konser band-band luarnya). Well, kalau bos promoter JAVA tertarik (atau memiliki kesamaan) dengan inisiatif saya, silahkan lakukan.

Kembali lagi ke laptop... Sebagai band yang ditunggu-tunggu kedatangannya, harusnya para “malaikat & gelombang udara” itu bisa memberi tampilan yang klimaks, apalagi momennya event penutup tahun. Padahal sound yang menggema sudah mengagumkan, pol deh! Hanya saja aspek-aspek lainnya kurang mendukung. Seperti banner panggung yang hanya terpajang bendera Amerika Serikat berlogo AVA di sisi kiri atas serta tata lampunya standar. Terlebih lagi style para personilnya yang cuma mengenakan kaos oblong, termasuk Tom yang belum mengganti kaos birunya sejak tiba di Jakarta. Sebagai kegemaran band kawula muda masa kini, seengganya AVA bisa menjadi trendsetter lah. Apalagi Tom kan owner dari brand produk sepatu yang sedang hype, MACBETH.

Weleh, bagaimana ini?!... Tadinya, Jurnallica ingin sekali mengemas liputan AVA secara eksklusif. Tapi ada daya, data yang terampung tak ada yang kami puji. Konser yang berlangsung selama 75 menitan berlalu begitu saja tanpa berbekas kesan. Tapi herannya, kenapa ya saya malah terbayang dengan salah satu spg di stand MACBETH... Upsss!!! I don’t need to whisper.

(You also can watch their live videos in Indonesia here)

 SONGLIST

Call to Arms

• It Hurts

• Love Like Rockets

Everything's Magic

Distraction

Medley: There is & Reckless Abandon  (Box Car Racer cover)

Rite of Spring

Secret Crowds

• My First Punk Song (Box Car Racer cover)

• The Gift

Sirens

The Adventure

• Heaven

• The War

Report: Jurnallica (Hdy) | photo: Tony