Muhammad
Gunawan aka Gugun - vokal & gitar Jonathan Armstrong aka Jono -
bas Aditya Wibowo aka Bowie - dram
GENRE
Blues
KONTAK
Indri Sjafri (0812 888
2694)
INTRODUKSI
Power Trio Blues
Batal
menjadi ben pembuka BON JOVI, ben blues-rock Indonesia GUGUN
BLUES SHELTER tetap mencatat sejarah tersendiri bagi kisah skena
musik tanah air dengan tampilnya di Festival HardRock Calling 2011
di Hyde Park, London. Alih-alih menyebut mereka telah mengharumkan
nama bangsa. Padahal tak ada misi kenegaraan yang dibawa
sama sekali. “Mau nyanyi
‘Indonesia Raya’, orang ga akan gubris kalau bir sudah di tangan,”
cetus sang dramer Bowie.
DISKOGRAFI
"Get
The Bug"
(2004)
"Turn
it On"
(2006)
"Gugun
Blues Shelter"
(2010)
"Gugun
Power Trio - Far East Blues Experience"
(2011)
"Satu
Untuk Berbagi"
(2011)
Wawancara dengan Gugun, Jono,
Bowie
Ceritakan kesan Gugun Blues Shelter (GBS) tampil di
HardRock Calling 2011?
Dan bagaimana respon penonton di sana?
Gugun (G): Kesannya, yang jelas kita seneng banget
bisa main di acara sebesar itu. Dan itu adalah
festival dunia dengan ben-ben terkenal (ada Bon Jovi,
Rod Stewart, The Killers, dll) dan banyak juga
legend-legend di situ.
Kita bisa maen satu panggung dengan mereka suatu
prestasi buat kita.
Responnya, mungkin mereka yang nonton itu 100%
seneng. Soalnya, selama 3 hari di festival itu musik
yang kita bawain adalah musik original kita,
yang ga ada yang mirip di line-ups dari 3
hari itu. Ya, kita dapat semacam pujian lah; “Wah!
Ben terbaik selama berapa hari yang mereka lihat.”
Ya itu sebuah penghargaan yang cukup bagus. Ya, kita
seneng banget.
Kalau dipikir-pikir lucu juga ya… GBS bisa main di
event inti Hard Rock. Padahal dulu kalian
adalah ben yang pernah ditolak café tersebut.
[Belum selesai bertanya, Bowie langsung menyambar]
Bowie (B): Itu membuktikan kalau Tuhan itu ada. [Gugun
cengengesan melihat Bowie] Jadi, kita seneng
ketika Gugun sama Jon mulai dulu ditolak di
café-café atau di radio/majalah. Media juga males
wawancarain karena “Ah!
Ini ben cuma biasa-biasa aja, ga ada something
special.” Tapi sekarang kita dikejar. (Bukannya
kita belagu, tapi emang lagi hangat.) Dan mereka
sebenarnya ngga sadar, mungkin dulu mereka tidak
memperhitungkan kita sebagai berita.
G: Ada mungkin sedikit rasa gengsi ya... “Wah, gila!
Ini kan ben yang gw tolak dulu.” Masih ada sedikit
rasa-rasa kaya gitu.
Jadi, sekarang kalian memandangnya bagaimana... Apa
ini semacam pembuktian?
G: Kita tidak bermaksud untuk membuktikan kepada
mereka, sebenarnya.
Bahwa kita tidak main-main di dunia musik. Yaa,
masih banyak juga sih yang sedikit alergi. Agak-agak
gengsi lah... Ya, tapi biarin.
Bowie
pernah bilang, yang terpenting tampil di HRC adalah
bukan mainnya tapi bisa bertemu significant
others di backstage.
Sejauh ini, apakah sudah ada negosiasi dengan
“orang-orang penting” di belakang panggung?
B: Ada banyak. Cuma, ternyata pada saat di belakang
panggung (di backstage/VIP room) itu,
orang-orang di sana itu tidak semudah (bertemu) yang
kita bayangkan. Kita ketemu satu orang (cewe),
namanya Felix. Good looking. Taunya kerja di
Atlantic Records. Artis yang dibawa sama dia Rumer.
Ya, dia minta kontak & cd kita, tapi belum ada
respon. Kita juga ketemu Hello! Magazine (semacam
Cek & Ricek kalau di Indonesia), mereka juga suka,
memberi kita pujian. Trus, orang-orang dari radio
Kolombia. Mereka pengen ngundang kita main di
Kolombia. Seneng banget, muji-muji terus.
Yang cukup miris, sebenarnya banyak anak bangsa
berprestasi sampai ke luar tapi tidak mendapat sokongan
dari pemerintah. Menurut kalian, apa peran
pemerintah tidak penting di bidang musik ini?
G: Kalau menurut gw, jujur, pemerintah ga usah
mendukung... Maksudnya, lebih baik pemerintah
memikirkan orang yang kelaperan. Yang tidak
berpendidikan masih banyak kok orang Indonesia kaya
gitu. Jadi, mereka mendukung kita dari segi moril
aja. Bahwa di Indonesia ini ada budaya populer.
Jono (J): Tapi mereka bisa support kasih
gampang visa. Ngga usah di-duitin. Dipermudah secara
psikologis. Kalau mau main di Amerika kan susah.
G: Jadi, cuma mempermudah itu aja.
Tidak perlu mengeluarkan duit.
Kita berpikir, duit dikeluarin mendingan buat
orang-orang susah aja.
Sebenarnya awal-awalnya juga “Aduh! Ngapain ya?”
Tapi beberapa temen, media, dan orang-orang di
pemerintahan (bilang) “Gun! Lu coba deh ke
pemerintah minta support, bla-bla-bla…” Ya,
kita ga tau mau kemana. Tapi pas
kita masukin, tidak ada respon sama sekali. Yaa
percuma dong kemaren-kemaren kita jalan, buang-buang
waktu.
Selama ini kita melakukan tur ke luar (negri),
terutama ke Inggris, itu kita pake dana pribadi.
Dulu kita punya agent. Trus, kalo kita main
di Singapura, Malaysia, ya itu kita memang diundang.
Buat Jono, di panggung HRC '11 Anda mengenakan
kostum Soekarno.
Apa yang memotivasi Anda untuk memakai kostum
tersebut?
J: Satu, gw mau pake kostum yang agak aneh biar
tarik perhatian media/ fotografer di sana.
Cari sensasi. Kedua, ga pernah ada yang make kostum
Bung Karno di Hyde Park, ya?! Ketiga, tahun ini,
hubungan Indonesia sama Inggris sudah 200 tahun.
Tepatnya kita main di sana.
Tapi, kalau Anda sendiri mengenal/tau sosok Soekarno
itu?
J: [Nampak kebingungan] Iya, saya pelajari
sedikit. Dia orangnya hebat.
Banyak
yang mengira Jono itu lebih nasionalis dibanding 2
personil GBS lainnya. Apa yang membuat Anda
bangga/cinta dengan Indonesia? Atau (mungkin) ini
trik untuk menarik simpatik publik?
J: Ya, karena pake kostum doang, mungkin. Itu faktor
X [Tertawa].
Gw ga tau kenapa betah sekali di sini. Tapi, yang
pasti, cuaca bagus, makanan enak, orangnya ramah.
Dan lebih bebas di sini dibanding negara-negara
lain. Kalau kita ke negara lain di Asia, itu
orangnya ga seramah di sini. Kalo kita ke negara
Barat, ada aja peraturan ini-itu.
“Kita
belum berbuat apa-apa lho di Indonesia ini.
Gw ga mau
musik kita ini (selalu) muncul dan akhirnya jadi murah...”
Belum lama ini GBS merilis album baru, “Satu Untuk
Berbagi” yang mulai berbahasa Indonesia.
Adakah kesulitan dengan pembawaan lirik-lirik lokal?
Apa yang membedakan dengan album lain?
G: Sebenarnya sih ga ada. Soalnya lagu itu udah ada
dari awal-awal 2000. Gw cuma ingin memecahkan
persoalan, selama ini orang berpikir (bahwa) ben
indie atau ben yang mengusung blues/rock itu
susah membawakan lirik-lirik Indonesia, ternyata
engga. Tergantung tema apa yang kita angkat. Jadi,
bahasa Indonesia atau Inggris di musik yang kita
bawa itu ngga ada kesulitan.
Banyak ben/musisi lokal memakai lirik Inggris dengan
alasan bisa go international, tapi kalian
lebih memilih bahasa Indonesia. Apa hal tersebut
biar GBS lebih “memasyarakat”?
G: Go international udah masuk kubur [Tertawa]...
Gini, ceritanya album pertama itu full bahasa
Inggris, album kedua ada 3 lagu bahasa Indonesia,
album ketiga full bahasa Inggris semua.
Nah, selama perjalanan itu kita tuh cuma berhayal
aja (“Aduh! Kita udah bikin kaya gini”).
Memang dari awalnya bukan untuk marketnya di
sini.
Gw ama John maunya ke luar, ngga di Indonesia.
Akhirnya, setelah merilis album Gugun & The
Bluesbug, ternyata ada respon dari label di Amerika.
Mereka mau jadi produser, ambil lagu-lagu kita.
Dibayar. Ok, kita ngga mikir panjang lah karena ada
nominal di sini. Berarti label di sana lebih cepat
kerjanya.
Setelah kita berpikir, kita ngga bisa mati konyol
juga di sini. Karena dulu gw juga udah bikin konten
bahasa Indonesia. Kita belum berbuat apa-apa lho di
Indonesia ini.
B: Gini... Setinggi-tingginya elo terbang, elo harus
inget darimana elo berasal. Itu pesan kita kepada
semua ben yang berkoar-koar go international.
Sebagus-bagusnya mereka main musik, selaku-lakunya
mereka buat rekaman, jangan pernah lo lupa sama
Indonesia. Maksudnya, buat karya yang bagus buat
Indonesia, biar nanti lo lebih enak.
Kenapa kalian tidak coba merilis album ini dengan
label Mayor (biar lebih mainstream)? Seperti
kita tau, label Mayor di sini kan selalu telat.
Kalau ada musisi-musisi indie yang berprestasi dulu,
baru mereka mau rilis albumnya.
B: Bukan ga tertarik...
Tapi, buat apa kita sign/kontrak sama Major
label tapi kalau kerjaan mereka udah kita kerjain
semua.
Kecuali kalau dia dateng dengan proposal;
“Gw
bisa buat ben lo kaya gini... Ini hal-hal yang ga
bisa lo lakuin. Lo bisa main di tv 10 kali dalam
sebulan. Lu bisa beli BMW. Lu bisa beli rumah ato
macem-macem.”
Gimana caranya gw ada di proposal ini, gw mau.
Tapi kalo mereka cuman mau ngedarin album kita di
toko-toko musik gitu kita juga udah.
G: Treatment-nya harus beda. Ok, major label
di sini tidak bisa meng-treat ben ini, tapi
ben-ben yang ada sering di TV. Gw ga mau juga musik
kita ini muncul, muncul, muncul dan akhirnya musik
ini jadi murah.
Trus kita ngejual cd-nya di toko-toko besar.
Jadi, orang pengen mencari musik yang berkualitas di
toko berkualitas juga. Bukan di lapak.
Ada rencana untuk tur promo album ini? Atau mungkin
untuk promo ke negara-negara luar?
G: Ada. Sehabis lebaran.
Awalnya, kita di Jakarta dulu.
Kebetulan ada yang menggandeng kita. Paling ya masih
Jawa aja lah…
Selain “Satu Untuk Berbagi”, GBS juga merilis album
di Amerika dengan nama Gugun Power Trio. Apa itu tidak
menyulitkan identitas grup ini? Memakai nama baru
kan seperti mulai dari nol.
G: Kita udah konsultasi dari labelnya, kita bilang
udah cukup populer dengan nama Gugun Blues Shelter.
Cuma mereka bilang... [Terdiam] Yah, mereka
lebih tau pasar di Amerika itu apa. Kalau di Inggris
kita ngga ada masalah sama sekali. (Arti) “Shelter”
itu antara Amerika dengan Inggris beda artinya. Ya,
Jon?
B: Ga ada masalah kalau Gugun-nya masih ada. [Tertawa]
Kalian termasuk produktif ya dalam merilis lagu.
Seberapa sulit sih buat kalian dalam membuat lagu?
G: Kalau orang bilang seberapa sulit? Tidak ada yang
sulit sih sebenarnya. Dalam sebulan kita merekam 25
lagu. Kita di studio itu dari pagi sampai pagi lagi,
selama 3 hari. Tiga hari berikutnya, kita istirahat.
Jadi, dalam satu hari satu malam itu kita bisa
merekam sampai 8 lagu.
Berarti udah punya materi baru lagi dong?
G: Ada, di sini. [Sambil menunjuk otak]
Hehehe.
J: Di memory card.
Buat Jono & Bowie, Gugun itu termasuk orang yang
otoriter ga dalam ben?
B: Ngga, ngga... Dia ngerti ben ini mau dibawa
kemana tapi sebatas itu, konsep & ide. Kalau dalam
ruang gerak kita berkreasi (kaya proses kreatif di
studio) sama apa yang mau kita lakuin di luar,
terserah. Maksudnya, orang yang sangat demokratis.
Karena kita bertiga kompakan kalau elu mau main
musik, atau di luar musik, atau lu mau
ngapain-ngapain, bebas. Asal ngga ga ganggu ben.
Jadi, ngga otoriter.