FORMASI

Vicky - vokal
Ebenz - gitar
Agung - gitar
Andris - dram
Ramdan - bas

 GENRE

Metal ugal-ugalan

 DISKOGRAFI

Dua Sisi [2000, Riotic Records]

Berkarat [2003, Sony Music Ent.]

Beyond Coma and Despair [2006, Revolt!]

Venomous [2011, Revolt!]

 KONTAK

Ketu (0818 0207 8677)

 INTRODUKSI

Begundal Beracun

 

Pada musikalitas Burgerkill, transisi genre terus bergulir di setiap albumnya. Mulai dari new school/post-hardcore di debut “Dua Sisi”, lalu merambah ke ranah metalcore di “Berkarat”, hingga “Beyond Coma and Despair” sebagai ultimatumnya. Namun, pada “Venomous” –album baru Burgerkill setelah jeda 5 tahun–, ben metal Ujungberung, Bandung ini kembali memproklamirkan identitas anyarnya. “This is the new Burgerkill!” tegas gitaris Eben.

Komparasi publik untuk 2 album terakhir tentu saja tak terelakkan di beberapa sektor, khususnya peralihan vokalis dari mendiang Ivan ke Vicky. Tapi pada dasarnya, “Kita mainin musik yang bener-bener kita mau mainin,” kata Eben. “Jangan pikirin perbandingan orang tentang “Beyond Coma and Despair”. That's suck, man! Mereka hanya bisa menilai, mereka tidak bisa berbuat. Mereka ngga bisa men-judge kita, selama ga bayarin kita latihan, selama mereka ga bayarin kita rekaman,” tambahnya cetus.

Sebelum kelima begundal tersebut “ugal-ugalan” [baca: live] dalam rangka launching album “Venomous” di Jakarta (16/07), Jurnallica sempat melakukan tanya-jawab dengan Eben, sang leader yang juga orisinil founder grup ini.

NEW ALBUM

"Venomous"

 

Wawancara dengan Eben

 

Apa yang membuat jeda rilis album kali ini begitu lama? Dan bagaimana respon terhadap “Venomous” sejauh ini?

Kalau yang bikin lama sebetulnya banyak hal ya... Banyak kejadian yang (bisa dibilang) cukup mengganggu lah, seperti meninggalnya Ivan, proses audisi vokalis (hingga mendapatkan Vicky), trus sempet tur Australia & Asia Tenggara, Andris tangannya sempet patah. Nah, itu jadi salah satu kenapa album ini molornya lama. Dari target mau rilis 2010, akhirnya kita rilis 2011. Karena recording album ini kehitung lama ya, sekitar satu tahun ngegarap album ini.

Tapi kalau respon sih sejauh ini alhamdullilah-nya bagus/positif. Temen-temen bisa menerima adanya formasi Burgerkill yang baru dengan formula musik yang baru.

 

Kenapa titelnya diberi “Venomous” dan apa harapan kalian untuk album ini?

Kenapa “Venomous”? Karena menurut kita ini album paling berbahaya yang pernah dibuat sama Burgerkill. Dari 3 album sebelumnya, menurut kita ini album punya kapasitas dobrak paling tinggi. Kenapa kita bisa bilang begitu? Karena banyak hal-hal baru, banyak enerji positif yang ada di album ini yang kita rasain semenjak kita ngumpulin lagu, recording, sampai akhirnya rilis. Baik dari secara lirik, musikalitas, semuanya benar-benar fresh dan itu yang menganggap: “this is the new Burgerkill. Kita harapannya emang album ini bisa meracuni banyak orang.

 

Adakah rencana promo album ini ke Australia (atau mungkin negara-negara lain) seperti album sebelumnya?

Kalau sejauh ini kita masih di link sama pihak Soundwave Festival buat main tahun depan (2012). Rencananya kita mau main di 6 stage di Australia. Kalau Asia masih pendekatan ke sana, karena tujuannya album “Venomous” di-distribusiin dulu di sana. Mudah-mudahan Oktober sudah dirilis di Malaysia dan Singapura.

 

Ada rencana untuk rilis album ini via label Major seperti album ke-2 kalian?

Sejauh ini sih anak-anak ga kepikiran ke sana. Yaa, kita udah tau rasanya di sana [major label-red], ternyata kita ngga ngerasa nyaman juga. Trus, kita ngejalanin apa-apa sendiri udah ngerasa nyaman, jadi ga kepikiran aja mau ke sana.

 

Apa sih yang membuat kalian tetap eksis sampai saat ini? Dewasa ini, kalian menganggap ben itu sebagai apa?

Gini ya... Kalo gw sama anak-anak selalu berusaha men-treatment ben itu kaya anak. Jadi semakin besar perhatian kita, semakin besar rasa sayang kita, semakin besar kepedulian kita terhadap si ben, otomatis ben-nya akan tumbuh dengan baik. Apapun itu, hasilnya (entah album sukses atau tidak) itu urusan belakangan. Kalau masalah eksistensi sih kuncinya itu, yang penting kita tetap punya passion yang sama, visinya sama. Jadi, anak-anak benar-benar menjunjung rasa kekeluargaan di Burgerkill. Dan gw rasa itu yang bikin ben ini bisa survive sampai hari ini.


““Venoumous” album paling berbahaya yang pernah dibuat sama Burgerkill... Harapannya album ini bisa meracuni banyak orang.”


Sebagai ben yang segmented, bagaimana strategi kalian membuat market/pasar sendiri? Apalagi, banyak ben metal lokal yang ingin dapat penghasilan/hidup dari nge-ben.

Gw ga mau menjadi raja di kerajaan orang lain. Gw mau Burgerkill jadi raja di kerajaan sendiri. Dalam artian, industri pada dasarnya akan bermuara pada karya. Selama lo bisa berbuat sesuatu terhadap industri melalui karya dan karya lo bisa dipertanggungjawabkan di pasar, otomatis market lo akan terbentuk dengan sendirinya. Apapun itu bentuknya, entah merchandise, entah album, entah manggung. Karena itu kan bentuk apresiasi yang pengen dilihat & dinikmati sama market. Selama lo bisa mensubsidi itu, gw yakin ben itu akan tetap hidup.

 

Apakah Burgerkill masih sulit mengadakan acara di Bandung? Dengan kalian menggelar launching di Jakarta, apakah itu salah satu buktinya?

Sebetulnya engga sih. Cuma memang perijinannya mahal. Mungkin pihak keamanan lebih melihat kapasitas ben-nya. Mungkin mereka melihat sisi Burgerkill sebuah ben yang bisa mendatangkan banyak orang. Dan ketika orang banyak itu kan butuh pengamanan dari banyak personil. Dan itu yang membuat harga perijinan jadi mahal. Itu yang membuat temen-temen di scene jadi susah ngundang Burgerkill.

Kalau launching di Jakarta, sebetulnya emang kita mau launching di Jakarta. Sebetulnya, Burgerkill awalnya besar di Jakarta. Tahun 95-96 ben ini awalnya banyak main di Jakarta. Karena scene hardcore Bandung dulu belum sebesar/se-eksis Jakarta. Jadi, kita udah punya teman dan fanbase yang kuat di sini, apa salahnya bersenang-senang dengan teman-teman di sini (Jakarta). Yang di Bandung nanti, 24 September (abis Lebaran). Kita bikin di stadion Siliwangi, insya Allah.

 

Untuk ben metal seperti kalian, perlu ngga yang namanya RBT?

Kalau menurut gw sih ga perlu. Karena buat apa...? Lu dengerin musik mono, trus yang nikmatin orang lain. Ya kan? Okelah, kalau untuk media promo masih fine. Tapi kalo untuk diperjualbelikan gw kurang setuju. Toh, cuma 30 detik. Lu bisa nikmatin musik apa sih dari 30 detik?

 

Satu hal yang signifikan dalam diri Burgerkill adalah pergantian sang vokalis. Tanpa maksud membandingkan, tapi tema-tema apa yang kali ini kalian sampaikan?

Kita ada pergeseran kalau masalah tema lirik. Memang dulu Burgerkill identik dengan hal-hal kelam, hal-hal distrust gitu. Tapi sekarang kita udah ngga mau bicara itu karena dapur lirik sudah ngga dipegang lagi 100% sama Ivan. Dulu, gw sama Ivan yang ngurus dapur lirik. Idenya biasanya dari Ivan, nanti kita kerjain bareng-bareng. Trus, kenapa kita ngga mau lagi nulis hal-hal seperti itu? Karena dari kejadian Ivan meninggal itu kita udah punya pengalaman. Kita menganggap, lama-kelamaan lagu itu jadi seperti sebuah doa. Kenapa gw bisa bilang di album “Beyond Coma and Despair” itu banyak indikasi bahwa Ivan itu sudah mau “pergi”...

 

Jadi, lirik itu seperti curhatannya Ivan?

Yap. Betul.

Dan kita ngga merasa kompeten untuk bicara lagi hal itu. Karena kita ngga ngalamin. Latar belakang Vicky dengan Ivan dalam kehidupannya sudah beda. Kalau Ivan bilang dia melarat, ya dia memang hidupnya melarat. Kalau Ivan bilang sakit, dia memang sakit. Sedangkan Vicky engga. Jauh lebih sehat, jauh lebih mapan. Buat apa kita tulis apa yang ngga kita rasain/tau. Jadi, mending kita nulis yang kita lihat, yang kita pengen angkat, apa yang ngerasa mengganggu perasaan kita aja. Yaa yang paling simpel ya sosial, lingkungan.

 

Pada proses kreatif BK sampai sekarang, kalian telah melalui masa transisi genre. Mulai dari hardcore ala Rykers (‘Revolt’), lalu post-hardcore (‘Sakit Jiwa’), trus metalcore (‘Penjara Batin’), dst. Bagaimana dengan materi-materi tersebut, apa kalian masih suka bawakan di atas panggung?

Semua lagu buat kita itu hit. Kita engga pernah milih single, kita engga pernah milih lagu yang mana jadi jagoan. Jadi, semua lagu dari album pertama sampai album sekarang pun (beberapa) masih kita mainkan. Mungkin kalau dikasih kesempatan main waktu agak lama, mungkin juga kita banyak bawain lagunya ya. Tapi kita selalu berusaha, ya minimal, nyelipin satu/dua lagu dari album-album lama.

 

Termasuk dari album pertama?

Pasti. Itu roots-nya. Don't forget the roots!

(Juli '11).

 

Teks & foto: Jurnallica