Mempertahankan eksistensi grup (yang bergenre
cutting-edge dan berasal dari daerah pula) dalam kurun (hampir) 15 tahun di tanah
air ini
adalah hal yang perlu disaluti. Perlu modal kerja keras dan komitmen
tinggi. Atau mungkin, lebih dari itu... Dan lagi, 'menghajar' dominasi
bukanlah suatu hal yang mudah. Tapi bagi punkrock senior Bali,
SUPERMAN IS DEAD [berikutnya
disingkat SID-red] telah melalui fase-fase tersebut.
Saya
jadi
teringat dengan sebuah risalah antara pohon pakis dan bambu, yang mana
salah satu moral cerita yang saya petik yaitu, siapapun pernah
mengalami masa-masa sulit dan ingin menyerah. Namun selalu ingat,
apabila sedang
menghadapi kesulitan atau hambatan dalam hidup, itu adalah proses menjalarkan
akar-akar agar pohon dapat menjulang tinggi sebisa yang dicapai pohon bambu
tadi.
Dalam
riwayat grup punkrock Bali ini memang tak semuanya berjalan mulus. Seperti
nasib ben pada umumnya, formasi trio bertahan; Bobby Kool (vokal/gitar), Eka Rock
(bas/beking vokal), & Jerinx (dram/vokal) sudah menjilati asam
garam problema, baik sifatnya internal maupun eksternal. Penghianatan,
konflik manajemen, dan ragam pergejolakan lainnya, sampai-sampai si Superman
kebingungan dan hampir menyerah.
Namun
takdir berkata lain. Dengan semangat rebel yang tetap menggelora, SID
berhasil merampungkan rekaman terbarunya, "Angels and The Outsiders" (2009, Sony Music
Indonesia). Kini,
si superman mati bangkit kembali dan mengepalkan tangan ke langit untuk terbang
tinggi. Malah seandainya ben ini bubar, pasti mereka tak akan merealisasikan mimpi
agung-nya, yaitu tur Amerika ("Vans
Warped Tour 2009" dan "From Bali with Rock") yang telah dilaksanakan beberapa bulan lalu. Dan
ini semua mereka rasa adalah awal kebangkitan yang lebih besar. Kemenangan untuk musik dan
attitude yang selama ini terabaikan.
Sambil menggenggam bir untuk merayakan kemenangan,
angkat sekali lagi gelasmu, kawan!... Marilah kita
bersulang!
NEW ALBUM
"Angels
& The Outsiders"
GO DOWNLOAD: "Jika Kami
Bersama"
Wawancara dengan Jerinx
(Jrx)
1)
Apa yang membuat kalian tetap eksis? Pada
press release album
terakhir sepertinya kalian ingin memuntahkan
masa-masa kemelut dalam eksistensi ben ini,
sampai-sampai si Superman merasa hampir menyerah.
Jrx:
Rasa cinta dan dukungan alam semesta yang membuat
kami bertahan. Dua faktor tersebut tidak bisa
dikalahkan oleh apapun juga.
2)
Jika pada masa sulit itu membuat SID bubar,
kira-kira kalian akan mengambil alih pekerjaan apa?
Kita tau, di Indonesia banyak musisi indie/cutting-edge
belum bisa menggantungkan hidup dari nge-ben. Atau
kalian memang mendedikasikan hidup sebagai ben
punkrock dan trus rock n roll?
Jrx:
Jika SID harus bubar, saya akan menjadi aktor atau
desainer, Bobby menjadi graphic designer dan
atlet badminton, Eka bisa menjadi ahli IT dan
multimedia. Banyak hal yang bisa kita lakukan. Tapi
kenyataannya, SID tidak akan bubar. Kita mungkin
suatu saat akan meredup, tapi tidak akan pernah
padam.
3)
Apa yang signifikan dari
“Angels & The Outsiders” dibanding album-album
sebelumnya?
Jrx:
Kita membuka pemikiran orang bahwa nyawa punkrock
tidak terletak pada distorsi, makian dan tempo lagu
yang cepat. It's all in the lyrics and attitude...
4)
We know, industri musik di sini masih
mengedepankan sisi komersialisme dibanding mutu
karya. Dalam arti, label rekaman cenderung memilih
musik yang gampang dicerna, catchy,
easy-listening dan akhirnya
terlihat seragam. Kalian sebagai ben punk yang
tergabung dalam label mayor, apakah juga kompromi
dalam berkarya? Apa yang kalian lakukan untuk
meyakinkan Jan Djuhana agar SID tetap di label SONY?
Jrx:
Dari awal Sony Music sudah tahu karakter SID seperti
apa dan kita memiliki gentleman's agreement
bahwa label tidak ikut campur di wilayah berkesenian
SID. Lagu, lirik, video klip, art work, image,
konser, dll kita yang menentukan. Sony memproduseri
album, mengurus promo dan distribusinya.
5)
Selain di luar itu, apa
yang ‘meresahkan’ dari dunia industri musik?
Jrx:
Yang meresahkan bukan pelaku industrinya saja, tapi
peminat industrinya. Semua bertalian. Selera mereka
yang seragam membuat band berlomba-lomba untuk
menjadi seragam. Di sini media punya peran besar
dalam membentuk selera pasar. Jangan cuma
menyalahkan band atau media juga, kita semua ikut
terlibat kok dalam kemunduran ini. Dan tidak ada
gunanya mengeluh, lebih baik lakukan sesuatu yang
besar dan hajar kemunduran sampai titik penghabisan.
6)
Sebagai ben, apa kalian
memerlukan sebuah imej/citra?
Jrx:
Jika kamu ingin meraih langit, citra sangat
signifikan karena setiap band memerlu-kan wajah. Sama
seperti manusia, wajah [citra] ini ber-fungsi untuk
dijadikan kekuatan yang membedakan-mu dengan band/manusia
yang lain. Dan citra tidak harus identik dengan
fashion. Attitude, movement, lirik, dll
bisa menjadi citra/wajah setiap band.
7)
Apa yang membuat SID lebih
terekspos dari ben-ben Bali lainnya? Apakah di Bali
tidak memiliki basis media yang kuat (khususnya
untuk musik cutting-edge)? Atau kalian merasa ada
sentralisme pada permusikan Indonesia?
Jrx:
Yup, Bali belum memiliki basis media yang kuat.
Semua masih terpusat di Jakarta. SID terekspos
karena kami melakukan sesuatu yang layak di-ekspos.
Bukan karena skandal infotainment pastinya.
8)
Seandainya SID tak berlanjut, mungkin kalian tak
akan merealisasikan mimpi agung-nya, yaitu tur
Amerika. Ada 2 tur lagih! Pada tur Vans Warped kalian cuma tampil
sebagai ben ‘ecek-ecek’ (baca: kurang famous)
sedangkan di tur From Bali with Rock kalian hadir
sebagai headliner. Apa
perbedaan yang kalian rasakan dari 2 tur tersebut?
Dan setelah merasakan panggung bergengsi dalam
festival dunia, apa yang berbeda dari event-event
lainnya?
Jrx:
Tidak ada perbedaan besar karena di US walaupun kami
headliner, tetap saja orang sana mostly
tidak tahu SID. Faktor perjuangannya sangat dominan.
Perbedaan event internasional dengan event lainnya
lebih pada disiplin waktu yang akurat dan masalah
kebersihan. Orang Indonesia harus lebih sadar
kebersihan dan menghilangkan kebiasaan jam karet.
9)
Saya teringat statement dari promoter
lokal ternama, bahwa yang membuat ben-ben Indonesia
sulit go international
adalah perkara bahasa/lirik. Tapi dengan berhasilnya
SID tur ke Amerika telah melabrak argument-argumen
yang sama. Kalo bagi kalian, apa yang membuat
ben-ben lokal susah tembus ke skala dunia? Atau,
semua itu memang ada faktor keberuntungan juga?
Jrx:
Hukum alam. Mungkin karena memang belum waktunya.
Jika harus terjadi, pasti akan terjadi.
Everything happens for a reason.
10)
Secara kultur musik, kalian
kan juga mengadopsi budaya luar. Tapi selama tur di
Amerika kalian merasa ada penilaian
‘dibanding-bandingkan’ ‘ga?
Jrx:
Gak ada, mungkin publik AS sudah melewati fase 'membanding-bandingkan'
band ini dengan band itu. Mereka lebih kepada sikap
take it or leave it. Jika suka, mereka
tunjukkan dukungan, jika tidak suka ya mereka pergi.
Fair dan gak banyak basa basi seperti di
Indonesia.
“Lebih
baik perbaiki dulu negara kita, benahi sistem pendidikan dan kesehatan
untuk warga miskin, kurangi jumlah pengangguran. Kalau sudah kuat baru
kita bicara perang.”
11)
SID pernah buat DVD tur
Australia. Ada rencana tur Amerika kemarin dibuatkan
DVD-nya juga? Kalo iya, kapan dirilis?
Jrx:
Sedang di-edit, mudah-mudahan rilis sebelum 2010.
12)
Ehm! Selama tur Amerika
kemarin kalian dapet groupis ‘ga?
Jrx:
No comment.
13)
Sebelumnya, sejauhmana kalian mengetahui
fanbase SID di luar
Indonesia, terutama Amerika?
Jrx:
Kami mengetahuinya lewat Myspace, ada beberapa warga
AS yang menyimak perjalanan SID dan memesan
merchandise/CD untuk dikirim ke AS. Walaupun
jumlahnya tidak fantastis, lumayanlah daripada tidak
ada sama sekali.
14)
Baru-baru ini SID
mendeklarasikan para “Outsiders” wanita dengan
sebutan “Lady Rose”. Ada alasan khusus?
Jrx:
Agar wanita dalm dunia punkrock lebih dihargai dan
dilindungi. Tidak dianggap sebagai pelengkap saja
karena sejatinya peran mereka juga besar. Selain itu
juga untuk mengikis image 'machoisme' yang
berlebihan dalam punkrock. Kami sudah muak dengan
stigma punkrock itu simbol kekerasan/kejantanan. Itu
semua omong kosong manusia-manusia berpikiran sempit.
Punkrock tidak mengenal jenis kelamin, ras, dan
strata sosial. Punkrock ada untuk semua manusia
tanpa terkecuali. Miskin-kaya tua-muda laki-perempuan, semua bebas menikmati punkrock.
15)
Banyak ben-ben luar (terutama yang
cutting-edge) lebih
mengharapkan ‘pemasukannya’ dari hasil tur dibanding
penjualan album. Kalian sendiri bagaimana?
Jrx:
Sama.
16)
Dengan partisipasi kalian
dalam tur Vans Warped, ini tentu menambah reputasi
kalian. Dengan begitu, apa ‘bayaran’ kalian juga
naik?
Jrx:
Tergantung acaranya. Kemarin konser amal untuk
Padang kita tidak dibayar dan ikut menyumbangkan
donasi dalam bentuk lelang t-shirt/CD SID. Tapi
kalau acaranya memang komersial dan disponsori
korporat besar, kenapa harus malu meminta bagian
yang besar juga. Realistis tidak ada salahnya.
17)
Melihat style kalian yang rockabilly,
jelas SID punya influens sisi western yang cukup kuat. Tapi saat tur Vans Warped kalian mengenakan
pakaian adat Bali. Apa ini hanya pendomplengan
identitas aja supaya mendapat simpatik? Bukankah
sebelumnya kalian mengumbar nilai-nilai be
yourself?
Jrx:
Pertanyaanmu agak norak sebenarnya [hehehe-red]
but anyway, kita memakai pakaian adat Bali
karena beberapa alasan; 1. Publik AS tidak tahu
Bali/Indonesia itu seperti apa dan pakaian adat bisa
menjadi penegas darimana kita berasal. 2. Posisi
kita di sana sebagai duta Indonesia dan tour kita
memang bertujuan mempromosikan Bali/Indonesia. 3.
Kita tetap menjadi diri sendiri karena di Bali kita
sering memakai pakaian adat untuk beberapa acara
yang bersifat adat.
18)
Bagaimana pengklaiman
budaya atas negara lain yang belum lama ini terjadi,
bahkan tari Pendet dari Bali sempat kena imbasnya.
Jrx:
Basi. Tiba-tiba semua orang menjadi patriotik
berlebihan. Tidak mau melihat fenomena ini lebih
luas dan bijak. Maunya perang dan perang. Lebih baik
perbaiki dulu negara kita, benahi sistem pendidikan
dan kesehatan untuk warga miskin, kurangi jumlah
pengangguran. Kalau sudah kuat baru kita bicara
perang. Tapi SID tidak pernah mendukung perang.
Perang tidak pernah menyelasaikan masalah tapi
menambah masalah. Buktinya sudah banyak: Iraq,
Israel, Palestina. Semua masalah bisa diselesaikan
tanpa harus menghilangkan nyawa manusia-manusia
tidak bersalah. Fuck war!
19)
Seandainya Bali berpisah
dari Indonesia dan menjadi negara tunggal, kalian
sepakat ngga?
Jrx:
Haha. Gak mau dan gak mungkin bisa, listrik saja
Bali masih tergantung sama Jawa. Cuma orang gila
yang berpikir Bali bisa menjadi negara tunggal
karena faktanya Bali masih sangat tergantung dengan
propinsi-propinsi lain di Indonesia.
20)
Pernah ngga kalian ditolak
orang tua pacar karena penampilan kalian yang rock n
roll?
Jrx:
No comment.
21)
Ok. Ada yang ingin ditambahkan?
Jrx:
Jaga dan hormati bumi ini maka ia akan membalasnya
dengan cinta. Masa depan semesta ini kita semua yang
menentukan.