Seandainya
saya tidak 'geratakan' saat mengunduh rilisan-rilisan netlabel yesnowave.com, mungkin saya ngga akan tau band mengagumkan asal Jogja ini. Sungguh tak
menyangka, ternyata ada karya anak bangsa semacam 'ini'. Suer!
Saya hanya
bisa tercengang dan jatuh takluk dibuatnya. Bermodal instrumen bas-dram-vokal
saja, Zoo mampu mengemas komposisi yang math, grind, ethnic, free jazz,
dan uuuuhhh... Rasakan sendiri sensasinya! Saya jadi semakin curious
dengan album terbaru Zoo yang segera dirilis nanti.
Ok, simak
langsung perbincangan hangat kami via email dengan si vokalis yang hanya
dibalas 2 hari saja. Wahh, namanya juga band keren, mau diliat darimana
juga keren hehehe.
BIOGRAFI
Dalam kosakata bahasa Inggris, "zoo"
diartikan sebagai "kebun binatang". Yakni suaka bagi
segala jenis binatang yang dirasa perlu dilestarikan,
atau objek wisata manusia dimana di dalamnya
binatang bisa dipertontonkan sebagai wahana hiburan.
Secara filosofis, kebun binatang juga merupakan
refleksi kebudayaan manusia modern yang berpusat di
satu lokasi –jika tidak ingin disebut suaka- namun
hidup terpisah satu sama lain dan terpola berdasar
sistem yang diterapkan di lokasi tersebut.
Kebun binatang tidak berbeda secara konsep dengan
peradaban manusia, yakni tempat berlindung kita dari
segala macam bentuk ketakutan dan hukum keliaran,
namun merupakan sistem yang memenjarakan, tempat
yang menjadikan kita tontonan yang disempurnakan.
Zoo sudah merupakan proyek yang dirancang di tahun
2004 dan akhirnya berhasil terwujud satu tahun
sesudahnya. Zoo melakukan persilangan kontras antara
beragam musik yang kemudian dibalut dengan
eksplorasi suara. Meramu bermacam unsur yang
dianggap perlu dari musik rock hingga tradisional.
Zoo ingin keluar dari kerangkeng dan kembali ke
hutan, dimana di sana tiada sistem dan aturan yang
mutlak…melainkan keliaran semata.
Tema yang mendasari penciptaan lirik-lirik lagu Zoo
berkisar tentang peradaban modern, kesempurnaan
sekaligus ketakutan manusia, kemerosotan akar-akar
kebudayaan akibat modernisasi juga beberapa tema
yang berusaha membangkitkan kesadaran akan
pentingnya keberanian dan kelaki-lakian. Zoo adalah
misi bawah tanah yang merencanakan pelarian dari
kebun binatang menuju alam bebas yang tak terbatas
dan kemerdekaan sejati.
UPCOMING FIRST
ALBUM
"Keringat Nafas Dengung"
(first album)
Wawancara dengan Rully
(R)
1) Gimana
kabar teman-teman Zoo sekarang… Sebelumnya, bisa ceritakan ihwal
terbentuknya ZOO? Band berkarakter seperti Zoo memang jarang (atau
mungkin belum ada) di Indonesia (like in vein of Naked City, I guess).
Apakah kalian memang ingin hadir dengan sesuatu yang berbeda atau,
gimana… Yang jelas saya melihat band ini memang dibangun dengan ide.
R: Kabar baik.
Makasih.
Zoo awal terbentuk
2005. Waktu itu masih berformat biasa, ada gitar. Noise pula. Musiknya
pun masih meraba-raba. Tapi akhirnya diputuskan untuk gitarnya
ditiadakan dan menggunakan 2 drum secara bergantian. Semenjak itu,
eksplorasi jadi semakin terbuka ke arah yang lebih jelas.
2) Saya sama
sekali tidak memuji, tapi saya berkata jujur kalau musik kalian memang
mengagumkan. Bermodal instrumen bass dan dram saja, kalian dapat
menciptakan aransemen yang math, chaotic, noise, folk, dan free style
jazz. Bisakah kalian mendeskripsikan sound Zoo buat mereka yang belum
dengar?
R: Saya juga berkata
jujur kalo saya banyak tidak mengerti pembedaan jenis aliran yang memang
beragam sekali. Zoo sendiri konsepnya sederhana, bas-drum-vokal. Hanya
saja sebisa mungkin menghindari pemilihan nada yang umum; pukulan drum
yang beatnya tertebak, dan penggalan serta cengkok vokal yang tipikal.
3) Di jaman
semakin canggih ini, banyak orang berinstrumen dengan seperangkat
software komputer. Tapi kalian cenderung memilih alat-alat musik
tradisionil, seperti Djembe misalnya. Apakah memang ingin terkesan folk
gitu atau memang kaliannya yang “gaptek” (gagap teknologi-red) hehehe…
R: Hehe, memang
betul, gaptek. Kalo saja saya bisa maen turntable yang canggih itu, Zoo
pasti bakal ajep-ajep juga.
Djembe contohnya,
itu menyesuaikan lagu. Lagunya lah yang membutuhkan. Jadi bukan
dipas-pas in harus masukin djembe.
4) Selain itu,
teknik vokal bernyanyi cukup unik. (Kalo kata saya mah mirip suku
Dayak/Indian hehehe…) Apa ada latihan privat untuk bernyanyinya?
Biasanya
berapa lama kalian membuat lagu-lagu Zoo dan apa kendalanya? Lalu apa
saja refrensi selama ini? Tentunya untuk menghadirkan yang “tidak biasa”
itu cukup memutar otak…
R: Vokal kan
instrumen juga. Jadi perlakuannya pun tidak boleh dibedakan. Itu
sebabnya penting sekali memikirkan penggalan, nada, dan cara bernyanyi
yang tidak sering digunakan, walaupun bakal terdengar aneh nantinya.
Lagu-lagu Zoo
dilahirkan dari jam session di studio yang kemudian diolah kembali dan
diformalkan.
5) Tidak
berhenti di situ, lirik-lirik Zoo pun dikemas puitis. Tapi sebenarnya
apa pesan Zoo yang ingin diutarakan? Apakah juga bersifat abstrak &
nihilis tipikal band-band math tawarkan?
R: Lirik merupakan
inti dan misi utama Zoo. Jadi sama sekali jauh dari abstraksi dan
nihilisme. Bahkan sebaliknya, justru terkonsep secara cermat. Semua
lirik berkisar mengenai peradaban modern yang semakin menjauhkan manusia
dari alam dan keliaran. Baik lagu Zoo yang baru maupun lama semuanya
berpijak pada tema besar ini. Hanya saja penyajiannya berupa puisi
sehingga butuh sedikit penginterpretasian dalam memahaminya. Dan nama
band “Zoo”, judul demo “Kebun Binatang”, serta ilustrasi sampul semuanya
saling berkesinambungan demi mempertegas tema yang kami usung.
6) Demo pertama Zoo “Kebun Binatang” dirilis oleh netlabel (pertama di
Indonesia), YESNOWAVE dengan format mp3/ogg dan bisa didonlod gratis.
Konsep seperti ini tentu rawan sekali dengan arena pembajakan. So,
apakah motivasi dirilis seperti ini hanya sebagai sarana distribusi atau
memang kalian juga “anti-copyright”?
R: Band yang merilis
lagu-lagunya di netlabel berarti membolehkan lagunya untuk dibajak,
bukan?
7) Kita semua
tau untuk eksis (apalagi sampai tingkatan mencari duit) di dunia musik
Indonesia itu parameternya yang easy listening, catchy, gampang dicerna
(pokoknya yang komersil deh…). Ngga perlu lah lingkup yang mayor, kadang
yang minor pun saja masih melihat yang konvensional atau yang lagi “in”.
Namun kalian muncul melabrak itu semua. Sebab untuk sekedar eksis saja
kita ngga cukup “modal” doang kan, banyak sarana yang mesti memadai,
jadi faktornya cukup kompleks.
Nah, apa
manajemen kalian menyiasati kondisi seperti ini? Atau memang Zoo ini
masa transisi kalian…bila sudah jenuh, lalu tinggal saja.
R: Zoo itu band,
bukan lahan bisnis. Saya pribadi selalu beranggapan bahwa band itu tidak
beda dengan berkarya dalam seni yang lain. Berekspresi, bukan
berkompromi. Berkarya, bukan berbisnis. Memang benar, perlu adanya
manajemen yang baik, tapi itu semata-mata hanya untuk memperlanjar
jalan. Jika tadi anda bilang, ngeband itu butuh modal, memang benar.
Makanya cari duitnya di tempat lain. Nah, duitnya lantas buat band. Kalo
ternyata dari band bisa menghasilkan, itu hanya efek. Tidak bisa
dihindari. Sama seperti karya seni yang lain, bukan? Jadi, alangkah
dangkalnya jika berpikir bahwa karya bisa dikompromikan hanya karena
pengen balik modal. Itu sebabnya karya lukis yang dijual di pinggiran
Malioboro, walau bagus, tak pernah dianggap sebagai karya seni yang
eksklusif. Mereka berkompromi.
“Zoo itu band,
bukan lahan bisnis... alangkah
dangkalnya jika berpikir bahwa karya bisa dikompromikan hanya karena
pengen balik modal”
8) Gimana jam
terbang Zoo, apakah sering manggung? Untuk promo album barunya, akankah
ada launching ke beberapa kota? Sungguh, saya sangat penasaran ingin
menyaksikan performance kalian hehehe….
R: Zoo band yang jarang sekali manggung. Sejauh ini pentas kami hanya di acara-acara
kecil yang diselenggarakan teman sendiri, tujuh belasan, acara launching
band teman, atau bahkan sekali di acara diskusi.
9) Kabarnya,
personil Zoo ada yang menerbitkan buku. Bisa ceritakan proyek ini?
Adakah korelasinya dengan lirik-lirik Zoo sebagai interpretasi yang
lebih jauh? Apa sih aktifitas kalian di luar Zoo?
R: Buku-buku
tersebut diterbitkan sebelum era Zoo dan tidak ada korelasinya sama
sekali dengan Zoo.
Aktifitas kami di
luar band, pemain basnya sedang menyelesaikan kuliah sebentar lagi,
dramernya ada yang pengangguran dan satunya jualan stik drum. Vokalisnya
sibuk cari nafkah di pekerjaan yang sangat sangat formal.
10) Ok, kita
buka wacana lain. Setiap manusia memiliki namanya “harapan”. Untuk
mendapatinya, banyak mereka yang kerja keras, banting tulang (tulang
dibanting-banting), mesti begini-mesti begitu, bla-bla-bla… Bahkan kalo
tidak kesampaian. ada yang stress, putus asa, bahkan bunuh diri, dsb.
Namun bila kita kritisi, harapan tersebut timbul karena ada yang
“memancing”. So, kalian sendiri bagaimana menggapai harapan itu? Apabila
tidak tercapai, akankah terus berusaha atau tinggalkan saja?
R: Berusaha. Kan
masih muda
11) Kalian merasa ga kalo hidup ini dibangun dengan “citra”? (Saya sedikit mengutip
kalimat editor salah satu zine: “sepertinya ada sesuatu yang tidak beres
di dunia ini” hehehe...)
R: Citra terbangun
dengan sendirinya dari jalan hidup yang kita pilih. Betul tidak?
12) Mengingat
asal kalian dari Jogjakarta, saya hanya tersugesti dengan dunia
seni-senian. (Yang mana kota ini banyak mencetak seniman, betul ga?!)
Apakah kalian juga dekat dengan hal-hal seperti itu (seni)? Menurut
kalian apa sih esensi seni itu? Apa kalian juga memiliki definisi
sendiri soal seni? Atau memang ini permainan yang paling jago tukang
tipu… Yang jelas, seni bukanlah milik institusi.
R: Seni itu apa
ya... Mengutip pelajaran kesenian SD, seni itu adalah karya yang
dihasilkan manusia.
13) Saya
memandang orang idealis itu adalah orang egois. But, itu prinsip dan
kita mesti hargai. Namun karena gesekan/benturan dunia, banyak juga
idealisnya meluntur.
Pada penawaran
opsi, kalian lebih pilih mana, menjadi orang yang mempertahankan
idealisme namun kompromi atau kamu melepaskan idealisme itu sendiri
namun bisa masuk ruang manapun?
R: Berusaha masuki
wilayah yang tidak akan bersentuhan dengan idealisme. Dengan begitu
idealisme tidak akan tercampur aduk dan milik kita sendiri. Tapi pribadi
saya bilang, idealisme tidak seharusnya dikompromikan.
14) Balik lagi
ke album. Sekarang ini Zoo dalam tahapan merampung album perdana. Bisa
kasih tau proses rekamannya, adakah hal yang menarik untuk diceritakan?
(Mungkin Zoo ada memasukan unsur etnik atau kolaborasi dengan musisi
lain, gitu…)
R: Materi baru sudah
selesai direkam dan tinggal tunggu kelanjutannya. Ada dua lagu kami
mengundang teman untuk mengisi gitar akustik. Musiknya tetap kenceng,
namun atmosfir etnisnya lebih tampak.
15) Ok, terimakasih atas jawabannya. Ada yang ingin ditambahkan, mungkin.
Bagaimana caranya dapat berkomunikasi dengan Zoo?