LINE-UP

RULK - vokal, djembe

BHKT - bas

OBT - dram

DMEX - dram

 GENRE

Free style, ethnic, free jazz, math.

 DISCOGRAPHY

Kebun Binatang [EP, 2008]

Keringat Nafas Dengung [upcoming]

 CONTACT

 

 INTRODUKSI

 

Seandainya saya tidak 'geratakan' saat mengunduh rilisan-rilisan netlabel yesnowave.com, mungkin saya ngga akan tau band mengagumkan asal Jogja ini. Sungguh tak menyangka, ternyata ada karya anak bangsa semacam 'ini'. Suer!

Saya hanya bisa tercengang dan jatuh takluk dibuatnya. Bermodal instrumen bas-dram-vokal saja, Zoo mampu mengemas komposisi yang math, grind, ethnic, free jazz, dan uuuuhhh... Rasakan sendiri sensasinya! Saya jadi semakin curious dengan album terbaru Zoo yang segera dirilis nanti.

Ok, simak langsung perbincangan hangat kami via email dengan si vokalis yang hanya dibalas 2 hari saja. Wahh, namanya juga band keren, mau diliat darimana juga keren hehehe.

 BIOGRAFI

Dalam kosakata bahasa Inggris, "zoo" diartikan sebagai "kebun binatang". Yakni suaka bagi segala jenis binatang yang dirasa perlu dilestarikan, atau objek wisata manusia dimana di dalamnya binatang bisa dipertontonkan sebagai wahana hiburan. Secara filosofis, kebun binatang juga merupakan refleksi kebudayaan manusia modern yang berpusat di satu lokasi –jika tidak ingin disebut suaka- namun hidup terpisah satu sama lain dan terpola berdasar sistem yang diterapkan di lokasi tersebut.

Kebun binatang tidak berbeda secara konsep dengan peradaban manusia, yakni tempat berlindung kita dari segala macam bentuk ketakutan dan hukum keliaran, namun merupakan sistem yang memenjarakan, tempat yang menjadikan kita tontonan yang disempurnakan.

Zoo sudah merupakan proyek yang dirancang di tahun 2004 dan akhirnya berhasil terwujud satu tahun sesudahnya. Zoo melakukan persilangan kontras antara beragam musik yang kemudian dibalut dengan eksplorasi suara. Meramu bermacam unsur yang dianggap perlu dari musik rock hingga tradisional. Zoo ingin keluar dari kerangkeng dan kembali ke hutan, dimana di sana tiada sistem dan aturan yang mutlak…melainkan keliaran semata.

Tema yang mendasari penciptaan lirik-lirik lagu Zoo berkisar tentang peradaban modern, kesempurnaan sekaligus ketakutan manusia, kemerosotan akar-akar kebudayaan akibat modernisasi juga beberapa tema yang berusaha membangkitkan kesadaran akan pentingnya keberanian dan kelaki-lakian. Zoo adalah misi bawah tanah yang merencanakan pelarian dari kebun binatang menuju alam bebas yang tak terbatas dan kemerdekaan sejati.

UPCOMING FIRST ALBUM

"Keringat Nafas Dengung"

(first album)

 

Wawancara dengan Rully (R)

 

1) Gimana kabar teman-teman Zoo sekarang… Sebelumnya, bisa ceritakan ihwal terbentuknya ZOO? Band berkarakter seperti Zoo memang jarang (atau mungkin belum ada) di Indonesia (like in vein of Naked City, I guess). Apakah kalian memang ingin hadir dengan sesuatu yang berbeda atau, gimana… Yang jelas saya melihat band ini memang dibangun dengan ide.

R: Kabar baik. Makasih.

Zoo awal terbentuk 2005. Waktu itu masih berformat biasa, ada gitar. Noise pula. Musiknya pun masih meraba-raba. Tapi akhirnya diputuskan untuk gitarnya ditiadakan dan menggunakan 2 drum secara bergantian. Semenjak itu, eksplorasi jadi semakin terbuka ke arah yang lebih jelas.

 

2) Saya sama sekali tidak memuji, tapi saya berkata jujur kalau musik kalian memang mengagumkan. Bermodal instrumen bass dan dram saja, kalian dapat menciptakan aransemen yang math, chaotic, noise, folk, dan free style jazz. Bisakah kalian mendeskripsikan sound Zoo buat mereka yang belum dengar?

R: Saya juga berkata jujur kalo saya banyak tidak mengerti pembedaan jenis aliran yang memang beragam sekali. Zoo sendiri konsepnya sederhana, bas-drum-vokal. Hanya saja sebisa mungkin menghindari pemilihan nada yang umum; pukulan drum yang beatnya tertebak, dan penggalan serta cengkok vokal yang tipikal.

 

3) Di jaman semakin canggih ini, banyak orang berinstrumen dengan seperangkat software komputer. Tapi kalian cenderung memilih alat-alat musik tradisionil, seperti Djembe misalnya. Apakah memang ingin terkesan folk gitu atau memang kaliannya yang “gaptek” (gagap teknologi-red) hehehe…

R: Hehe, memang betul, gaptek. Kalo saja saya bisa maen turntable yang canggih itu, Zoo pasti bakal ajep-ajep juga.

Djembe contohnya, itu menyesuaikan lagu. Lagunya lah yang membutuhkan. Jadi bukan dipas-pas in harus masukin djembe.

 

4) Selain itu, teknik vokal bernyanyi cukup unik. (Kalo kata saya mah mirip suku Dayak/Indian hehehe…) Apa ada latihan privat untuk bernyanyinya?

Biasanya berapa lama kalian membuat lagu-lagu Zoo dan apa kendalanya? Lalu apa saja refrensi selama ini? Tentunya untuk menghadirkan yang “tidak biasa” itu cukup memutar otak…

R: Vokal kan instrumen juga. Jadi perlakuannya pun tidak boleh dibedakan. Itu sebabnya penting sekali memikirkan penggalan, nada, dan cara bernyanyi yang tidak sering digunakan, walaupun bakal terdengar aneh nantinya.

Lagu-lagu Zoo dilahirkan dari jam session di studio yang kemudian diolah kembali dan diformalkan.

 

5) Tidak berhenti di situ, lirik-lirik Zoo pun dikemas puitis. Tapi sebenarnya apa pesan Zoo yang ingin diutarakan? Apakah juga bersifat abstrak & nihilis tipikal band-band math tawarkan?

R: Lirik merupakan inti dan misi utama Zoo. Jadi sama sekali jauh dari abstraksi dan nihilisme. Bahkan sebaliknya, justru terkonsep secara cermat. Semua lirik berkisar mengenai peradaban modern yang semakin menjauhkan manusia dari alam dan keliaran. Baik lagu Zoo yang baru maupun lama semuanya berpijak pada tema besar ini. Hanya saja penyajiannya berupa puisi sehingga butuh sedikit penginterpretasian dalam memahaminya. Dan nama band “Zoo”, judul demo “Kebun Binatang”, serta ilustrasi sampul semuanya saling berkesinambungan demi mempertegas tema yang kami usung.

 

6) Demo pertama Zoo “Kebun Binatang” dirilis oleh netlabel (pertama di Indonesia), YESNOWAVE dengan format mp3/ogg dan bisa didonlod gratis. Konsep seperti ini tentu rawan sekali dengan arena pembajakan. So, apakah motivasi dirilis seperti ini hanya sebagai sarana distribusi atau memang kalian juga “anti-copyright”?

R: Band yang merilis lagu-lagunya di netlabel berarti membolehkan lagunya untuk dibajak, bukan?

 

7) Kita semua tau untuk eksis (apalagi sampai tingkatan mencari duit) di dunia musik Indonesia itu parameternya yang easy listening, catchy, gampang dicerna (pokoknya yang komersil deh…). Ngga perlu lah lingkup yang mayor, kadang yang minor pun saja masih melihat yang konvensional atau yang lagi “in”. Namun kalian muncul melabrak itu semua. Sebab untuk sekedar eksis saja kita ngga cukup “modal” doang kan, banyak sarana yang mesti memadai, jadi faktornya cukup kompleks.

Nah, apa manajemen kalian menyiasati kondisi seperti ini? Atau memang Zoo ini masa transisi kalian…bila sudah jenuh, lalu tinggal saja.

R: Zoo itu band, bukan lahan bisnis. Saya pribadi selalu beranggapan bahwa band itu tidak beda dengan berkarya dalam seni yang lain. Berekspresi, bukan berkompromi. Berkarya, bukan berbisnis. Memang benar, perlu adanya manajemen yang baik, tapi itu semata-mata hanya untuk memperlanjar jalan. Jika tadi anda bilang, ngeband itu butuh modal, memang benar. Makanya cari duitnya di tempat lain. Nah, duitnya lantas buat band. Kalo ternyata dari band bisa menghasilkan, itu hanya efek. Tidak bisa dihindari. Sama seperti karya seni yang lain, bukan? Jadi, alangkah dangkalnya jika berpikir bahwa karya bisa dikompromikan hanya karena pengen balik modal. Itu sebabnya karya lukis yang dijual di pinggiran Malioboro, walau bagus, tak pernah dianggap sebagai karya seni yang eksklusif. Mereka berkompromi.


Zoo itu band, bukan lahan bisnis...  alangkah dangkalnya jika berpikir bahwa karya bisa dikompromikan hanya karena pengen balik modal


8) Gimana jam terbang Zoo, apakah sering manggung? Untuk promo album barunya, akankah ada launching ke beberapa kota? Sungguh, saya sangat penasaran ingin menyaksikan performance kalian hehehe….

R: Zoo band yang jarang sekali manggung. Sejauh ini pentas kami hanya di acara-acara kecil yang diselenggarakan teman sendiri, tujuh belasan, acara launching band teman, atau bahkan sekali di acara diskusi.

 

9) Kabarnya, personil Zoo ada yang menerbitkan buku. Bisa ceritakan proyek ini? Adakah korelasinya dengan lirik-lirik Zoo sebagai interpretasi yang lebih jauh? Apa sih aktifitas kalian di luar Zoo?

R: Buku-buku tersebut diterbitkan sebelum era Zoo dan tidak ada korelasinya sama sekali dengan Zoo.

Aktifitas kami di luar band, pemain basnya sedang menyelesaikan kuliah sebentar lagi, dramernya ada yang pengangguran dan satunya jualan stik drum. Vokalisnya sibuk cari nafkah di pekerjaan yang sangat sangat formal.

 

10) Ok, kita buka wacana lain. Setiap manusia memiliki namanya “harapan”. Untuk mendapatinya, banyak mereka yang kerja keras, banting tulang (tulang dibanting-banting), mesti begini-mesti begitu, bla-bla-bla… Bahkan kalo tidak kesampaian. ada yang stress, putus asa, bahkan bunuh diri, dsb. Namun bila kita kritisi, harapan tersebut timbul karena ada yang “memancing”. So, kalian sendiri bagaimana menggapai harapan itu? Apabila tidak tercapai, akankah terus berusaha atau tinggalkan saja?

R: Berusaha. Kan masih muda

 

11) Kalian merasa ga kalo hidup ini dibangun dengan “citra”? (Saya sedikit mengutip kalimat editor salah satu zine: “sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di dunia ini” hehehe...)

R: Citra terbangun dengan sendirinya dari jalan hidup yang kita pilih. Betul tidak?

 

12) Mengingat asal kalian dari Jogjakarta, saya hanya tersugesti dengan dunia seni-senian. (Yang mana kota ini banyak mencetak seniman, betul ga?!) Apakah kalian juga dekat dengan hal-hal seperti itu (seni)? Menurut kalian apa sih esensi seni itu? Apa kalian juga memiliki definisi sendiri soal seni? Atau memang ini permainan yang paling jago tukang tipu… Yang jelas, seni bukanlah milik institusi.

R: Seni itu apa ya... Mengutip pelajaran kesenian SD, seni itu adalah karya yang dihasilkan manusia.

 

13) Saya memandang orang idealis itu adalah orang egois. But, itu prinsip dan kita mesti hargai. Namun karena gesekan/benturan dunia, banyak juga idealisnya meluntur.

Pada penawaran opsi, kalian lebih pilih mana, menjadi orang yang mempertahankan idealisme namun kompromi atau kamu melepaskan idealisme itu sendiri namun bisa masuk ruang manapun?

R: Berusaha masuki wilayah yang tidak akan bersentuhan dengan idealisme. Dengan begitu idealisme tidak akan tercampur aduk dan milik kita sendiri. Tapi pribadi saya bilang, idealisme tidak seharusnya dikompromikan.

 

14) Balik lagi ke album. Sekarang ini Zoo dalam tahapan merampung album perdana. Bisa kasih tau proses rekamannya, adakah hal yang menarik untuk diceritakan? (Mungkin Zoo ada memasukan unsur etnik atau kolaborasi dengan musisi lain, gitu…)

R: Materi baru sudah selesai direkam dan tinggal tunggu kelanjutannya. Ada dua lagu kami mengundang teman untuk mengisi gitar akustik. Musiknya tetap kenceng, namun atmosfir etnisnya lebih tampak.

 

15) Ok, terimakasih atas jawabannya. Ada yang ingin ditambahkan, mungkin. Bagaimana caranya dapat berkomunikasi dengan Zoo?

R: Lewat email lihatkebunbinatangku@yahoo.com atau www.myspace.com/zoo_indonesia

Makasih juga.

(April '08).

Interview: Hardy | Artwork: Zoo.doc