MENU

150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa

ROXX: Metallica Buatan Indonesia

TUR MACBETHxCROOZ 5 KOTA

IRVAN "ROTOR": Ngga Mau Bikin Album Nasyid

MXPX All Stars: Konser MXPX Bersama Para Pentolan Pop-Punk
LADY GAGA: Mini Album Monster

CLUB EIGHTIES: Kembalinya Klub '80

OST. SANG PEMIMPI: Selusin Lagu Tentang Mimpi

TOTAL CHAOS: "Riot City in Indonesia"

The Video Show


PAGE: | | | |

 PRODUCT

"150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa

versi Rolling Stone Lokal"

 

Awal 2009, edisi Rolling Stone Amerika men-sahihkan "100 Penyanyi Terbaik Sepanjang Masa". Sebagai majalah francais, maka Rolling Stone Indonesia (RSI) pun melakukan hal serupa dari pionirnya. Di penghujung 2009 ini, RSI menerbitkan (lagi) edisi khusus "150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa". Tahun-tahun sebelumnya, RSI juga menerbitkan beberapa edisi spesial, yaitu: "150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa" (2007) dan "The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa" (2008).

Penobatan "150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa" adalah perundingan panjang para editor RSI dalam memilah lagu di histori musik Indonesia selama 50 tahun terakhir. Dalam penentuan lagu, RSI juga melibatkan beberapa voter, a.l; jurnalis/pengamat musik, Denny MR atau Denny Sakrie untuk genre musik '80-an ke bawah.

Hanya saja, penekanan kata 'sepanjang masa' berbuntut sengekta. Baik musisi ataupun penikmat lagu, yang terpilih hanya bisa tersenyum dan yang tak terwakili hanya bisa cemberut. Bicara soal musik, tentu tak lepas dari selera seseorang. Dan lagi, namanya selera memang tak bisa dipaksakan. Karena subjektifitas selalu menyertai. Jadi, seperti dogma, seolah hanya satu keyakinan saja yang benar dan yang lainnya bakal nyemplung ke neraka.

Demi waktu yang terbatas, RSI terlalu sesumbar menentukan statistik genap untuk representasi sepanjang masa meski pihak RSI menyatakan berdasarkan fakta empirik. Tapi, pada penobatan Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa kok juga mengacu angka '150'? Lalu, bagaimana penentuan musik Indonesia untuk 50/100 tahun mendatang? Apa akan ada "150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa" periode ke-2? Atau dengan adanya penobatan ini, maka tidak ada lagi lagu/album yang layak ditentukan untuk generasi Indonesia selanjutnya? Ini terkesan para editor RSI percaya kalau umur dunia seperti film "2012" –yang versi kami adalah “film konyol sepanjang masa”.

Memang, berbicara pro-kontra sama saja beradegan debat kusir yang amatir. Dan pihak RSI pun sudah meramal terjadinya hal tersebut. Kami, sebagai media musik -atau media musik lainnya- juga ingin bersikap netral tanpa terpaku pada satu pilihan. How about just take it or leave it, deal?

Maka, agar lebih mudah diterima, anggap saja "150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa" memang versi RSI semata. Jadi, setiap individu atau siapapun bisa merunut playlist sesuai seleranya masing-masing tanpa menundukan opini publik. Lagipula, parameternya toh RSI yang buat, jadi sah-sah saja mereka mau menentukan apa.

Pada paska pemilihan presiden periode terbaru, saya coba beranekdot seolah penulis yang menjadi objeknya. Ketika anda bertanya: “Siapa presiden RI sekarang?” Sebagai rakyat, saya mengakui dan menjawab: “Presiden RI sekarang adalah SBY. Tapi, saya tidak memilihnya.”

Posted: Jurnallica

 REPORT

ROXX

"Metallica Buatan Indonesia"

 

Rabu malam (2/12), orga-nizer Ibnu Jagger menggarap kembali acara Tribut METALLICA bersama ROXX. Acara tribut biasanya digelar sesekali saja. Namun malam itu, sudah ketiga kalinya dengan konsep acara yang sama. Untuk ben lokal, ROXX jadi seperti ben spesialisasi pelantun lagu-lagu Metallica. Seperti jeruk minum jeruk.

Mulai acara jam 11 malam rasanya terlalu larut untuk 'masyarakat produktif' yang aktif di pagi hari. Namun dari lorong Rock café yang seperti 'gudang' bawah tanah, ROXX baru menggemakan distorsi-distorsi liarnya. Semakin malam, semakin metal! “Ih, ada anak pop di acara metal,” celetuk gitaris Jaya. Cela canda itu sebenarnya ditujukan untuk Cliff, gitaris Clubeighties yang baru tiba di depan panggung. Yang dicela hanya bisa cengengesan. Di luar proyek ROXX, Jaya juga berperan sebagai music director untuk album terbaru Clubeighties, “80 Kembali”.

Sebagai suguhan selama 2 setengah jam, ROXX menyajikan puluhan lagu dari jejeran song list Metallica, seperti; Unforgiven, Sad But True, Nothing Else Matter, Sanatarioum, One, Enter Sadman, dll, termasuk beberapa karya ROXX sendiri. Lagu "Perang" yang pertama kali bergenderang. “Kali ini gw mau bawain lagu ST13. Udah pasti sial tuh!” celetuk Jaya. Gitaris gondrong ikal ini memang paling banyak ngebanyol. Namun, cara interkasi seperti itu membuat keselarasan antara pemain dengan pengunjung. Malah, timpalan celetuk dari penonton membuat acara metal seperti acara lenong.

Pada tribut Metallica kali ini, ROXX menampilkan vokalis tamu, Arian. Walau memainkan 2 lagu, rasanya bukan pilihan yang tepat mengingat karakter vokalis SERINGAI itu yang middle growl. Namun euforia crowds semakin liar merangsek ke depan panggung saat "Seek & Destroy" dimulai. Di lagu selanjutnya, "Master of Puppets" Arian bernyanyi tak matching dengan irama lagunya, seperti terlambat. Mungkin sudah mabuk berat. Howly shhhit! Arian akhirnya jakpot alias muntah di panggung setelah menenggak alkohol. “Wah, nasi padang tadi siang keluar lagi,” sangkalnya dengan terkekeh.

Beberapa orang (pria & wanita) pun seliweran naik ke panggung sambil membawa jenis alkohol seleranya masing-masing, lalu mencekoki seluruh personil Roxx yang sedang tampil. Jaya menyebut mereka "baby sister". Akhirnya, seluruh personil Roxx mabuk. Rasa tak kuasa berdiri tegap, vokalis Trison harus bernyanyi sambil bersandar ke tiang mic. “Orang Batak bisa mabok?! Apalagi gw yang Jawa,” sindir dramer Raiden personil ROXX yang paling muda, mungkin setengah dari dari umur personil yang lain. But, the show must go on! Dan kalian sudah bisa membayangkan kelanjutannya?

Sebenarnya, keesokan hari, majalah Rolling Stone Indonesia mengadakan momen penobatan “150 Lagu Terbaik Sepanjang Masa”. Dan salah satu lagu ROXX, "Rock Bergema" terpilih di urutan ke-15. Sebagai pencipta lagu, Trison masih merasa keheranan. “Jujur aja man, sebenarnya lagu itu buat gw cemen… Cemen. Ngga tau kenapa Rolling Stone milih jadi lagu terbaik”, ungkap Trison yang kondisinya semakin gontai.

Malam semakin larut, personil ROXX semakin banyak minum – dan terus dicekoki para "baby sister" –, pertunjukan terus berjalan meski acak-acakan, namun acara tetap menyenangkan.

Report & photo: Jurnallica

 REVIEW

"Tur Macbeth x Crooz 5 Kota"

Puluhan jam di jalan, 5 kota, 90 orang di dalam 2 tour bus, 11 band (Killed By Butterfly, Sweet As Revenge, Friends Of Mine, Incarnation, Thirteen, Silent Farewell, Jolly Jumper, Killing Me Inside, Cemetery Dance Club, Nymphea, dan Yes It’s You) dan ribuan penonton ditambah dengan yel-yel "RAA-REE-ROO" yang diteriakkan sebagai penyemangat selama perjalanan menjadi bagian dan kenangan dari rangkaian tur Macbeth x Crooz 2009.

Diawali dari show di Tambun pada 13 November 2009. Walaupun hari itu hujan turun dengan derasnya, namun tak menyurutkan minat penonton untuk tetap datang ke GOR Tambun Selatan. Hampir 2000 orang memadati lokasi tersebut. Show kedua diadakan di Viky Sianipar Music Center pada Sabtu, 14 November 2009. Dua panggung besar berformat indoor dan outdoor dengan menampilkan 40 band yang tampil pada hari itu, mampu menarik sekitar 2000 orang.

Bandung menjadi tujuan selanjutnya, show hari itu dimulai agak malam. Ada sedikit kekhawatiran karena hari itu adalah hari Minggu dan semua orang akan sibuk beraktivitas esok harinya. Tetapi ratusan orang yang hadir cukup memanaskan suasana di dalam Score, Ciwalk. Show di Bandung mengakhiri rangkaian pertama dari tour Macbeth x Crooz 2009.

Rombongan berangkat lagi menuju Surabaya pada Jumat, 20 November 2009 untuk melanjutkan rangkaian tur. Tiba di Surabaya esok paginya, dan bersiap untuk show di sore hari. Acara hari itu dimulai pada pukul 6 petang, molor 2 jam dari jadwal. Hampir 10.000 orang nampak memadati Lapangan Basuki Rahmat, Surabaya. Didukung dengan panggung yang megah dan tata suara yang dahsyat, band-band yang tampil sukses menghibur semua yang datang.

Sayangnya, acara di hari itu sempat terkotori dengan ulah penonton bermental bonek yang merampas atribut dari personil band dan juga kru. Molornya acara juga mengakibatkan Killed By Butterfly dan Pee Wee Gaskins gagal tampil. Polisi harus menghentikan acara karena waktu yang sudah habis. Terlepas dari hal-hal yang kurang berkenan tersebut, panitia Surabaya sudah berusaha dengan maksimal. Salut!

Esok siang, rombongan tur berangkat menuju Bali. Show selanjutnya diadakan di Hardrock Cafe, Bali pada Senin, 23 November 2009. Lebih dari 500 orang hadir dan ikut bersenang-senang pada show terakhir tersebut. Ditutup dengan sajian Bali Juice dan sesi berenang di pantai Kuta jam 3 dini hari.

Akhirnya, selesai sudah rangkaian Macbeth x Crooz Tour 2009. RAA-REE-ROO... Sampai jumpa tahun depan!

 

Klik gambar untuk perbesar

 

Report: Febri | Photo: IST

 ABOUT

Irvan "Rotor" Sembiring

"Ngga Mau Bikin Album Nasyid/Kasidah"

 

Nama Irvan "Rotor" Sembiring mungkin sudah tidak asing lagi bagi metalheads lawas. Dia adalah mantan musisi metal yang kini menjadi da'i. Setelah merasa mendapat hidayah, sekarang Irvan sibuk dengan kegiatan dakwahnya dan meninggalkan dunia hingar-bingar. Namun di sela-sela aktivitasnya, ia pun juga beredar dalam jejaring sosial dunia maya, facebook – dengan mengupload foto rocker bin gondrongnya jaman dulu [lihat di samping-red].

 

Irvan Sembiring adalah vokalis/gitar dari grup metal pionir Indonesia, ROTOR. Dengan kondisinya sekarang, banyak yang menanyakan kenapa ia ngga bikin musik bernuansa Islam? Namun, dengan lantang ia membantah – disinyalir dari facebooknya; "Islam 'ga kenal musik!!! Musik itu dari setan, sebagaimana internet itu dari Dajjal...musuh kaum muslimin!"

 

Baginya, justru fasilitas 'senjata musuh' itu ia manfaatkan sebagai sarana dakwahnya. Rencananya, rocker taubat ini sedang merancang album baru. Hanya saja bukan album reliji tipikal ala ustad masa kini. "Yang jelas bukan nasyid or kasidah", jelasnya.

 

Tapi, kalau musik dari setan, kenapa masih mau bikin album juga? Apa isi albumnya bukan musik??? Yahh...pokoknya ditunggu deh bang album barunya.

 

Posted: Jurnallica (30/11) | photo: IRS doc.

 UPCOMING

MXPX All Stars

"Konser MXPX Bersama Para Pentolan Pop-Punk"

Menjelang Natal 2009, MXPX telah mempersiapkan 'kado' buat kalian berupa album berisi 12 lagu, “Punk Rawk Christmas” yang mulai diluncurkan besok (1 Desember). Album ini adalah 'album liburan' pertama kali dari ben yang disebut-sebut "christian punk rock" itu. Padahal, medio November lalu MXPX baru saja merilis mini album baru, “Left Punk Coast” berisi 6 lagu.

Terhitung 2 minggu dari sekarang, grup asal Bremerton, Washington, Amerika Serikat ini rencananya akan tur (lagi) ke Indonesia pada 12 Desember di Dome Enhaii, Bandung. Sebelumnya, MXPX pernah konser di Jakarta awal 2008. Tapi ada yang spesial pada konser kali ini, MXPX tampil dengan formasi all stars. Maksudnya, line-up MXPX khusus tur Asia Tenggara ini terdari dari Mike Herrera (vokal & basis) yang didukung oleh musisi pop-punk dunia, yaitu Kris Roe (pendiri The ATARIS, yang belum lama ini juga tur ke Indonesia di Oktober 2009) pada gitar dan Chris Wilson (The SUMMER OBSESSION/ex-GOOD CHARLOTTE) pada dram.

Perlu ditekankan, formasi MXPX All Stars ini hanya tampil khusus untuk tur Asia Tenggara MXPX kali ini saja. Sesuai alasan frontman Mike, formasi sementara ini dilakukan berhubung dramer Yuri Ruley baru mempunyai bayi (lagi) dan gitaris Tom Wisniewski ingin menikmati masa liburannya.

Lagipula, kedua personil pendukung tersebut juga sedang mempersiap-kan album bersama bennya masing-masing. Roe dan The ATARIS dalam waktu dekat akan merilis album baru, "The Graveyard of the Atlantic". Begitupun Chris yang kembali ke studio untuk menggarap materi The Summer Obsession selanjutnya.

Konser MXPX All Stars di Bandung nanti juga turut dimeriahkan oleh ben-ben lokal, yaitu; BUCKSKIN BUGLE, DISCONNECTED, NUDIST ISLAND. Sebagai bocoran aja nih, selain membawakan lagu-lagu terbaru – termasuk lagu dari album cover "On the Cover II"  (2009) – MXPX juga akan memainkan beberapa lagu dari The ATARIS...wuoow!!! Kesempatan jarang datang dua kali. Jadi, kapan lagi bisa menyaksikan show yang benar-benar spesial ini?!

Posted: Jurnallica (30/11) | photo: MXPX doc.

 NEWS

"Mini Album Monster Lady GaGa"

 

Lady Gaga memang fenomenal! Meski penyanyi pendatang baru, ia berhasil merebut posisi puncak di berbagai chart dan meme-nangkan banyak penghargaan di beberapa negara.

 

Di Indonesia pun, ia mencetak sukses besar yang meraih penjualan "Double Platinum" (lebih dari 20.000 kopi) untuk debut albumnya "The Fame" (2008). Hebatnya lagi, predikat album ini diraih dalam jangka kurang dari 1 tahun!

 

Dalam waktu dekat ini, penyanyi yang memiliki nama lengkap Stefani Joanne Angelina Germanotta akan merilis mini album "The Fame Monster" yang berisi 8 lagu baru. Peredarannya dimulai dari Jepang pada 18 November 2009, lalu dilanjuti beberapa negara lainnya. Mini album ini rencananya dikemas dobel cd yang berbarengan rilis ulang album "The Fame". Bahkan, kemasan Super Deluxe Fame Monster yang akan rilis 15 Desember 2009 berbandrol $99.98 (+ 1 juta rupiah).

 

Sebagai single perdana EP ini, Lady Gaga telah membuat video-klip "Bad Romance". Dalam klip ini Gaga masih menebarkan pesonanya yang sensasional nan nyentrik. Single tersebut langsung menduduki posisi teratas di chart Kanada, juga masuk top ten di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Irlandia, Swedia, dll. Sedangkan untuk single selanjutnya telah dipilih "Telephone", yang mana di lagu ini Lady Gaga berduet dengan Beyonce.

 

Posted: Jurnallica | photo: IST

 LAUNCHING

Club Eighties

"Kembalinya Klub '80"

 

"Kayanya Cliff udah mulai mabok tuh?!" duga seorang teman yang membisiki saya. Entah sedang kondisi bawah sadar atau tabiatnya slengean, kelakuan gitaris Cliffton Rompies memang paling over saat launching album terbaru CLUB EIGHTIES. Mulai berlari-lari mengitari venue, melayani foto bareng dengan "clubbers" (sebutan fans CLUB EIGHTIES) padahal ia sedang bermain gitar di panggung – lalu membiarkan gitarnya mati sejenak – dan ulah lainnya dari kakak sang bassis Vincent Rompies.

Rabu malam di Planet Hollywood (25/11), CLUB EIGHTIES [selanjutnya disingkat C80-red] merayakan launching album kelimanya, “80 Kembali” yang dirilis label baru IVM Music. Event ini sekaligus momen selametan eksistensi grup jebolan IKJ yang kini berumur 11 tahun.

Beberapa tahun kebelakang C80 memang sempat vakum. Kesibukan masing-masing personilnya mengakibatkan nasib ben ini terlantarkan hingga ngga jelas juntrungnya mau kemana. Dramer Deddy Mahendra Desta (atau lebih familiar dipanggil Desta) dan basis Vincent lebih sering terlihat sebagai host dalam beberapa program televisi. Cliff juga sibuk sebagai penggarap video-klip. Begitupun dengan aktifitas vokalis Lembu Wiworo Jati atau Lembu dan keyboard Sukma Perdana Manaf aka Iyton.

Setelah diterjang kejenuhan yang luar biasa dalam bermusik, ultimasinya mereka berembuk untuk nge-ben kembali seperti dulu kala. “Baru 2 setengah tahun kami megang alat lagi,” ungkap Lembu. Bahkan kali ini mereka merasa lebih 'jujur' dalam bermusik tanpa prioritas konteks dagang untuk pasar industri musik. "Kalau cari penghasilan bisa cari di luar," terang Lembu melengkapi.

Acara dimulai jam 8 malam. Sekedar pemanasan, C80 memainkan 2 lagu dari album baru; “Terus Berjalan” dan “Tak Mungkin”. Selanjutnya, mereka menggelar konfrensi pers dengan para media sebagaimana formalnya. Apa yang tak hilang dari para personil C80 adalah sikap 'apa adanya' tanpa berlagak jaim (baca: jaga image). Terutama Desta dan Vincent yang paling ngocol membuat gelak tawa para pengunjung. Dan inilah elemen terpenting dari suguhan sebuah grup, yaitu FUN!

Selesai sesi tanya-jawab, show pun kembali dilanjutkan dengan riang gembira. Juga para personil C80 mengganti kostum ala senam seperti performance mereka terdahulu. Sekitar 90 menit kedepan C80 melantunkan materi-materi terbaru dan hits dari 4 album sebelumnya. Harusnya lagu "Gejolak Kaula Muda" menjadi pamungkas acara. Begitu settingan mereka untuk launching ini. Tapi encore di setiap pertunjukan lokal sepertinya sudah ketentuan. Setelah menambah beberapa lagu, akhirnya C80 menutup acara dengan mengulang hit single album baru, “Tak Mungkin”.

Meski rima lagu dikemas pop retro yang lembut, tema “Tak Mungkin” sebenarnya bermuatan serius mengenai isu patriarki. Simak penggalan liriknya; “Tak mungkin… Tak mungkin… Tak mungkin ku memukulmu/ Meski kau minta walau kau suruh, tak mungkin ku memukulmu/ Kau wanita untuk dicinta… Kau wanita untuk dipuja.”

Lagu yang sudah dibuat setahun lalu memang tak ada kaitannya dengan kasus Manohara seperti dituding banyak orang. Sepertinya C80 hanya menyampaikan apa yang di-lihat/rasa. Sebagai ben pop yang wara-wiri, sudah saatnya mereka menyampaikan pesan-pesan cerdas walau hidup ini memang tak luput dari kisah cinta.

Konfrensi pers Club Eighties di sela-sela launching "80 Kembali"

 

Posted & photo: Jurnallica (26/11)

 NEWS

OST. Sang Pemimpi

"Selusin Lagu Tentang Mimpi"

 

“Sang Pemimpi” adalah karya film terbaru Riri Reza yang merupakan sekuel dari “Laskar Pelangi”. Kesuksesan yang diraih “Laskar Pelangi” tak hanya pada filmnya saja, album soundtrack-nya pun turut melambung dengan first single dari NIDJI. Maka film kali ini juga diperlukan lagu-lagu sebagai soundtrack. Bagi Riri sepertinya film dan musik seperti satu-kesatuan. “Film saya selalu diiringi dengan musik”, tukas Riri pada konfrensi pers di Hard Rock cafe kemarin (23/11).

Ternyata mengumpulkan materi lagu dengan tema 'mimpi' tidaklah mudah. Puluhan demo yang sudah dirampung sejak Agustus 2009 dirasa belum ada yang tepat sebagai theme song oleh produser film & musik, Mira Lesmana. Hingga akhirnya terpilih grup GIGI dengan single yang sama dengan judul film.

Dalam album soundtrack yang berisi selusin lagu, Mira Lesmana juga menyewa hak pakai tembang lawas “Apatis” karya Ingrid Widjanarko yang diaransemen ulang oleh Ipang. Ternyata lagu yang pernah menjadi 'lagu tercantik' album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1978 ini memang lagu favorit Mira Lesmana.

Andrea Hirata selain sebagai penulis novel juga turut menyumbangkan satu karya tembangnya “Cinta Gila”, yang akhirnya dilantunkan oleh UNGU. Keterlibatan Andrea dalam menulis lagu adalah wujud totalitasnya pada film dari novelnya yang diterbitkan medio 2006. Awalnya, Andrea menyodorkan lagu tersebut ke Mira tanpa menyebut siapa pengarangnya. Namun Mira menyukai melodi dan liriknya yang 'nakal'. "Ngga nyangka kalau Andrea yang ciptain. Mungkin dia ngga pede ngasih demo lagu itu atau takut subyektif jika saya tahu dari awal itu lagu karangan dia.", jelas Mira yang dikutip dari pres rilis.

UNGU sendiri sebenarnya juga tidak pernah membawakan lagu orang lain di rekaman. Maka untuk menguatkan karakter UNGU, Pasha cs. sendiri yang membuat aransemen lagu tersebut. Lagu “Cinta Gila” sejatinya memang lagu melayu. Bahkan untuk versi yang lebih kental melayunya, juga dimasukkan dalam CD di urutan ke-13 sebagai bonus track.

Sambil menunggu layar lebar “Sang Pemimpi” yang mulai diluncurkan 17 Desember 2009, MILES Music & TRINITY OPTIMA Production lebih dulu merilis album soundtrack-nya pada 23 November 2009. Film ini juga diikutsertakan dalam “Jakarta International Film Festival 2009” dan “Festival Film Indonesia 2009” pada Desember nanti. Bahkan dengan yakinnya, Andrea menjamin kalau “Sang Pemimpi” tiga kali lipat lebih bagus dari “Laskar Pelangi”.

 

Daftar 12 lagu dalam album OST. Sang Pemimpi:

1. GIGI - Sang Pemimpi

2. Ipang - Apatis

3. UNGU - Cinta Gila

4. Claudia Sinaga - Ini Mimpiku

5. Jay Wijayanto - Rentak 106 (Pak Ketipung)

6. Ipang - Teruslah Bermimpi

7. Rendy - Zakiah Nurmala

8. SILENTIUM - Para Pemimpi

9. Bonita - Komidi Putar

10. Rendy - Fatwa Pujangga

11. Maudy, Rendy, Claudia - Mengejar Mimpi

12. NINEBALL – Tetaplah Berdiri

 

Posted: Jurnallica (24/11)

 UPCOMING

TOTAL CHAOS

"Riot City in Indonesia"

 

Sudah 2 dekade lamanya TOTAL CHAOS (TC) masih terus mengibarkan bendera punk rock. Unit street punk asal Pomona Valley, California, Amerika Serikat ini merupakan salah satu eksponen penting bagi punk movements di dunia, termasuk Indonesia. Pada masa awal rintisannya, Rob Chaos cs. bersama Jay Lee dari Refuse And Resist menjalankan beberapa organisasi seperti "United Valley Punks", "Orange County Peace Punks", juga event sosial "Food Not Bombs", serta mendukung "Big Mountain Indian Reservation" hingga membantu membuka "Los Angeles Anarchist Center".

Materi sosio-politikal dan isu anti-rasial yang diangkat dalam sebuah ben, tentu membuat mereka tidak mudah menjalankan tur. Cekalan dan halangan datang dari organisasi rasis nasional di setiap show mereka, ancamanan kematian, sampai-sampai album TC sempat di banned di Jepang. Namun, semua oposisi tersebut tetap tak mampu menyumpal TC untuk meneriakkan kebobrokan sistem & pemerintahan.

Eksistensi TC semakin mencuat lewat album "Pledge of Defiance" (2004) yang dirilis label punk terbesar di dunia (saat itu), EPITAPH Records. Album kedua TC ini juga disebut-sebut sebagai album TC paling heavy sekaligus kontroversial - mungkin sampai saat ini. Dan pastinya, singgel "Riot City" sudah lazim di kuping Mohican freaks dimanapun.

Hingga kini, TC tetap gigih membawa semangat resistensinya. Pada penghujung 2008, TC merilis album ke-8 "Avoid All Sides" yang berisi 13 lagu baru. Dan dalam rangka tur Asia-nya, formasi Rob Chaos (vokal), Shawn Smash (gitar, vokal), DeDe Gearhardt (bas), Steve Gearbox (dram) akan menginvasi Indonesia pada 13 Desember 2009 di Yon Armed, Cimahi, Bandung.

Tiga tahun lalu (2006), salah satu punk legendaris The EXPLOITED pernah menyambangi beberapa kota Indonesia dan tercatat sebagai punk shows terdahsyat. Namun, belakangan tahun ini punk events sepertinya nampak meredup. Maka, dengan adanya konser TC (dan satu-satunya di Bandung) setidaknya dapat merangsang kembali pasukan punk dalam liarnya arena pogo. Tidak tertinggal beberapa ben lokal (KEPARAT, MAWAR BERDURI, TCUKIMAY) juga turut menambah riuh perhelatan. Sebagai acara penutup tahun 2009, konser TC akan mencatat sejarah menjadi total punk show terdahsyat tahun ini.

Total Chaos telah tumbuh sebagai ben selama 20 tahun. Mereka sudah banyak melihat ben dalam scene datang dan pergi. Kini, tanpa peduli apa yang kamu jalani –entah itu pop punk, street punk, hardcore, straight edge, dan segala macam pelabelan– style musik TC coba mempersatukan semuanya dan kembali dalam satu scene, yaitu PUNK ROCK!!!

 

Diskografi:

·  Punk Invasion [Demo] (1991)

·  Nightmares [EP] (1992)

·  We are the Punx... (1993)

·  Pledge of Defiance (1994)

·  Patriotic Shock (1995)

·  Anthems from the Alleyway (1996)

·  In God We Kill (1999)

·  Punk Invasion (2001)

·  Freedom Kills (2003)

·  Avoid All Sides (2008)

 

Harga tiket: Presale Rp 65.000,- / On the spot Rp 125.000,- (Special offer: Presale + T-shirt Rp 115.000,-)

 

Posted: Jurnallica (11/11) | photo: Total Chaos doc.

 EXHIBITION

RETROSPECT "Henry Foundation’s video works 2000 - 2009"

Kamis, 22 Oktober 2009 @ RURU Gallery, Tebet - Jakarta

“The Video Show”

 

Sebagai pelengkap ekshibisi solo kedua dari Henry Foundation, "Copy-Paste Extraordinaire", ruangrupa mengadakan program video screening "Henry Foundation's video works 2000 - 2009" di tempat yang sama, RURU Gallery - Tebet (22/10). Program ini tak lain hanyalah pemutaran kompilasi video garapan Henry sejak 2000 sampai 2009, dimana Henry menjadi director dari video-video tersebut.

Pada beberapa lukisan Henry yang masih terpajang, mungkin saya memilih gambar dengan teks "The Video Show" sebagai representasi pameran kali ini - yang ternyata teks tersebut juga kopi paste dari salah satu poster Nam June Paik. Selain lukisan, Henry Foundation (yang kerap disapa "Batman") adalah artist yang intens berkarya dengan medium video. Mulai dari video musik, video art, video performance, hingga video instalasi.

Untuk beberapa video, Henry masih menerapkan elemen kopi-paste seperti klip NAIF (Dia Adalah Pusaka...) atau The BRANDALS (Lubang Labirin). Selebihnya adalah karya-karya video Henry yang pernah dilombakan - seperti video komedi untuk OK. Video - juga klip dari ben indie lokal. Setidaknya, saya juga sempat menyimak video awal The UPSTAIRS (Matraman dan Modern Bob) yang belum pernah saya lihat walau versi YouTube sekalipun. Ha!

Pemutaran video yang berdurasi 1 jam ini lebih didominasi video klip - termasuk video grup Henry sendiri yaitu, GOODNIGHT ELECTRIC - dan hanya dihadiri sekitar 20 orang pengunjung. Selepas itu tak ada kegiatan lain. Di depan RURU shop, Henry membuka lapakan untuk rilisan baru GOODNIGHT ELECTRIC format vinyl yang berisi 2 lagu (Interval dan We're Going to the Star), hasil 'oleh-oleh' dari salah satu label Jerman, Haus Der Kulturen Der Welt.

 

Posted: Jurnallica (23/10)

Page: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | More...