MENU

PERTARUNGAN BEN-BEN RAKSASA

DARI BEN HINGGA BED

KENAPA INDUSTRI RADIO & MUSIK SEKARANG MENYEBALKAN?
MUSIK SEBAGAI PEMICU KRITIK SOSIAL

HUJAN JANGAN MARAH


PAGE: | |

 

The BATTLE OF GIANTS

Rabu, 29 Juli 2009 @ Mario's Place, Gedung Menteng Huis lt.2, Jakarta – Indonesia

 

“Pertarungan Ben-ben Raksasa”

 

Berbanding tipis antara ben tribut dengan ben plagiat. Kenapa saya nyatakan demikian? Karena semuanya berusaha menjelma sesempurna mungkin dari ben-ben yang dipanutkan. Mulai dari fashion, performance, karakter vokal, atau apa saja yang melekat pada ben tersebut. Nilai kesempurnaan pun berada dalam kekhawatiran. Antara garis try to be atau wannabe. Namun, berhubung The BATTLE OF GIANTS adalah acara tribut, maka tak heran bila beberapa contoh di atas terjadi. Masing-masing ben bermutasi seperti ben-ben yang diidolakannya.

Belakangan ini acara tribut makin marak bermunculan. Namun inisiatif IRF (INDONESIAN ROCK FORUM) sebagai pengada acara cukup menarik. Karena mengumpulkan ben-ben legendaris. BESOK BUBAR mengawali dengan mengkover lagu-lagu NIRVANA. Namun di luar itu, trio grunge ini juga dikenal sebagai copycat ben mendiang Kurt Cobain. Itulah yang saya khawatirkan, karena sebagus apapun itu ben tapi kalau hanya meniru tak ada yang spesial. Bahkan dianggap tak bernilai layaknya barang imitasi. Namun seperti yang saya katakan, berhubung ini acara tribut jadi sah-sah aja.

Berbeda dengan LOCOMOTIVE, grup Ucok cs. ini malah lebih dikenal sebagai ben spesialisasi tembang-tembang GUN N ROSES. Vokalis bertubuh tambun itu mampu menyamai oktaf tinggi-nya Axl Rose. Namun di tahun ini LOCOMOTIVE merilis album penuh bertitel "Move On". Sedang yang lainnya ada; ORACLE yang mengkover METALLICA, MIRACLE yang mengkover DREAM THEATER, dan ASKOBAROCKS yang mengkover MR. BIG. Yeah, terakhir yang saya sebut ini permainannya cukup rapih sambil menunggu yang aslinya datang dalam festival rock Indonesia terbesar nanti, JAVA ROCKIN'LAND.

Sebenarnya sebagai ben tribut bukan berarti menjadi copycat. Setiap ben bisa mengemasnya dengan versi masing-masing. Sayangnya, kecenderungan 'meniru' masih berlaku pada umumnya, bahkan untuk ben kelas dunia sekalipun. Sebagaimana M. Shadows, vokalis AVENGED SEVENFOLD yang memiliki karakter serak & basah, malah terdengar seperti Bruce Dickinson saat dia bersama ben-nya mengkover "Flash of the Blade"-nya IRON MAIDEN. Lain hal MARILYN MANSON yang menggubah "KKK Took My Baby Away"-nya RAMONES, aransemennya dibuat berbeda dan menjadi sesuatu yang baru - meski terdengar aneh pada akhirnya.

Untuk menghindari kesan 'aneh' inilah tak banyak ben berani tampil beda walau kemasannya mengkover. Dan lagi, banyak acara tribut dipenuhi orang-orang yang ingin mendengarkan lagu-lagu kenangan mereka di masa lalu. Itu pertanda kalau penikmat musik acara tersebut terdiri dari orang-orang tua. Damn! Dan hal itu benar-benar terjadi di sini. Pengunjung yang hadir pun dipadati manusia-manusia "berumur". Kehadiran mereka sekedar bernostalijik belaka.

Ditambah lagi susunan bangku & kursi cafe yang tak bergeser. Tak memancing penonton untuk moshing dan sebagainya. Kecuali ORACLE dengan "Seacrh & Destroy" dan "Master of Puppets"-nya Metallica berhasil melakukan hal tersebut, bahkan yang cewe-cewe sekalipun.

Namun setidaknya, lewat event ini masih ada yang peduli dan melestarikan genre oldschool yang hampir punah termakan waktu ketika invasi genre baru makin merenggut selera musik masa kini.

 

Report & photo: Jurnallica

 

Dari Ben hingga Bad

(album-album esensial Michael Jackson)

 

1. Ben Motown (1972)

Menurut saya, inilah awal mula solo karir Michael Jackson (MJ) yang meraih sukses. Dengan suara bening, soulful, MJ mulai menggel ayut di kuping penikmat musik, terutama hit single perdananya tentang persahabat dengan tikus bernama “Ben”. Kenapa MJ meraih sukses di lagu ini? Karena seperti halnya Diana Ross, mentor sekaligus inspirasi utamanya, MJ tampil dalam warna pop yang ringan. Dia tidak mengimbuh dengan melisma meliuk-liuk ala penyanyi Afro American. Saat kita menyimak suara MJ, kita bahkan tak tahu lagi apakah yang bernyanyi berkulit hitam atau kulit putih. Dia mulai merebut simpati dunia di sini. Lagu "Ben" yang ditulis Donald Black dan Walter Scharf ini diangkat dalam film horor bertajuk "Willard" yang dibintangi aktor Ernest Borgnine dan Bruce Davidson.

 

2. Off the Wall (1979)

Inilah album breaktrough MJ, karena dia betul-betul mengubah image-nya dari penyanyi bocah yang polos menjadi manusia musik paling kreatif. Sarat inovasi. Bahkan album ini dianggap sebagai penyelamat musik disko yang di ambang keruntuhan akhir era 70-an. Di sini pula MJ mulai mengeksplorasi warna vokalnya jadi kian bergairah. Musiknya pun terlihat eklektik. Ada soft rock, funk, ballad, dan disko tentunya. Konstruksi sound yang dibangun jazzer yang kemudian lebih dikenal sebagai produser midas Quincy Jones lebih memperkukuh pesona MJ sebagai bintang yang sangat menjanjikan. Bayangkan di album ini terdapat begitu banyak komposisi dari pesohor musik pop seperti Paul McCartney, David Foster, Rod Temperton (mantan Heatwave), Carole Bayer Sager, hingga Stevie Wonder. “Don’t Stop Till You Get Enough” menjadi anthem lantai disko sejagad.

 

3. Thriller (1982)

Jika "Off  The Wall" merepakan sebuah sukses masif, maka "Thriller" melampaui segalanya. Bayangkan ketika album ini dirilis 1982, telah mengumpulkan hasil sebesar 40 juta dollar. Tujuh dari 9 lagu di album yang juga digarap Quincy Jones ini berhasil meraih peringkat Top Ten. Selain itu, dari album inilah MTV mulai membuka sekat rasialisme dalam tayangan video klip-nya. Dan MJ adalah artis kulit hitam pertama yang mejeng di MTV. Belum lagi beberapa surprising tercipta dengan munculnya beberapa cameo mulai dari Paul McCartney yang berduet dalam “The Girl is Mine” maupun gitaris rock yang mendonasikan solo gitarnya dalam “Beat It”. Belum lagi kemunculan aktor horor sebagai narator dalam lagu "Thriller". Gelar megastar bagi MJ mulai disematkan sejak sukses spekatuler yang diraih album ini.

 

4. Bad (1987)

Ini sebuah album paradok dari qua-musical MJ. Di satu sisi MJ membangun image seorang megastar secara luar biasa. Namun sesungguhnya kualitas lagu yang ditampilkan tak sefenomenal "Thriller". Quincy Jones sendiri mungkin terengah-engah mengikuti direksi musik yang diinginkan MJ. Di album ini MJ seolah memberi gula yang sangat banyak untuk “Man in the Mirror”. Atau lagu “Dirty Diana” yang ingin mengulang cameo rock ala "Beat It" dengan menggamit gitaris Steve Steven dari Billy Idol. MJ pun mengajak jagoan organ jazz Jimmy Smith yang memainkan Hammond B3 dalam lagu “Bad” yang dikemas dinamis. MJ seperti kerasukan akan gagasan yang liar dan hard. Dan ini mungkin lebih terasa jika menyimak direksi viodeo-video klipnya yang extravaganza. Imajinatif dan terasa wildly. Dan sejak menyimak album "Bad", saya tak pernah merasa tersentuh lagi dengan album-album MJ. Kenapa? Karena menurut saya, MJ mulai melakukan repetisi.

 

Words: Denny Sakrie | photo: IST

.

Kenapa Industri Radio & Musik Sekarang Menyebalkan?

 

Kita semua tau kalau industri musik sekarat, tapi kita juga tau kalau tak ada cara untuk menghentikan musik. Ini sebenarnya hanya mengalihkan pada industri. Kalian ingin tau apa yang orang pikirkan tentang industri musik?... Berikut sebuah video dokumenter mengenai hal di atas.

 

 

Klik gambar untuk video

Sumber: (milis)

.

SOCIAL URBAN ART FESTIVAL

Rabu, 22 April 2009 @ Audiroium AJB Bumiputera FISIP Universitas Indonesia, Depok

 

"Musik Sebagai Pemicu Kritik Sosial"

Musik adalah jendela dunia. Tak hanya nada-nada yang berhembus dari rongganya melainkan juga tema-tema yang disenandungnya. Bila medium seperti video/film menjagokan visualisasi, musik juga memiliki kekuatan yang berbeda, yaitu lirik. Dalam pengeksplorasian lirik mampu terbentang beragam wacana. Dari soalan problema hati sampai kritik sosial.

Himpunan Mahasiswa Sosiologi FISIP UI menyelenggarakan Social Urban Art Festival selama 4 hari untuk seluruh anak muda yang doyan mengkritik 'bukan hanya asal bicara'. Sebuah acara dimana bisa belajar menuang kritik melalui berbagai media seni, seperti: film, fotografi, musik, dan kartun.

Giliran di hari ke-3 terdapat sebuah talkshow mengenai musik sebagai sarana protes. Dalam talkshow tersebut turut mengundang jubir Cholil (vokalis Efek Rumah Kaca), Deny Sakrie (pengamat musik) serta moderator Wendy Putranto (Rolling Stone Indonesia). Selama 2 jam (lebih) pembicara membe-berkan pandangan musik Indonesia dari kacamata mereka masing-masing dan diakhiri sesi tanya-jawab. Tak luput ngalor-ngidul pun bergerumul jadi satu.

Namun wacana tersebut akan menjadi rancu bila berada di koridor industri musik. Pasalnya, industri musik tak mau ambil pusing mengenai tema-tema yang diangkat. (Malah yang bersifat kontroversi itu langsung dikesampingkan-red). Jadi, seprotes apapun yang diteriakan atau se-mellow apapun yang dilantunkan, yang industri inginkan adalah pasar yang bagus. Tentunya peran media sangat berpengaruh dalam hal ini. Miris memang.

Dilematisnya lagi, masyarakat di Indonesia dianggap masih banyak kurang aware akan musik. Yang penting enak didengar, udah itu aja. Titik. Belum banyak di antara mereka yang tertarik untuk menelaah pesan-pesan yang disampaikan musisinya. Atau mungkin sudah telanjur apatis karena temanya yang dianggap "itu-itu aja"?! Sepertinya halnya band Slank menyinggung soal korupsi di pemerintahan, namun para pekerja negara tersebut juga kurang apresiasif terhadap musik. "Kalo temen saya yang di DPR itu malah lebih banyak main perempuan", keluh Deny Sakrie.

Lain halnya Cholil dengan bandnya Efek Rumah Kaca yang memiliki strategi berbeda. Cholil lebih merancang musiknya lebih dulu, kemudian baru dibumbui lirik/pesan-nya. Yang terpenting bagaimana musiknya enak didengar dulu, nanti orang akan simak sendiri pesannya.

Bila kita menilik histori musik dunia justru ceritanya bertolak belakang dengan segala fenomena yang terjadi di dalam negeri. Lihat bagaimana kemunculan british punk rock, Sex Pistols dengan style yang urakan lebih mengedepankan pesan protes-nya. Bahkan secara musikal mereka juga menjadi olokan yang cuma memiliki jurus 3 kunci. Namun eksistensi Jhonny Rotten cs. tersebut sempat menjadi ancaman Ratu Inggris saat itu.

Kembali dari itu semua, kita harus bisa memahami & menghargai bahwa setiap musisi/band memiliki orientasi yang berbeda. Tapi setidaknya permusikan di Indonesia bisa menjadi angin segar bagi pendengarnya. Tak hanya bersifat menghibur tapi juga memiliki kadar membangun & menggugah kesadaran pada realitas sosial. Itupun kembali sejauh mana masyarakat sadar akan permusikan itu sendiri. Entah mulai kapan terwujudnya. Mungkin 10 tahun lagi atau 5 tahun lagi... Apa rasanya tidak terlalu lama? Bagaimana bila kita mulai dari sekarang?

 

(Report: Jurnallica | Photo: Dede)

.

HUJAN JANGAN MARAH

 

Urutan lagu terakhir di album pertama Efek Rumah Kaca (ERK) adalah “Desember”. Bila menyimak klip salah satu single-nya ini, footage suasana hujan mendominasi. Sepertinya kehadiran sang hujan memang ditunggu-tunggu. Dengan rindunya sang biduan melantunkan; “Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember”.

 

Bulan akhiran nama “-ber” memang rentan dengan musim basah, seperti Desember. Namun ironisnya, di album kedua ERK yang diturunkan bulan Desember, seperti ada yang mengingkari janji sebelumnya pada “Hujan Jangan Marah”, lewat alunan nada yang sama sendunya.

 

Tanpa perlu memilih, kedua single dari kedua album ERK tadi berhasil mencap identitasnya sebagai band tanda jaman. Kerinduan atau kegundahan akan datangnya hujan, kedua single ERK bisa merepresentasikannya tanpa mengenal waktu & tempat...kapan saja, dimana saja. Kami memang tak menolak turunnya hujan sebagai berkah. Namun, kami pun tak mengundang turunnya hujan sebagai musibah.

 

Sekarang bulan Januari, bukan Desember lagi, bukan bulan akhiran -ber lagi. Tapi hujan terus saja menangis hingga membasahi bumi pertiwi. Ada apa dengan hujan? Atau, hujan sedang marah?! Pasukan tetesan air dari udara begitu derasnya menginvasi dunia hingga daratan tak mampu menampung. Akhirnya, terjadilah banjir...

 

Lantai rumah yang harusnya bisa badan ini tempat merebah telah terhalang air, kolaborasi air langit dan kotoran darat menjilati setiap permukaan kami menapak, tak pelak setiap langkah kaki berjalan terdengar seperti mengobok air bak. Apalagi kami tak perlu melihat ibu mengangkat dasternya sampai ke lutut agar tak basah. Kenapa sampai hati sang hujan berbuat begini... Memang apa salah kami?

 

Alasan pun mencari-cari… Mungkin selokan air yang tersumbat, mungkin sampah terletak bukan pada tempatnya, mungkin penggundulan hutan yang terbiarkan, dan...segala macam ulah tangan manusia kami tuduhkan. Atau mungkin, sudah nasibnya bagi mereka yang tinggal di dataran rendah?

 

Ada pula yang menganjurkan agar kami banyak memohon ampun pada Sang Pencipta… Tapi, apa urusannya??? Kalau turunnya hujan atas komando tuhan, langsung saja kami salahkan segala bencana ini pada-Nya, tanpa perlu panjang mencari alasan logis. Tapi, bukankah Tuhan sudah terlindung dari sifat-Nya "Yang Maha Benar"?! Uuhhh...rasanya kami terlalu cepat untuk berburuk sangka. Nantinya, bukan rumah kami saja yang kotor, tapi hati ini pun turut kotor.

 

Ya sudahlah...percuma kami menyalahkan sana-sini. Tak perlu larut kami meratapi nasib, sedang air belum saja surut. Dengan rasa sabar kami terus menimba genangan air sambil hati berharap yang sama seperti biduan ERK di single terbarunya; “hujan jangan marah” (lagi)…

 

(Korban Banjir 2009)

Page: 1 | 2 | 3