Maher Zain "Live in Jakarta" Minggu,
9 Oktober 2011 @ Istora Senayan, Jakarta, Indonesia
"Semoga Berkah"
Dominasi wanita berjilbab (tidak seperti biasanya) memadati ruang
Istora Senayan malam itu (9/10). Acaranya bukanlah tabligh akbar
ataupun tahlilan massal, melainkan suatu jamaah yang ingin
menyaksikan konser Maher Zein. Meski hadir terkemas sebagai penyanyi
reliji, magnet pria tampan asal Swedia tersebut cukup dahsyat.
Tak banyak yang mengira apalagi menduga kalau turnya 3 kota di
Indonesia mendapat animo yang luar biasa. Jakarta adalah tempat terakhir dari rangkaian tur bertema “Konser Silaturahim
Untuk Indonesia” itu, setelah Bandung (6/10) dan Surabaya (8/10). Berkat single ‘Insha
Allah’ dari debutnya,
Zain langsung mendadak populer di tanah air. Bahkan klip lagu tersebut di YouTube terputar lebih dari
12 juta kali. Entah karena bumbu agama yang disenandungkan orang Bule,
jadi menumbuhkan simpati? Bagi kami, apapun genrenya jika sudah berkubang dalam industri hiburan
tetaplah orientasinya sewarna.
Zain memang tak seperti penyanyi reliji lainnya yang ingin terlihat soleh
dan sok suci dengan zahir sunah nabi. Secara visual, ia nampak elegan &
dandy dengan mengenakan kemeja, celana jins & topi. Tak
heran bila Zain juga diidolakan layaknya artis kebanyakan, mulai dari
gadis belia hingga ibu paro baya. Atau Zain adalah potret post-man
Muslim? Mereka yang bukan muhrim semoga
saja tidak tergolong zinah mata.
“Masya Allah! Masya Allah!” ucap Zain saat melihat reaksi audiens
setelah lagu pertama. Sepertinya bukan hanya Justin Bieber atau Bruno Mars yang
mampu membuat wanita histeris. Ia pun seperti memiliki kharisma
tersendiri. Dan kalau Istora
Senayan yang reguler dijadikan lokasi konser biasanya terbagi 2 kelas
penonton: Festival dan Tribun, pada konser
Zain yang digarap Sony Music Indonesia, Velvet Production, DNA ini terbagi
hingga 7 kelas penonton.
Yang juga tak biasa, dekor panggung pun dibangun ala Timur Tengah dengan
ornamen-ornamen layaknya mesjid. Sebelumnya, penyanyi sekalangan Irfan Makki tampil
sebagai opening act. Baik Makki atau Zain tak ubahnya dengan penyanyi reliji kebanyakan yang
bermuatan dakwah dan pesan bijak dalam bingkai Islam.
Shalawat serta salam pada Nabi pun disisipkan di sela-sela pertunjukan
bersama penonton
—yang
membuat konser ini jadi semi tahlilan. Sekitar satu jam, Zain melantunkan tembang-tembang dari debutnya,
seperti: ‘The Chosen One’, ‘I Believe’, ‘For the Rest of my Life’, dll
dengan ben pengiring yang dikomandoi Rindra (basis PADI) & Friends.
Penantian terbesar tentu pada lagu ‘Insha Allah’ yang
menghadirkan Fadly sebagai vokalis tamu. Sepertinya frontman PADI itu pun juga ingin terkesan soleh. Tapi,
melihat ia mengenakan jaket kulit (dengan dalaman kaos putih), celana jins dengan atasan songkok nasional jadi terkesan maksa dan begitu menggelikan.
Lebih buruk dari poster kabinet pemerintah yang berisi foto-foto
(katanya) wakil rakyat. Setelahnya,
konser pun ditutup lewat ‘Barokallah’ dan tanpa bonus sesi encore.
Yah! Semoga saja konser ini membawa berkah.
Walau kami tak pernah tau apakah Tuhan menyukai lagu.