GODBLESS "Rock Moment" Selasa,
14 Juni 2011 @ Hard Rock cafe, Jakarta, Indonesia
"Tuhan Memberkati
Rocker-rocker
Uzur"
Selalu
ada tempat bagi para legenda. Walau gaungnya pelan terkikis jaman, namun
nama besar tak kan pernah hilang. Dalam rangka selebrasi Hard Rock cafe
ke-40 tahun sedunia yang jatuh pada 14 Juni 2011, cabang Hard Rock cafe Jakarta menyelenggarakan show
khusus untuk ben rock tertua di Indonesia (atau mungkin di dunia?), GOD
BLESS.
Bicara God Bless tentu bicara sejarah rock tanah air. Selama 38 tahun malang melintang,
mengecap asam-garam-manis-pahit ben ini tetap berdiri tegak. God Bless
hari ini masih diperkuat oleh Achmad Albar (vokal), Donny Fattah (bas),
Ian Antono (gitar), Abadi Soesman (kibord), dan Yaya Moektio (dram).
Malam itu, seluruh karyawan HRC Jakarta mendadak kribo –tentunya
menggunakan wig. Meski terlihat nampak bodoh, hal tersebut
merupakan tanda tribut akan era kejayaan Gobless. Sedikit flashback,
rambut kribo yang dimiliki Albar pada tahun 70-an sempat menjadi ikon
God Bless.
Sebelum para rocker
gaek berjibaku, JIBRIEL lebih dulu ‘memanaskan’ acara. Kehadiran ben
rock anyir tersebut tak lain karena hampir seluruh personil Jibriel
adalah putra-putra dari members God Bless.
Setidaknya, ada alasan kenapa mereka bisa berdiri sejajar di atas
panggung.
Menuju jam 11 malam, God
Bless mulai unjuk gigi. Tanpa basa-basi, mereka langsung menghentakkan
single ‘N.A.T.O. (Not Action Talk Only)’ dari album terakhir “36
Tahun” (2009).
Mengingat usia (hampir) seluruh personilnya di atas kepala enam,
rocker-rocker gaek tersebut tetap bergaya kasual yang mengenakan kaos dan celana
panjang agar terkesan ‘muda’. “Kita kan masih ABG,” canda Albar
yang mengenakan kaos wajah Gene Simmons (KISS). Rockstar
yang pernah ‘berkhianat’ menjadi penyanyi dangdut itu tetap berkharisma dengan
vokalnya yang khas.
Usia boleh saja tua, tapi semangat mereka tak
kalah dengan ben anaknya. Tapi, acara
ini menjadi begitu segmented berkat faktor usia. Hard Rock malam
itu tak sesak oleh pengunjung.
Mungkin hanya segelintir fans loyal God Bless yang datang dengan umur yang tersisa.
Albar juga menyapa rekan-rekan musisi sejaman yang sempat hadir. “Oh!
Itu ada Oddie Agam, mantannya Sheila Madjid,” katanya.
Aroma-aroma nostaljia tentu tak lekang di acara-acara seperti ini.
Terbukti, penonton mulai bersingalong sampai di lagu ke-5, ‘Rumah
Kita’. “Lagu ini sebenarnya tentang urbanisasi dan
poligami,” cerita Albar yang mengisahkan seorang pria desa pergi
merantau ke kota dan akhirnya ‘mendua’.
Seperti tajuk acaranya, “Rock Moment”, ada sebuah lagu progresif yang
menjadi tembang wajib di setiap pertunjukan God Bless, yakni ‘Anak
Adam’ –lagu dari album “Cermin” (1980) yang orisinilnya berdurasi
12 menit. “Itu lagu padahal sudah dipotong-potong, dibelah-dibelah,
masih aja panjang,” singgung Albar sambil menatap Fattah sebagai
pencipta lagu.
Setelah
meliuk-liuk lewat komposisi lagu-lagu berdistorsi, perhelatan disejukan
dengan ‘Syair Kehidupan’ dan ‘Panggung Sandiwara’ –yang sebenarnya
makin membuat audiens membahana. Apa yang membuat show ini spesial
adalah God Bless menghadirkan sebuah lagu baru, ‘Dunia Gila’, yang belum
pernah dimainkan di panggung manapun. Materi tersebut seolah tahkik bahwa mereka adalah musisi-musisi yang terus berkarya walau telah uzur.
Terlepas akan ada album selanjutnya atau tidak, itu masih menjadi pertanyaan besar.
Pertunjukan terus melaju dengan hits lainnya, seperti: ‘Srigala
Jalanan’ dan ‘Bis Kota’. Sampai di pertengahan lagu ‘Semut Hitam’, God
Bless merangkul seluruh personil Jibriel ke atas panggung untuk
berkolaborasi.
Umur tak lagi menjadi pembatas di antara mereka. Gabungan ben ayah dengan anak itu terus berlanjut hingga lagu penutup,
‘Kehidupan’. Tentu
saja pemandangan ini bisa terjadi selama Tuhan masih memberkati.
01. N.A.T.O.
(Not Action Talk Only)
02. Bla...Bla...Bla...
03. Bara Timur
04. Menjilat Matahari
05. Rumah Kita
06. Biarkan Hijau
07. Prahara Timur Tengah
08. Anak Adam
09. Syair Kehidupan
10. Panggung Sandiwara 11. Dunia Gila
12. Srigala Jalanan
13. Bis Kota 14. Semut Hitam
15. Kehidupan