MENU

 UPCOMING

DJAKARTA ARTMOSPHERE

"Pemulihan Musik Indonesia"

 

Belakangan isu tentang menyelamatkan musik Indonesia ramai dibicarakan dari berbagai kalangan yang aktif dalam kegiatan bermusik. Beberapa inisiatif untuk mengembangkan atau mengenalkan musik Indonesia terdahulu kepada generasi sekarang muncul sebagai wacana yang terdengar sangat menarik.

Merilis ulang album-album klasik musisi era 60-70-an mungkin bisa menjadi pintu untuk membuka wawasan akan kaya-nya ragam musik Indonesia. Inisiatif tersebut sudah dilakukan beberapa records/label Internasional dengan cara profesional sebagai upaya penyelamatan dan katalogisasi musik  Indonesia lama. Ironis, ketika pihak luar ikut melestarikan musik Indonesia, sedangkan beberapa pihak di sini beranggapan pihak luar sedang mencari keuntungan dari musik Indonesia lama. Pertanyaannya, seberapa jauh kita menghargai musisi sendiri?

Djakarta Artmosphere sebagai media yang mengenalkan serta menyelaraskan musik Indonesia lama dengan yang sedang eksis saat ini berusaha mengingatkan kembali bahwa banyak hal belum terangkat yang kiranya dapat menginspirasi generasi sekarang demi berkembangnya musik Indonesia. Ide untuk me-restorasi musik Indonesia adalah ajakan untuk lebih mengenal sejarah musik Indonesia dan tentu saja merayakan keberagaman musik Indonesia.

Konsep Pagelaran Musik

Pagelaran musik terbagi atas dua panggung: panggung utama terletak di Tennis Indoor yang menampilkan konsep kolaborasi antara musisi Indonesia lintas generasi. Juga, yang spesial dari Djakarta Artmosphere tahun ini adalah hadirnya satu area baru di pelataran luar depan gedung Tennis Indoor dengan menampilkan beberapa ben yang sesuai dengan tema yang kami angkat. Beberapa ben yang direncanakan tampil di area luar adalah Teenage Death Star, White Shoes & The Couples Company, The Brandals, That’s Rockefeller!, dan Dialog Dini Hari.

 TAUTAN

Posted: Jurnallica