BANGKUTAMAN, ben folk-rock urbanisasi asal Indonesia akan
tampil di salah satu festival bergengsi di Singapura,
Baybeats Festival pada
19-21 Agustus 2011.
“Kami merasa bangga bisa bermain di ajang bergengsi ini,” ungkap gitaris
J. Irwin. Bersama kedua temannya di Bangkutaman –W. Nugroho (bas &
vokal) dan Dedyk. E. Nugroho (dram)–, ia mengaku terkejut ketika
dihubungi pihak Esplanade untuk berpartisipasi dalam Baybeats tahun ini.
“Kita sama sekali ngga mengira bisa dipilih menjadi salah satu wakil
Indonesia untuk bermain di sana,” tambahnya.
Di luar perkiraan, rupanya pihak organizer telah mengetahui
keberadaan Bangkutaman sejak 3 tahun lalu, saat mereka tampil di
showcase reguler bernama “Rockin Region” pada 15-17 Mei 2009 lampau
–karena tempat acara sama dengan lokasi Baybeats Festival, yakni
Esplanade, Theatres on the Bay. “Kita sama sekali nggak mengira efeknya
bisa sejauh ini. Padahal peristiwa itu sudah lama berlalu,” imbuh Dedyk.
Selain Bangkutaman, di ajang Baybeats 2011 ini juga tampil 2 ben tanah
air lainnya, yaitu: Hollywood Nobody dan Protocol Afro. Mereka akan
berjibaku dengan ben-ben dari negara kawasan Asia, seperti: Thailand,
Malaysia, Singapura, Cina, Filipina, dan Jepang. Di luar itu, tentu saja
akan ada aksi ben dari luar region Asia. Namun, sampai tulisan ini
diberitakan, belum ada konfirmasi tentang siapa saja ben luar Asia yang
akan tampil. Sekadar catatan, beberapa musisi alternatif/independen yang
pernah main di Baybeats Festival adalah The Lucksmiths (Australia),
Chris Collingwood [Fountains of Wayne] (USA), Anberlin (USA), Mixhell
[duo DJ Max Cavalera dari Sepultura dan Laima Layton] (Brazil), Handsome
Furs [proyek ben Dan Boeckner, frontman Wolf Parade] (Kanada),
dll.
Pada awalnya, festival musik yang diorganisir Esplanade sejak 2002 ini
hanya ditujukan bagi musisi-musisi indie-rock di seluruh Asia;
untuk saling mengekspos kualitas mereka, juga sebagai upaya untuk
mengembangkan industri musik. Kemudian, lebih dari sekedar indie-rock,
Baybeats berkembang menjadi festival (digelar selama 3 hari) yang
menampilkan musik alternatif, baik dari musisi lokal Singapura, Asia,
hingga seluruh dunia. Dan bukan hanya sebagai konser musik pada umumnya,
Baybeats juga berkembang menjadi melting pot dari banyak pelaku
industri musik alternatif; mulai dari perusahaan rekaman, desainer,
enterpreneur musik, media, dan semua yang berkaitan dengan industri ini.
“Ajang ini penting bagi kami untuk menunjukkan keberadaan musisi
independen tanah air di dunia internasional juga sebagai pintu untuk
membuka hubungan antar sesama pelaku industri musik secara lebih luas,”
tutup Wahyu.