ALL SHALL PERISH
[Live @ JakCloth 2011] Jumat,
9 Desember 2011 @ Parkir Timur Senayan, Jakarta, Indonesia
"Murah Bukan Berarti Murahan"
Bagaimana
perasaan sebuah ben yang datang dari belahan benua untuk live, namun
disediakan kualitas sound system yang jelek? Well, setidaknya begitulah
nasib naas yang dialami ALL SHALL PERISH saat berjibaku di JakCloth 2011
Hari Pertama (9/12). Sebagai headliner acara, ben deathcore
asal Oakland, California, Amerika tersebut tetap tampil maksimal walau dengan sound
yang minimal.
Terlepas rendahnya
pengadaan alat atau infrastruktur yang (dianggap) kurang memadai membuat
sang soundman memakan waktu terlalu lama karena sibuk mengutak-atik di
meja mixer.
Kami sempat mendengar saat soundman menghardik panitia yang coba menegurnya
karena kelamaan.
“Sound
is shit!!!”
katanya dengan nada gusar. Tak hanya itu, soundman plontos yang
berjanggut gondrong itu juga menyindir,
“Inikah
yang kalian punya?”.
Maka, dengan terpaksa pertunjukan pun harus berjalan dengan kualitas sound yang
tidak diinginkan —baik
untuk pemain ataupun penonton.
Persetan lah dengan
perkara sound! Grup yang terdiri dari Hernan "Eddie" Hermida (vokal),
Ben Orum (gitar & beking
vokal), Mike Tiner (bas), Francesco Artusato (gitar lead), &
Adam Pierce (dram) ini tampil liar membabi buta dengan serentetan
lagu dari ke-4 albumnya, seperti:
‘Wage
Slaves’,
‘Stabbing
to Purge Dissimulation’,
‘Procession
of Ashes’,
‘Gagged,
Bound, Shelved and Forgotten’,
‘There
is No Business to be Done on a Dead Planet’,‘Royalty
Into Exile’,
‘Eradication’, hingga ditutup
dengan
‘There
is Nothing Left’
dari album terbarunya
“This
is Where It Ends”
yang dirilis Juli lalu.
Namun, sekali lagi,
sungguh kami tidak bisa menggurat sok bijak akan rendahnya mutu sound
yang lebih mirip dengan panggung 17 Agustusan. Ben sekaliber ASP harus tampil dengan
sound butut adalah jauh dari kata layak. Sepanjang 60 menit
pertunjukan kami tidak merasakan kenyamanan sama sekali. Untungnya,
apreasiasi audiens tetap tinggi (walau hal tersebut tetap berpotensi
mood nonton jadi jelek). Bahkan crowds selain berheadbanging ria
juga riang melakukan wall of death besar pada lagu ‘Deconstruction’.
Mungkin pengunjung tak
terlalu banyak komplain mengingat harga tiket event JakCloth yang
sangat terjangkau (cuma Rp
15.000,-). Namun, tanpa mengurangi rasa hormat kepada pihak
penyelenggara,
demi menjaga reputasi, seharusnya menggelar acara
dengan harga murah bukan berarti menyuguhkan pertunjukan yang murahan.
Ah, setan!