Menyaksikan pertunjukan musik memang hampir tak jauh beda seperti
melihat kemasan. Banyak faktor mengapa pertunjukan artis/ben tidak
berlaku sama di setiap tempat/negara. Mulai dari perkara keterbatasan
properti hingga yang hal menyangkut normatif. Itulah mengapa banyak
orang saat menonton pertunjukan suatu artis terkadang tidak sesuai
ekpektasi dengan apa yang dilihat sebelumnya.
Ada banyak kejutan yang dijanjikan pada konser Alice Cooper di Jakarta
yang akan berlangsung pada 7 Oktober 2011. Pertunjukan-pertunjukan
rocker gaek yang kini berusia 63 tahun itu memang dikenal dengan
atraksi-atraksi yang teatrikal dan mengejutkan. Mulai dari properti
tempat pemancungan, podium, kostum-kostum horor, hingga membawa ular ke
atas panggung.
Tawar menawar dalam perwujudan riders pun (demi menampilkan show
yang spektakuler) sempat terjadi antara pihak ben dengan promoter.
“Sebenarnya ngga masalah, mau nampilin apa aja bisa asal ngga berbau
SARA,” terang Director FM Live, Ahmad Hussein saat konfrensi pers di
Hard Rock cafe (14/09)
—Konser
Cooper di Jakarta juga berkonjungsi dengan selebrasi Hard Rock cafe
Jakarta yang ke-19 tahun.
Pihak ben bahkan mencari tau apa hal apa yang sedang ramai di suatu
negara. Karena setiap negara memiliki karakter crowds tersendiri.
Sedang promoter menyorot tipikal penonton Indonesia lebih suka
memoto/merekam dengan ponselnya. “Indonesia kalau nonton konser malah
nunjukin BB aja, gituh. Kebanyakan. Gimana caranya itu ga terjadi? Ini
menarik banget. Jadi, orang (nanti nonton) bengong atau ngga histeris.”
Promoter sedikit membocorkan bahwa akan ada satu atraksi yang sangat
Indonesia sehingga bisa memikat emosi penonton. Seperti apakah atraksi
tersebut? Promoter hanya berkelakar, “Tahan cin! Tahan cin!”
Sebelum menyaksikan aksi spektakuler dari Alice Cooper di Jakarta,
konser dibuka oleh 2 ben lokal, yakni: AIRS (All Indonesian Rock Star)
dan The Painkillers.