Segala sesuatu yang dicap 'rebel' biasanya memang suka berontak, cari masalah, atau paling tidak merugikan orang lain. Tapi bagi kami, term 'rebel' yang dibawa-bawa band asal Jakarta ini jauh melampaui pernyataan mereka sendiri yang katanya hendak memberontak dari template standard pasar musik Indonesia.
Dengan dirilisnya Sail sebagai single anyar sebagai pemanasan album lewat situs Whiteboard Journal, Hightime Rebellion tampaknya hendak melengkapi asumsi publik tentang bagaimana mereka tancap gas dan 'berlayar' di antara dance dan funk dengan semangat petualangan musikalitas yang mereka gambarkan dengan naratif. Simak saja bait berkut:
We left the city lights
To a greener side
Travelled in the dark
Just to be lost
Semangat itu lantas dikuatkan lagi pada bridge rapuh menjelang akhir lagu:
Careless longing
Constant craving
Endless power
We’re in this together
Ditulis dengan diksi kuat dan dinyanyikan dengan sangat baik, vokal kompak Miyane Soemitro dan Rendy seperti hendak menyuarakan kebosanan sebuah generasi dan ramai-ramai memilih tersesat di petualangan baru untuk meninggalkan zona nyaman. Adakah ini tampak related dengan semangat 'rebel' mereka tadi terhadap musik mainstream negeri ini? Kami bisa saja berspekulasi.
Tapi sebelum kita berpusing-pusing ria dengan tema tak penting itu, yakinlah bahwa dengan mendengarkan track single di atas, Anda sudah ikut dalam petualangan tempo menggoda yang tak bisa ditolak tanpa sadar.
Happy sailing :)



